Musaanah, Tidur di Atas Makam Putrinya yang Jadi Korban Tabrak Lari

By: On: Dibaca: dibaca 6.77Rbx
Musaanah, Tidur di Atas Makam Putrinya yang Jadi Korban Tabrak Lari

Seorang Ibu bernama Musaanah (35) Warga Desa Mlaten RT 7 RW 3, Kecamatan Mijen, Demak menjadi buah bibir di tengah masyarakat dan media sosial setelah anak sulungnya, Arumsari Fitriyah (16), siswi MTs kelas IX, meninggal akibat tabrak lari dan dimakamkan Senin (1/4/2019) lalu.

Musaanah Seorang tidur di atas makam putrinya yang menjadi korban tabrak lari dan menjadi viral mengundang reaksi dari pihak keluarga.Berbagai cerita beredar di dunia maya terfokus pada ibu yang berbaring di pusara sang putri karena belum merelakan kepergiannya.

Wanita dua anak tersebut berbaring di pusara anaknya meskipun para pelayat dan anggota keluarga sudah meninggalkan kompleks pemakaman.

Badriyah (62), nenek korban membenarkan bahwa cucunya Arumsari memang menjadi korban tabrak lari saat berboncengan dengan temannya untuk menonton pertunjukan musik di Kudus. Sejak kecil cucunya tinggal di rumahnya, bukan di rumah ibunya yang berjarak sekitar 500 meter dari tempat tinggalnya.

Berita tentang Musaanah yang tidur di makam agaknya membuat keluarga sedikit terganggu, sehingga mengultimatum ibu korban agar berkunjung ke makam sesuai adat pada umumnya, jangan lagi tidur di makam.

Pernyataan Badriyah yang didukung oleh pihak keluarga menjadi sebuah titik terang bahwa depresi yang diderita oleh Musaanah, bukan akibat kematian putri sulungnya.Pernyataan terkait kondisi Musaanah juga disampaikan oleh pihak Pemerintah Desa yang diwakili oleh Salafuddin, Sekretaris Desa Mlaten, Kecamatan MIjen, Demak.

Menurutnya, masyarakat sudah lama mengetahui kalau Musaanah memang mengalami gangguan mental meski belum sepenuhnya parah. Pandangan matanya memang kosong, tetapi diajak berbincang-bincang masih menjawab secara lancar meskipun kadang di tengah pembicaraan ia tertawa cekikikan dan kadang terlihat ekspresi geram.

Menurut cerita Musaanah yang dikroscek juga oleh keterangan perangkat yang mendampingi, dirinya memang belum bisa menerima kalau anaknya meninggal secepat itu.

Apalagi, kematiannya akibat tabrak lari. Ia ingin pelakunya segera ditemukan.“Nyawa dibayar nyawa,” sungutnya dengan muka memerah dan suara geram.

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!