Oemmah Paras : 2 Tahun Berkarya Dari Waktu Luang Ibu Rumah Tangga

By: On: Dibaca: 11,162x
Oemmah Paras : 2 Tahun Berkarya Dari Waktu Luang Ibu Rumah Tangga

Menjadi ibu rumah tangga, tidak sepantasnya waktu luang hanya digunakan untuk ngrumpi, atau membuang waktu dengan hal yang tidak bermanfaat. Akan tetapi isilah waktu luang dengan mewujudkan ide-ide kecil namun kreatif. Hal itulah yang menjadi motto Ketua Paguyuban Perajin Aksesoris (Paras) Purbalingga, Trias Saraswati.

Paras berdiri 2 tahun lalu tidak lebih sebagai langkah kecil 6 orang ibu rumah tangga yang memiliki minat yang sama untuk berkarya menciptakan aksesoris wanita. Kini kekompakan makin kokoh setelah berkembang menjadi 30 anggota.

“Awal kami berdiri tidak lain sebenarnya hasil belajar secara otodidak baik dari buku maupun di internet, pelatihan demi pelatihan juga rutin dilakukan kemudian di share di facebook sehingga sesama crafter banyak yang akhirnya bergabung,” kata perempuan yang akrab disapa Saras ini kepada Tabloid Elemen, Selasa (13/2).

Ratusan jenis karya aksesoris dihasilkan dari tangan ibu-ibu rumah tangga ini. Diantaranya icon, bros, kerudung sulam, macrame, gelang dan kalung ethnic, bunga stoking, decopage, dudukan lilin, tas batik sulam pita dan sebagainya. Tidak hanya itu, Paras juga menerima aneka hantaran pengantin, hand bucket pengantin, headpiece pengantin hingga wall decor hajatan. Harga yang dibanderolpun bervariasi, mulai dari Rp 5000 hingga Rp 400.000 per unitnya.

Semua sampel hasil kerajinan ini dapat dilihat di Shoowroom Paras yang terletak di Jl. Pelita No 29 RT 02 RW I Kelurahan Purbalingga Lor. Atau juga bisa dilihat di akun Instagram resmi Paras di @sarascraft. Paras juga menerima pesanan eceran ataupun grosir.

Ikon Souvenir Khas Purbalingga

Sekian lama usaha berjalan pastilah memiliki target yang ingin dituju. Saras mengaku, paguyubannya memiliki keinginan agar produk-produk kerajinannya bisa menjadi ikon souvenir khas Purbalingga. Diantara produknya yang telah dibuat salah satunya memiliki identitas khas Purbalingga, yaitu Tas Batik Sulam Pita.

“Dari tas ini, kami menggunakan bahan batik khas Purbalingga, sehingga kami juga bekerjasama dengan pengusaha batik. Dulu waktu Purbalingga sedang booming batu akik, kami juga sempat memproduksi bros batu akik. Sekarang kami juga masih menyediakannya. Kami harap suatu saat nanti ini bisa menjadi ikon souvenir khas Purbalingga,” tuturnya.

Perjalanan usaha aksesoris dan souvenir Paras memang tidak selamanya mulus. Paling tidak ada tantangan-tantangan yang harus dihadapi, misalnya persoalan mengenai bahan baku. Saras mengungkapkan ketersediaan bahan baku yang murah masih harus dicari di luar kota, atau setidaknya harus berbelanja secara online.

“Di Purbalinggapun juga sebenarnya tersedia bahannya hanya saja harganya cukup mahal, bahkan sampai 2 kali lipat dibanding di luar kota. Dengan membeli harga yang lebih rendah, setidaknya juga bisa menekan harga jual. Kecuali jika benar-benar mendesak kami baru membelinya di Purbalingga,” paparnya.

Dengan segudang pengalamannya, bak master kini anggota juga Paras sering diundang untuk mengisi workshop atau pelatihan. Misalnya oleh sekolah-sekolah, PKK atau khalayak umum lainnya. Melalui kegiatan berbagi ilmu itu, Saras mengaku tidak khawatir akan munculnya kompetitor-kompetitor baru.

“Kami tidak khawatir jika muncul banyak kompetitor, justru itu kami terdorong untuk berkembang dan membuat inovasi-inovasi baru. Dengan berbagi ilmu, bagi kami itu justru ilmu kami akan bertambah, dan Ishaallah berkahnya justru disitu,” ungkapnya. (Ganda Kurniawan)

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!