Pendidikan 1000 Hari Pertama Kehidupan Digelar Dindikbud Purbalingga

By: On: Dibaca: 5,740x
Pendidikan 1000 Hari Pertama Kehidupan Digelar Dindikbud Purbalingga

 

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Purbalingga mengadakan sosialisasi pentingnya pendidikan 1000 hari pertama kehidupan kepada ratusan pengelola Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang ada di Purbalingga, Selasa (9/10) di aula Jendral Soedirman Dindikbud Purbalingga. Acara tersebut terselenggara atas kerjasama antara Direktorat Pembinaan Keluarga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dan Dindikbud Kabupaten Purbalingga.

Dalam laporan singkatnya, Sekretaris Dindikbud Sri Kuncoro mengatakan, acara tersebut bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat khususnya yang bersinggungan di Desa untuk lebih mengenal pentingnya pendidikan 1000 hari pertama kehidupan. Memang dalam kesempatan tersebut tak hanya  para pengelola PAUD yang menjadi peserta namun juga para kepala Desa yang ada di Purbalingga.

“Acara pada hari ini bertujuan agar stake holder yang bersinggungan langsung denganmasyarakat Desa bisa mengetahui pentingnya pendidikan 1000 hari pertama kehidupan,” kata Sri Kuncoro.

Dalam sambutannya, Plt. Kepala Dindikbud Purbalingga, Subeno berujar, 1000 hari pertama tidak dihitung dari kelahiran. Subeno menjelaskan, 1000 hari pertama dihitung dari masa kandungan. Oleh karenanya, Subeno mengajak kepada yang hadir agar memperhatikan pendidikan 1000 hari pertama kehidupan bagi sang anak. Menurutnya, usia 22 bulan sudah bisa diukur kemampuan akademiknya.

“Usia 22 bulan kita sudah tahu kira-kira si anak ketika dewasa kecerdasannya seperti apa. Oleh karena itu jangan sampai salah dalam mendidik karena masa-masa itu akan menentukan kehidupan seseorang,” ujar Subeno.

Subeno menekankan ada beberapa fase bagi anak dalam bertumbuh kembang. Saat usia 24 bulan, ada 8 fase yang tak boleh dilewatkan orang tua dalam mendidiknya anaknya. Subeno berpesan kepada hadirin untuk selalu memantau perkembangan anak hingga usia 6 tahun karena usia-usia tersebut merupakan usia emas bagi seseorang.

“Pendidikan pertama tentu saja dari orang tua. Tanamkan pendidikan karakter yang kuat. Jangan sampai ketika Indonesia menghadapi bonus demografi, mereka tidak punya karakter kuat. Akademik penting namun jika anak kita pintar tapi korup buat apa,” tandasnya.

Pemateri dari Direktorat Jendral Pembinaan Keluarga, Kristiani menuturkan, pendidikan 1000 hari pertama kehidupan tidak selalu tentang akademik. Hal itu juga bisa dilihat dari pengetahuan akan kesehatan. Menurutnya, rendahnya pengetahuan mengenai kesehatan di masyarakat bisa berakibt pada terganggunya tumbuh kembang anak. Dia mencontoh stunting sebagai akibat dari rendahnya pengetahuan tentang kesehatan khususnya pada 1000 hari pertama kehidupan.

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!