Pendakian Gunung Slamet Segera Dibuka Kembali

By: On: Dibaca: dibaca 95.18Rbx
Pendakian Gunung Slamet Segera Dibuka Kembali

petugas Dinbudparpora memantau pos pendakian

PURBALINGGA Pendakian ke puncak Gunung Slamet (3.428 m dpl) melalui jalur pendakian Dukuh Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Purbalingga, akan segera dibuka kembali. Pembukaan ini menyusul pemberitahuan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM (Energi dan Sumberdaya Mineral) yang menyatakan status Gunung Slamet diturunkan dari level II (Waspada) ke Level I (Normal) mulai tanggal 8 September 2015 pukul 17.00 WIB.

Kami telah menerima pemberitahuan lisan melalui kontak telepon dengan Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Slamet PVMBG Pemalang, Sudrajat, yang menyatakan status Gunung Slamet sudah normal. Setelah ada pemberitahuan resmi melalui surat, tentu kami akan membuka kembali jalur pendakian ke Gunung Slamet, kata Kepala Bidang Pariwisata Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Dinbudparpora) Purbalingga (Dinbudparpora) Purbalingga, Ir Prayitno, M.Si, yang dihubungi, Selasa (8/9) malam.

Dikatakan Prayitno, dengan pembukaan pendakian ke gunung Slamet, pihaknya akan menempatkan kembali satu orang petugas di pos Bambangan. Petugas sebelumnya yang sudah berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) memilih mengundurkan diri dan menekuni usaha sendiri di Pekalongan. Sejak 1 April 2015, seorang petugas kami di Pos Bambangan mengundurkan diri dari PNS. Untuk sementara, pemantauan dilakukan oleh karyawan di Obyek Wisata Goa Lawa. Jika sudah dibuka kembali, kami akan menempatkan satu orang untuk memberikan pelayanan kepada para pendaki yang hendak ke puncak Gunung Slamet, kata Prayitno.

Diakui Prayitno, animo untuk melakukan pendakian ke Gunung Slamet sangat besar. Sejak peringatan HUT RI bulan Agustus lalu, banyak pendaki yang berdatangan ke pos Bambangan. Karena statusnya masih waspada, maka pihak Dinbudparpora selaku pengelola pos pendakian Bambangan, tidak mengijinkan mereka untuk mendaki. Saat itu, kami tidak berani mengambil resiko untuk mengijinkan pendakian, kami tetap mengacu pada himbauan PVMBG demi keselamatan para pendaki, kata Prayitno.

Prayitno mengungkapkan, dampak penutupan itu secara ekonomi tidak saja hanya pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) saja, namun aktivitas ekonomi warga yang mengandalkan berjualan dari para pendaki juga tidak mendapat penghasilan apapun. Biasanya, kedatangan para pendaki atau wisatawan akan membuat warung makan di sekitar pos Bambangan ramai. Begitu pula dengan penitipan kendaraan sepeda motor atau mobil. Praktis, warga yang biasanya berjualan makanan, sudah hampir satu tahun lebih tutup dan memilih untuk bertani dan sebagian lainnya bekerja serabutan, ujarnya.

Dijelaskan Prayitno, pendakianGunungSlametmulaiditutuppada 10 Maret 2014. Saat itu PVMBG menaikan status gunungdari Level I (normal) ke level II (Waspada). Kemudian pada 30 April 2014 statusgunungnaik menjadi Level III (Siaga), dan pada 12 Mei 2014 diturunkan kembali menjadi Level II. Lagi-lagi pada 12 Agustus 2014 tingkat aktivitasGunungSlametdinaikan kembali menjadi Level III. StatusGunungSlametkembali ke Level II (Waspada) mulai 5 Januari 2015 hingga saat ini.

Dengan penutupan sejak Maret 2014, praktis target PAD tahun itu sebesar 10 juta tidak terpenuhi. Sejak Januari 2014 hingga hari penutupan 10 Maret 2014, hanya mendapat pendapatan Rp. 3.424.000,-. atau setara dengan sekitar 856 pendaki yang naik para periode itu. Sementara target Rp 14 juta untuk tahun 2015 ini juga belum satu rupiahpun ada pemasukan, katanya

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!