by

MUI: Unilever Harus Hentikan Kampanye LGBTQ+

Unilever diminta harus segera menghentikan kampanye pro- Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, dan Queer (LGBTQ+). Sebagai perusahaan besar, Unilever seharusnya dapat lebih bijak dalam meng ambil sikap.

“Lebih bermanfaat Unilever untuk mengalih fungsikan dana dukungan mereka untuk membantu menyembuh kan penyakit LGBT. Jika perusahaan tersebut memberi sokongan dana kepada LGBT, akan berbahaya bagi peradaban kehidupan,” ungkap Ketua Komisi Ekonomi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Azrul Tanjung

Azrul menegaskan, akan mengajak masyarakat untuk beralih pada produk lain jika Uni lever tak kunjung menghen tikan kampanye pro-LGBT. Gerakan tersebut akan melibatkan MUI bersama ormas-ormas Islam jika kampanye itu diteruskan.

“Saya selaku ketua komisi ekonomi MUI akan mengajak masyarakat berhenti menggunakan produk Unilever dan memboikot Unilever. Kita tidak berkeinginan untuk merusak bisnis Unilever, tapi kita imbau kepada Unilever bahwa LGBT adalah penyakit dan harus diobati bukan justru di dukung,” tegasnya.

Untuk diketahui, aksi protes ini berawal ketika Unilever satu perusahaan yang berbasis di Amsterdam, Belanda, resmi menyatakan diri berkomitmen mendukung gerakan LG BTQ+ pada 19 Juni lalu. Hal tersebut disampaikan melalui akun Instagram resmi.

Unilever juga membuka ke sempatan bisnis bagi LGBTQ+ sebagai bagian dari koalisi global. Selain itu, Unilever meminta Stonewall, lembaga amal untuk LGBTQ+, untuk mengaudit kebijakan dan tolok ukur bagaimana Unilever melanjutkan aksi ini.

“Kami berkomitmen untuk membuat rekan LGBTQ+ bangga karena kami bersama mereka. Karena itu, kami mengambil aksi dengan menandatangani Declaration of Amsterdam untuk memastikan setiap orang memiliki akses secara inklusif ke tempat kerja.”

Comment

Feed Berita