Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Gunung Slamet, Perlukah?”

By: On: Dibaca: dibaca 69.24Rbx
Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi  Gunung Slamet, Perlukah?”

Diskusi OSIS SMA/SMK se Purbalingga dan Pecinta Alam

Sekitar 100 pelajar SMA/SMK se Purbalingga mengikuti Diskusi Enam Bulanan yang diselenggarakan oleh SMA Negeri 1 Kutasari, Sabtu (18 November 2017).

Mereka terdiri dari perwakilan perangkat OSIS dan Pecinta Alam dari masing masing sekolah. Dalam diskusi tersebut, sengaja mengambil tema aktual, yakni “Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) Gunung Slamet, Perlukah?”

Kepala SMAN 1 Kutasari, Kuat Ristianto menuturkan bahwa pihak sekolah sengaja rutin menyelenggarakan diskusi enam bulanan. Tema yang diangkat seringkali adalah peristiwa yang sedang aktual baik di tingkat nasional maupun lokal.

“Kaitannya dengan PLTPB memang sedang ramai bahkan muncul pro dan kontra. Melalui diskusi ini kami harap siswa diberi pemahaman yang benar dari narasumber yang kredibel dan berimbang, tidak mengandalkan informasi liar yang sesat. Sengaja kami undang dari OSIS masing masing sekolah diharapkan mereka bisa menularkan pemahaman diskusi kali ini ke temannya atau kepada masyarakat,” ucapnya.

Kuat Ristianto menjelaskan OSIS SMA Negeri 1 Kutasari sebagai penyelenggara, mengundang sejumlah tokoh yang kredibel dan berimbang. Diantaranya Dekan Fakultas Biologi Unsoed Dr. Rer. Nat. Imam Widhiono MZ MS, Staf Balai Pengkajian Pengawasan Pengendalian Energi dan Sumber Daya Mineral (BP3ESDM) Wilayah Slamet Selatan Sigit Widiadi ST MT serta dari Komunitas Peduli Slamet, Dani Armanto.

Dalam diskusi, Imam Widhiono memaparkan dibangunnya PLTPB merupakan hal yg perlu dilakukan, asalkan memenuhi berbagai syarat yang matang. Tidak bisa dipungkiri, pembangunan PLTPB Gunung Slamet yang lokasinya ditargetkan di tengah hutan lindung ini menurutnya pasti membawa dampak negatif pada permulaannya. Sebab fungsi hutan lindung sendiri adalah menyimpan air dalam tanah, manakala terjadi penebangan jumlah pohon yang signifikan menurutnya air hujan tidak bisa ditampung lagi dalam tanah.

“Perlu adanya kajian yang pasti untuk memperkirakan apakah dampak negatif lebih kecil dibanding manfaatnya jangka panjang, atau sebaliknya. Sebenarnya kalau tidak ada hujan tidak masalah, tapi kenyataannya di lereng Gunung Slamet curah hujan cukup tinggi mencapai 5000 – 6000 mm per tahun. Tapi saya sebagai orang ekologi, apa iya tidak berdampak luncuran air yang sangat cepat atau erosi?. Pasti akan ada dampak di permulaannya,” katanya.

Hal senada juga dipaparkan Dani Armanto dari Komunitas Peduli Slamet mengemukakan bahwa rencana pembangunan PLTPB merupakan penjajahan gaya baru. “Mereka hanya bilang bahwa ini sudah dilakukan uji kelayakan ini itu oleh para ahli yang begelar ini itu. Hanya karena mereka bergelar lalu dokumen di stampel maka seolah olah dokumen itu sudah benar,” ungkapnya.

Padahal menurutnya dokumen hasil uji kelayakan pembangunan PLTPB di Gunung Slamet tersebut masih banyak kekurangan. Diantaranya tidak mencantumkan tentang adanya kemungkinan erosi, dan matinya mata air. “Hal di luar dugaan bisa saja terjadi. Seperti pengalaman di Dieng, seringkali sekali pengeboran Wellpad belum tentu langsung jadi harus mengebor sisi lain lagi sehingga perluasan penebangan hutan bisa di luar perkiraan. Belum lagi pembuatan akses jalan khusus untuk melintas kendaraan berat tentu harus dibuat senyaman mungkin dipastikan dapat merusak ekosistem yang ada,” paparnya.

Namun Staf BP3ESDM Wilayah Slamet Selatan, Sigit Widiadi ST MT mengemukakan, Indonesia setiap tahunnya memiliki kenaikan target pengembangan PLTPB. Pada periode tahun 2016 hingga 2020 setidaknya ada kenaikan pembangkit listrik hingga 1400 MW. “Hal ini karena setiap tahun terus terjadi kenaikan jumlah penduduk sehingga kebutuhan listrik meningkat,” terangnya.

Ia mengklaim penggunaan PLTPB lebih efisien dibanding penggunaan energi fosil (minyak dan batubara). Pada 100 MW kapasitas terpasang PLTPB sudah setara dengan penggunaan 680.000 liter minyak per hari.”Wilayah Kerja Pertambangan Panas Bumi Baturraden memiliki potensi cadangan tak terduga hingga 175 MW,” katanya.

Selain sebagai pembangkit listrik, PLTPB juga memiliki manfaat sampingan seperti yang dilakukan di daerah lain. Seperti sebagai pengeringan teh, pengeringan kopra, pemandian panas dan spa, wisata bahkan juga bisa untuk pembuatan gula semut.(ganda kurniawan)

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!