Pengrajin Knalpot Diminta Ciptakan Merk Dagang Sendiri

By: On: Dibaca: dibaca 73.60Rbx
Pengrajin Knalpot Diminta Ciptakan Merk Dagang Sendiri

Kabupaten Purbalingga yang sudah cukup terkenal akan sentra kerajinan knalpot, masih menyisakan pekerjaan rumah yang harus dibenahi dalam memproduksi sistem pembuangan gas kendaraan ini. Salah satunya kebanyakan hasil produksi para pengrajin belum menggunakan merk dagang pribadi.

Menurut Penyuluh Perindustrian Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dinperindag) Purbalingga, Afit Kuswanto saat ini baru ada 10 pengrajin yang sudah memiliki hak merek dagang sendiri dari ratusan pengrajin knalpot di Purbalingga.

“Sisanya masih memproduksi knalpot dengan memberi label merek produsen terkenal luar negeri. Dikhawatirkan nanti bisa menjadi persoalan hukum oleh pemilik merek yang sebenarnya,” kata Afit, Jumat 2 Juni 2017 kepada Tabloid Elemen.

Seperti yang diketahui beberapa merek yang sering disematkan di knalpot-knalpot buatan Purbalingga diantaranya Akrapovic, Yoshimura, Leovince dan lainnya, dimana merek tersebut cukup bergengsi ditelinga para pecinta otomotif internasional. Padahal menurutnya knalpot buatan pengrajin di Purbalingga sudah cukup berkualitas dan saatnya menggunakan identitas diri atau merek hak paten sendiri.

Namun tak dapat dipungkiri, Afit mengakui bahwa pembuatan knalpot dengan penyematan merek hak orang lain itu justru mendongkrak penjualan para pengrajin knalpot. Hal ini membuktikan bahwa sesuai strategi demikian sebenarnya merupakan permintaan pasar.

Adapun menurut, Afit jika industri sudah memiliki hak paten merek sendiri akan mendapatkan beberapa keuntungan yang didapat. Diantaranya menjadi lebih leluasa masuk pasaran ekspor, sebab knalpot tersebut bukan lagi merek palsu.

“Ke depan akan sangat penting kalau punya merk sendiri, pertama memiliki legalitas merk terdaftar, kedua, sisi keamanan juga terjamin dalam pemasaran atau tidak rawan digugat karena tidak menyematkan merk lain yang sudah terdaftar, menghindari adanya klaim atau protes dari pemegang merk asli,” katanya.

Disamping itu, knalpot Purbalingga yang sudah diakui kualitasnya, ketika memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), maka produk-produk dari ASEAN akan dengan mudah dipasarkan di seluruh negara-negara ASEAN. “Kita dapat menjual produk-produk lokal ke luar negeri atau sebaliknya hanya dengan menggunakan website atau bahkan media sosial, tanpa khawatir lagi digugat,” katanya.

Selain soal keamanan gugatan, jika memiliki merk dagang sendiri juga akan mudah mendapatkan fasilitasi even pameran tingkat nasional. Bahkan juga mendapat fasilitasi lain seperti sertifikasi ISO, bantuan peralatan produksi, link pasar Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) dan lainnya.

Setiap tahun Dinperindag dan Dinkop UKM menganggarkan khusus untuk membantu pelaku industri untuk mematenkan merek dagang ke Dirjen Hak Kekayaan Intelektual Kemenkumham. Sayangnya, kata Afit tahun ini biaya administrasi pendaftaran naik menjadi Rp 2 juta per merek dari sebelumnya yang hanya Rp 800 per merek.

“Sehingga kami harus menseleksinya secara ketat. Untuk bantuan dari Pemprov hanya mendapat kuota 2 dan dari APBD II mendapat kuota 10 merek tahun ini,” paparnya. (Ganda Kurniawan)

 

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!