Paguyuban Mitra Usaha Purbalingga Targetkan Miliki Showroom Produk Konveksi

By: On: Dibaca: 13,373x
Paguyuban Mitra Usaha Purbalingga Targetkan Miliki Showroom Produk Konveksi

Merayakan hari jadi yang ke-6 Paguyuban (Konveksi) Mitra Usaha Purbalingga, Minggu (8/4) menyelenggarakan tasyakuran di salah satu rumah anggotanya di Desa Kemangkon. Dalam tasyakuran tersebut, mereka juga membahas agenda penting dan evaluasi dari agenda tahun lalu yang belum terlaksana.

Ketua Paguyuban Mitra Usaha, Susanto menuturkan salah satu agenda penting tahun ini adalah membukan sebuah shoowroom atau ruang pamer hasil karya pekerja konveksi ini. “Kami rencanannya akan membuka sekretariat paguyuban yang juga berfungsi sebagai shoowroom. Tujuannya agar paguyuban ini semakin dikenal oleh masyarakat,” katanya saat diwawancarai Lintas24.com.

Menurutnya sekretariat atau showroom  ini akan memamerkan aneka produk dari paguyuban. Diantaranya kemeja, kaos, disain sablon, bordir termasuk juga sepatu. Melalui sampel karya yang dipajang itu, harapannya calon pelanggan bisa memilih disain yang disukai, atau juga bisa menyerahkan disain yang dibuatnya sendiri untuk digarap paguyuban.

Selain membuka sekretariat/showroom, Paguyuban Mitra Usaha juga akan melegalkan organisasi sehingga memiliki status berbadan hukum. Susanto mengakui rencana ini sebenarnya sudah dicetuskan sejak tahun lalu, namun masih banyak kendala yang dihadapi.

“Kendala yang paling berarti adalah masalah dana untuk mengurusnya. Sejauh ini kami memang bisa tembus menerima borongan order dari pemerintah, namun itu masih lewat bendera orang lain yang memiliki badan hukum. Keinginan kami tahun ini bisa mandiri sehingga keuntungan yang didapat bisa lebih maksimal dan lebih leluasa untuk masuk ke akses pemerintah,” ujar bapak dua anak ini.

Anggota paguyuban ini terus bertambah setiap tahunnya. Tercatat tahun 2017 lalu ada 38 pelaku usaha konveksi yang tergabung. Sementara tahun ini sudah ada 45 anggota.

Dalam perjalanannya, Paguyuban Mitra Usaha juga membentuk sebuah koperasi simpan pinjam atau dana bergulir yang berasal dari anggota. Tidak hanya paguyuban secara organisasi saja yang akan berbadan hukum, Susanto bersama pengurus dan anggota juga akan mendaftarkan koperasi simpan pinjam ini agar memiliki status yang sama.

“Jika koperasi sudah berbadan hukum, nantinya bisa bisa mengajukan modal yang lebih besar lagi untuk bisa disirkulasikan. Keuntungan yang didapat bisa menjadi tambahan pendapatan bagi anggota paguyuban,” kata ayah dari Salma dan Bagus ini.

Kendala yang dihadapi dari koperasi simpan pinjam ini, kata Susanto adalah nominal aset keuangan yang ada. Modal keuangan yang dipersyaratkan minimal Rp 20 juta. Meski demikian pihaknya optimis tahun ini bisa tercapai.

Melalui kepengurusan yang baru dari paguyuban, Susanto berpesan agar anggota lebih kompak. “Jangan tanyakan apa yang paguyuban berikan kepada kita, tapi tanyakan apa yang bisa kita berikan untuk paguyuban” pungkasnya.(Ganda Kurniawan)

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!