Penguatan Karakter Entrepreneur Dalam Pembelajaran IPS | Nur Rokhmah Cahyaningsih, S.Pd – Pengajar Mapel IPS di SMP Negeri I Bojongsari, Purbalingga

By: On: Dibaca: 118,699x
Penguatan Karakter Entrepreneur Dalam Pembelajaran IPS  | Nur Rokhmah Cahyaningsih, S.Pd – Pengajar Mapel IPS di SMP Negeri I Bojongsari, Purbalingga

Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini tak banyak mengalami perubahan yang signifikan, perekonomian global yang terus membaik juga tak banyak berpengaruh terhadap kondisi perekonomian dalam negeri.

Eko Nordiyansyah dalam metrotv.news.com, 9 November 2018 mengungkapkan bahwa nilai tukar rupiah masih melemah terhadap Dollar AS bahkan rupiah sekarang menembus nilai Rp14.687 per Dollar AS. Fenomena tersebut sangat memprihatinkan bagi kita semua belum lagi revolusi industri 4.0 sudah di depan mata. Indonesia harus siap menghadapinya.

Industri 4.0 ditandai dengan pemanfaatan kecerdasan buatan  yaitu internet, teknologi robot dan sensor serta teknologi percetakan tiga dimensi. Efek dari penerapan teknologi tersebut adalah meningkatnya efisensi produksi, terjadi peningkatan produktivitas, daya saing dan pengurangan tenaga kerja.

Indonesia pada tahun 2020 juga akan memasuki fase bonus demografi, di mana jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) lebih besar dibandingkan penduduk usia nonproduktif (Gilar Ramadhani dalam liputan6.com, 9 Oktober 2018). Salah satu bagian dari bonus demografi untuk Indonesia adalah generasi Z. Generasi Z merupakan generasi yang lahir dalam rentang antara 1995 hingga 2014 (Wikipedia). Generasi Z harus memiliki kemampuan belajar tinggi untuk mengikuti perubahan yang berlangsung cepat, terlebih bagi mereka yang ingin sukses.

Pola pikir generasi Z harus diubah jangan menggantungkan pendapatan dari bekerja sebagai karyawan tetapi harus bisa termotivasi untuk kreatif dan berbuat sesuatu yang benilai wirausaha. Proses untuk membuat generasi Z mempunyai kemampuan tersebut, dipengaruhi oleh kesiapan pemerintah dalam menyiapkan angkatan kerja yang berkualitas agar kelak generasi Z tidak menjadi pengangguran.

Pemerintah sudah melakukan penataan di bidang pendidikan yaitu dengan mengubah kurikulum KTSP 2006 menjadi kurikulum 2013 dengan tujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan masyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia.

Kurikulum 2013 memuat pendekatan scientific, yang lebih menekankan pada pembelajaran yang mengaktifkan siswa. Guru merencanakan dengan membuat skenario kemudian guru menjadi sutradara, siswa yang berperan sesuai karakter yang sudah ditentukan.

Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang tertuang dalam Perpres Nomor 87 Tahun 2017  juga sudah terintegrasi dalam kurikulum ini.  PPK merupakan program pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter siswa melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga sesuai dengan falsafah Pancasila.

Program penguatan pendidikan karakter sangat diperlukan karena di era sekarang semua orang dapat mengakses berita atau hal lain dari media internet dengan sangat mudahnya. Hal-hal negatif bisa saja ditiru oleh generasi muda apabila pendidikan karakter tidak disisipkan dalam pembelajaran.

Guru sebagai pelaku pendidikan harus mampu membimbing siswa dengan memadukan pembelajaran dan menyisipkan nilai-nilai karakter agar siswa bisa memahami materi sekaligus memiliki karakter yang baik sesuai dengan kompetensi yang diberikan.

Karakter yang dibutuhkan untuk menghadapi era revolusi industri 4.0 adalah entrepreneur (wirausaha). Karakter tersebut meliputi religius, percaya diri, santun, jujur, tanggung jawab, dan memiliki kreativitas yang tinggi.

Guru harus bisa menanamkan  entrepreneur supaya siswa memiliki jiwa kemandirian, mampu mengembangkan diri, terbuka dengan dunia luar, santun dalam bertutur kata dan kelak bisa membuka lapangan kerja sendiri. Generasi Z yang saat ini masih berstatus sebagai siswa, dituntut juga agar mampu mengikuti perkembangan teknologi terkini. Proses ini harus dilakukan sedini mungkin mulai dari tingkat pendidikan dasar yaitu tingkat SMP (Sekolah Menengah Pertama).

Dalam pembelajaran IPS SMP kelas VII semester 2 terdapat sebuah materi yaitu peran IPTEK dalam kegiatan ekonomi. Siswa diharapkan mampu memanfaatkan IPTEK dalam  kegiatan membuat, memakai maupun menjual produk. Ketika proses pembelajaran, guru harus mampu mengombinasikan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran menjadi sebuah tema.

Melalui tema ini, guru bisa mengembangkan Rencana Program Pembelajaran (RPP) dengan menyisipkan karakter yang mendukung proses pembelajaran misalnya karakter kreatif, jujur, santun dan bertanggung jawab. Guru kemudian memilih model pembelajaran yang tepat salah satunya yaitu project based learning melalui implementasi kewirausahaan.

Model pembelajaran project based learning melalui implementasi kewirausahaan merupakan model pembelajaran yang menggunakan kegiatan untuk mencapai kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan kemudian hasil akhir berupa produk nantinya akan dipasarkan dengan tujuan bisa menghasilkan keuntungan. Model pembelajaran ini dapat djadikan bahan uji kompetensi siswa dalam materi tertentu khususnya IPS.

Langkah-langkah dalam pembelajaran, pertama yaitu penentuan tema. Tema yang dipilih berupa pemanfaatan barang bekas. Barang bekas bisa dijadikan media karena siswa tidak membutuhkan modal yang besar. Hal ini sangat sesuai dengan prinsip ekonomi yaitu dengan pengorbanan sekecil-kecilnya untuk memperoleh hasil sebesar-besarnya. Guru harus bisa menumbuhkan karakter entrepreneur dengan memahamkan bahwa modal bukanlah yang utama tetapi tekad yang kuat untuk memulai adalah kunci utama kesuksesan.

Langkah kedua yaitu guru IPS dengan bantuan guru layanan TIK berkolaborasi membimbing siswa di laboratorium komputer untuk mencari data dalam merancang produk. Internet digunakan untuk melahirkan gagasan kreatif dalam pembuatan sebuah karya. Proses ini menjadi sebuah langkah awal supaya karakter entrepreneur bisa berkembang.

Langkah ketiga yaitu siswa memperkirakan harga jual dengan membuat neraca yang berisi modal yang sudah dikeluarkan ditambah dengan perkiraan laba. Siswa kemudian membuat label produk dan membuat selebaran. Selebaran berisi pemberitahuan akan diselenggarakan pameran hasil karya siswa. Selebaran harus menarik, dibuat secara kelompok menggunakan aplikasi MS Word.

Setelah jadi, selebaran diedarkan ke setiap kelas. Untuk melatih penjualan langsung, diselenggarakanlah pameran hasil karya dengan suasana layaknya pasar. Proses ini melatih siswa untuk saling bekerjasama, tawar menawar, santun dan saling bertukar ide kreatif supaya produk mereka laku.

Kegiatan promosi produk dilakukan juga dengan akun media sosial yaitu facebook dan instagram.

Siswa dilatih mengunduh dan membuat akun ini melalui handphone yang mereka miliki. Proses ini diharapkan membuka pikiran dan melatih siswa bahwa handphone dengan internetnya tidak hanya media bermain game dan berkomunikasi dengan teman, tetapi bisa digunakan untuk mempromosikan produk. Siswa bisa meminjam rekening dari orang tua untuk aktivitas jual beli. Kegiatan ini melatih penggunaan electronic money.

Model pembelajaran project based learning melalui implementasi kewirausahaan dalam pembelajaran IPS diharapkan mampu mewujudkan guru sebagai penggerak perubahan menuju Indonesia cerdas berkarakter menghadapi revolusi industri 4.0.Model pembelajaran ini tidak hanya bermaksud melakukan transfer of knowledge namun yang terpenting adalah transfer of value.

Harapannya siswa mampu memahami materi pembelajaran, mengikuti perkembangan IPTEK, dan  melahirkan generasi Z yang cerdas dengan karakter entrepreneur (wirausaha) tinggi.

Apabila karakter ini sudah mulai tumbuh di kalangan generasi muda, maka akan lahir generasi penerus dengan semangat baru, dapat berinovasi dan bisa bersaing menghadapi era revolusi industri 4.0 yang muncul ditengah-tengah pertumbuhan ekonomi negara yang belum stabil.

 

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!