Penabuh Calung dari Jepang Kolaborasi dengan Kesenian Langka di Purbalingga

By: On: Dibaca: 13,214x
Penabuh Calung dari Jepang Kolaborasi dengan Kesenian Langka di Purbalingga
Grup calung Kuyu-kuyu dari Tokyo Jepang tampil dalam acara Apresiasi Seni di Pendopo Dipokusumo Kabupaten Purbalingga

Ketukan nada dari alat perkusi kayu dan bambu mengalun siang itu. Melodi dan ketukan ritmis yang keluar dari seni Calung Banyumasan ini membuat ratusan pasang mata terkagum-kagum. Bukan karena keasingan permainannya, tapi para pemainnyalah yang menyedot perhatian.

Tak seperti biasanya seni Calung dimainkan oleh masyarakat lokal Purbalingga. Kali ini calung justru dimainkan oleh tangan-tangan terampil dan penuh penghayatan dari warga Jepang. Dua lagu Eling-Eling dan Ricik-ricik Banyumasan tuntas ditabuhnya di hadapan audiens dari guru-guru seni sekolah se-Purbalingga ini.

Grup Calung Kulu-kulu dari Tokyo, Senin (26/3) sengaja diundang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Purbalingga dalam Apresiasi Seni di Pendopo Dipokusumo Kabupaten Purbalingga. Mereka terdiri dari 7 pemain, 6 diantaranya warga Jepang yakni Kayo Kimura, Akiko Makino, Kumiko Mimura, Masaki Fukuda, Tomoko Yanagawa, Keiko Murakami, Kyoko Yasunori dan Yumiko Kamei. Serta satu pemain dari Meksiko yakni Leon Gilberto.

Menariknya, mereka mempelajari seni Calung Banyumasan selama satu tahun dalam taraf benar-salah. Hingga akhirnya mampu memainkannya dengan baik dan persis sebagaimana musisi lokal memainkan.

“Mereka sangat hati-hati memperlakukan instrumen, itu yang membuat kita merasa kalah. Mereka bermain pelan-pelan tapi penuh penghayatan,” kata Darno Kartawi selaku Dosen dari ISI Surakarta yang juga membawa Grup Kulu-kulu ini.

Bagi mereka orang-orang Jepang, harmoni yang dikeluarkan dari alat musik calung ini sangat berkelas. Nuansa tradisionalnya mampu merelaksasi dan menghilangkan stres. Salah satu personil Kulu-kulu, Kayo Kimura menambahkan, calung tidak sekedar musik tapi seperti bisa bercerita.

“Musik calung seperti meceritakan kehidupan sehari-hari tradisional masyarakat,” ucap Kayo.

Selama ini dalam perjalanannya mencoba berbagai jenis musik tradisional Jawa, diakuinya ada perbedaan dalam musik Banyumasan meski sama-sama dari Jawa. Misalnya musik dari Surakarta, yang notabene bersumber keraton karakter pembawaannya lebih halus dan statis. Musik Banyumasan itu dinilai dinamis dan lebih ekspresif.

Kolaborasi Dengan Kesenian Krumpyung dan Angguk

Seni Krumpyung merupakan salah satu varian dari alat musik perkusi dari kayu dan bambu selain Calung dan Angklung. Kesenian Krumpyung, saat ini menjadi salah satu kesenian yang hampir Punah di Purbalingga

Darno Kartawi yang juga Dosen ISI Surakarta yang mengampu mata Musik Banyumasa ini, bercerita pada tahun 1970-an ia pernah menjumpai Krumpyung di Somagede, Banyumas. Namun sekarang sudah hilang dan sekarang satu-satunya yang bisa dijumpai adalah di Purbalingga tepatnya di Desa Langgar Kecamatan Kejobong.

“Krumpyung ini unik, sulit dan tidak ada yang meregenerasi. Teknis pembelajarannya belum ada wujud secara tertulis,” katanya.

Tak ubahnya dengan Calung, Krumpyung ada sedikit perbedaan teknis dalam memainkannya. Jika Calung sepenuh instrumennya dimainkan dengan cara dipukul, sedangkan Krumpyung salah satu instrumennya menggunakan Angklung yang dimainkan dengan cara digoyang.

Uniknya, untuk memainkan instrumen Angklung dilakukan oleh 3 orang sekaligus. Masing-masing berperan memainkan strata nada berbeda yang disebut Pengoblong, Penuthuk dan Penerus.Butuh waktu puluhan tahun untuk belajar menselaraskan nada.

“Saya balajar dari bapak saya sejak tahun 1964, tahun 1985 baru mahir memainkannya,” kata Sulemi selaku Ketua Grup Krumpyung  Sri Rahayu Tresno Sejati ini.

Krumpyung dinilai sebagai representasi seniman dari wilayah tertentu, meski berasal dari Purbalingga, namun dinilai mengalir dari gaya wetanan khususnya Surakarta. Sebab karakter Angklung sendiri lebh enak dimainkan dengan tempo yang lamban.

Siang itu, Sulemi dan kawan-kawan mencoba membawakan gendhing Jineman Uler Kambang yang khas Surakarta dengan warga Jepang sebagai sindennya.

Merevitalisasi Kesenian Lokal yang Hampir Punah

Tahun ini Purbalingga banyak menyiapkan anggaran untuk membuktikan perhatiannya kepada seni budaya. Salah satunya, Pemerintah Kabupaten Purbalingga, melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) bersengkuyung merevitalisasi kesenial lokal yang hampir punah.

Selain seni Krumpyung, Dindikbud juga merevitalisasi seni Angguk dengan membangun wadah yang disebut Sanggar Citra Budaya. Angguk merupakan kesenian perpaduan antara musik dan tari yang bernapaskan Islami.

Ciri-ciri seni Angguk adalah gerakan penari berkarakter anggukan. Konon, anggukan merupakan bentuk penghormatan kaum muslim saat saling bertemu.

Alat musik untuk mengiringi tarian berupa rebana, bedug dan kendang. Sementara syair-syair yang dilantunkan diambil dari kitab Barzanji.

“Untuk merevitalisasi seni Angguk kami melakukannya sejak tahun 2013. Dulu banyak desa-desa yang metradisikan seni ini dalam pementasan. Sekarang sudah langka karena tidak ada regenerasi,” kata Kepala Seksi Kesenian dan Nilai Tradisi, Dindikbud Purbalingga, Rien Anggraeni Setya.

Saat merevitalisasi, Dindikbud menggunakan seni Angguk yang ada di Desa Kembangan Kecamatan Bukateja sebagai percontohan. Meski demikian, hasil revitalisasi tetap ditambah berbagai improvisasi, mengingat Angguk yang orisinal terkesan monoton dan membosankan. (ganda kurniawan)

 

 

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!