Pembelajaran IPA Dengan Pendekatan Konstruktivisme – Oleh: Tuti Riwayati, S.Pd.SD

By: On: Dibaca: 21,697x
Pembelajaran IPA Dengan Pendekatan Konstruktivisme – Oleh: Tuti Riwayati, S.Pd.SD

Pandangan banyak orang bahwa mengajar diasumsikan dengan transfer pengetahuan dari pikiran guru kepada siswa, ibarat menuangkan air ke dalam botol kosong. Padahal kenyataannya sebagai subjek dalam proses pembelajaran sebenarnya siswa sudah memiliki bekal pengetahuan.

Dalam pembelajaran IPA diharapkan guru menerapkan pendekatan yang dapat memberi kesempatan kepada siswa agar dapat mengaitkan materi baru ke materi yang sudah dipelajari sebelumnya, sehingga dapat dikatakan sebagai pembelajaran bermakna, belajar bermakna bermanfaat untuk memahami konsep.Untuk itu diharapkan agar guru selalu berusaha membantu siswa agar mereka dapat mencapai pemahaman yang sebaik-baiknya dengan memberi pengalaman konkret kepada siswa melalui pengamatan atau percobaan untuk memecahkan permasalahan IPA.

Mengapa ditekankan pada pembelajaran bermakna? sebab belajar adalah usaha mencari tahu dan menemukan makna atau pengertian. Contoh dalam mempelajari binatang maka mulai menyelidiki binatang, ada proses pemecahan masalah dan sebagainya. Siswa termotivasi dalam belajar jika pembelajaran itu bermakna dalam kehidupan siswa. Belajar tidak berhasil jika siswa melakukannya karena takut, hanya untuk menyenangkan hati orang tua atau guru. Belajar akan memberi hasil yang autentik jika melalui proses penyelidikan atau penemuan, dimulai dengan hasrat atau keinginan untuk dapat mencapai jawaban dari suatu permasalahan dan berlangsung dengan usaha eksperimental yang beraneka ragam guna memecahkan masalah yang harus dipelajari

Teori konstruktivisme menganjurkan adanya peran siswa aktif secara fisik maupun mental dalam proses pembelajaran. Pendekatan konstruktivisme merupakan pendekatan pembelajaran berpusat kepada siswa (student centered instructions), peran guru membantu siswa dalam menemukan fakta, konsep atau prinsip bagi diri siswa sendiri (Nur, 2000). Prinsip konstruktivisme adalah pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri baik secara personal maupun sosial. Pengetahuan tersebut diperoleh melalui aktivitas siswa untuk bernalar. Siswa berinteraksi dengan lingkungan menggunakan inderanya. Dengan melakukan penginderaan diharapkan siswa mampu mengkonstruksi gambaran objek atau fenomena alam.

Pendekatan konstruktivisme sangat sesuai diterapkan dalam pembelajaran IPA sebab dalam pembelajaran IPA, siswa akan berpartisipasi secara aktif dalam proses pembelajaran, siswa dapat mengembangkan kemampuan belajar mandiri, siswa mampu mengembangkan pengetahuannya sendiri, serta guru sebagai fasilitator, mediator dan manajer dalam proses pembelajaran.

Tahap-tahap kegiatan guru pada saat pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konstruktivisme:

  1. Eksplorasi, memberi kesempatan kepada siswa untuk terlibat secara aktif dalam pembelajaran dengan melakukan eksplorasi, misalnya dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan.
  2. Eksplanasi, berinteraksi dengan siswa untuk menggali ide-idenya. Membantu siswa menggunakan ide yang muncul dari kegiatan eksplorasi konsep dan pengertian yang dapat dipahami.
  3. Ekspansi, membantu siswa mengembangkan idenya melalui aktivitas fisik dan mentalnya dan mendorong terjadinya komunikasi melalui kerjasama dalam kelompok.
  4. Evaluasi, mengevaluasi konsep dengan menguji perubahan pada pikiran siswa dan penguasaan keterampilan proses ilmiah.

Dalam pembelajaran konstruktivisme siswa aktif menyusun sendiri konsep IPA struktur kognitifnya, dengan cara mengaitkan materi yang dipelajari dengan kehidupan nyata siswa melalui pengamatan dan percobaan. Peran guru sebagai fasilitator, sebagai model dalam pembelajaran melalui diskusi kelompok, diskusi klasikal, sehingga pembelajaran menjadi bermakna bagi siswa.

Pembelajaran konstruktivisme menuntut guru lebih kreatif dalam menciptakan pembelajaran yang inovatif. Kegiatan ini sangat perlu dan bahkan wajib digunakan di sekolah-sekolah dengan maksud terciptanya pembelajaran yang lebih bermakna bagi siswa.

Agar pembelajaran menjadi bermakna bagi siswa maka hendaknya guru dalam melakukan kegiatan pembelajaran dapat mengaitkan dengan situasi nyata dengan lingkungan sekitar siswa baik lingkungan sekolah ataupun lingkungan tempat tinggal siswa. (Penulis Guru Kelas VI SDN 3 Bojong)

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!