MODIFIKASI ALAT DALAM PEMBELAJARAN PENJASORKES

By: On: Dibaca: dibaca 788.30Rbx
MODIFIKASI ALAT DALAM PEMBELAJARAN PENJASORKES

 

Trisno Dhiantoro, S. Pd.

TRISNO

Dalam Undang-Undang RI. Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa tujuan Pendidikan Nasional adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggungjawab.

Pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan (penjasorkes) sebagai bagian integral dari pendidikan memiliki tugas yang unik yaitu menggunakan gerak sebagai media untuk membelajarkan siswa atau dengan kata lain Pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan (penjasorkes) merupakan pendidikan yang dilakukan melalui aktivitas fisik sebagai media utama untuk mencapai tujuan. Adapun tujuan Penjasorkes adalah :

  1. Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas jasmani dan olahraga yang terpilih.
  2. Meningkatkan pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik.
  3. Meningkatkan kemampuan dan keterampilan gerak dasar.
  4. Meletakkan landasan karakter moral yang kuat melalui internalisasi nilai-nilai yang terkandung di dalam pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan.
  5. Mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggungjawab, kerjasama, percaya diri dan demokratis.
  6. Mengembangkan keterampilan untuk menjaga keselamatan diri sendiri, orang lain dan lingkungan.
  7. Memahami konsep aktifitas jasmani dan olahraga di lingkungan yang bersih sebagai informasi untuk mencapai pertumbuhan fisik yang sempurna, pola hidup sehat dan kebugaran, terampil, serta memiliki sikap yang positif.

Bentuk-betuk aktivitas fisik yang lazim digunakan oleh siswa SMK, sesuai dengan muatan yang tercantum dalam kurikulum adalah bentuk gerakan-gerakan olahraga, sehingga pendidikan jasmani SMK memuat cabang-cabang olahraga seperti Sepak Bola, Bola Voli, Bola Basket, Soft ball, Atletik, Senam Alat/Lantai, Senam Irama, Renang dll.

Untuk mencapai tujuan tersebut, guru pendidikan jasmani harus dapat merancang dan melaksanakan pembelajaran pendidikan jasmani sesuai dengan tahap-tahap perkembangan dan karakteristik siswanya. Memodifikasi sarana dan prasarana merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan guru pendidikan jasmani SMK agar pembelajaran dapat dilaksanakan dengan baik sesuai dengan SK dan KD, serta pencapaian tujuan Penjasorkes itu sendiri. Oleh karena itu, memodifikasi sarana dan prasarana dalam proses belajar mengajar pendidikan jasmani sangatlah penting dilakukan.

Setiap rancangan yang akan dilaksanakan tentunya mengandung suatu maksud dan tujuan. Dalam hal ini Lutan (1988) menyatakan mengenai tujuan memodifikasi dalam pelajaran pendidikan jasmani yaitu agar :

  1. Siswa memperoleh kepuasan dalam mengikuti pelajaran,
  2. Meningkatkan kemungkinan keberhasilan dalam berpartisipasi, dan
  3. Siswa dapat melakukan pola gerak secara benar.

Pendekatan modifikasi ini dimaksudkan agar materi yang ada di dalam kurikulum dapat tersampaikan dan disajikan sesuai dengan tahap-tahap perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotor siswa, sehingga pembelajaran pendidikan jasmani di SMK dapat dilakukan dengan baik sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasarnya.

Pada kenyataannya masih banyak guru Penjasorkes yang enggan melakukan modifikasi alat dengan alasan sudah mempunyai alat yang standar. Sebagai contoh pada pembelajaran tolak peluru, karena sekolah sudah mempunyai peluru yang standar dan mencukupi jumlahnya maka pembelajaran tolak peluru tetap dilakukan dengan alat peluru yang standar tersebut.

Pertanyaannya adalah, apakah pembelajaran tersebut sudah sesuai dengan tujuan Penjasorkes? Apakah pembelajaran yang dilaksanakan sudah paikem? Jawabannya ada pada penilaian secara jujur pada diri kita masing-masing sebagai guru Penjasorkes.

Atau bahkan ada materi yang tidak disampaikan sama sekali dengan alasan tidak tersedianya peralatan. Sebagai contoh adalah materi soft ball. Banyak guru penjasorkes yang akhirnya tidak meyampaikan materi tersebut dengan alasan peralatan yang belum tersedia.

Padahal materi tersebut termasuk dalam olahraga permainan bola kecil yang seharusnya ada dalam silabus sekolah masing-masing, dan menjadi salah satu media untuk mencapai tujuan Pendidikan Nasional.

Berdasarkan uraian tersebut dan melihat kenyataan yang terjadi penulis mengajak guru Penjasorkes untuk melakukan modifikasi alat dalam melakukan proses belajar mengajar. Adapun beberapa modifikasi alat yang penulis bisa tawarkan adalah :

  • Peluru diganti dengan bola berat

Terbuat dari bola voli atau bola kaki yang sudah rusak (tidak dipakai karena berlubang/bocor) atau bola plastik yang biasa dipakai anak kecil untuk bermain sepak bola, diisi dengan pasir sebanyak dari volume bola. Pembuatan bola berat ini bisa dilakukan oleh siswa dan digunakan sebagai nilai tugas (2 siswa 1 bola berat).

  • Cakram diganti dengan piring plastik

Terbuat dari 2 buah piring plastik yang ditangkupkan dan ditengah-tengahnya diisi dengan kain perca. Pembuatan cakram modifikasi ini bisa dilakukan oleh siswa dan digunakan sebagai nilai tugas (2 siswa 1 cakram).

  • Lembing diganti dengan bola berekor.

Terbuat dari bola plastik berukuran sebesar buah naga, diisi dengan kain perca kemudian diberi ekor dari pita. Caranya bola plastik dilobangi sedikit kemudian diisi kain perca sampai penuh. Kemudian pita sepanjang 60 cm dilipat pada bagian tengah dan dimasukan pada lubang tersebut kemudian dijahit kembali dengan tangan. Tugas ini dibuat oleh dua siswa untuk satu bola berekor.

  • Bola soft ball diganti dengan bola plastik berisi Kain perca.

Bahan dan cara membuatnya sama seperti membuat bola berekor untuk modifikasi lembing hanya saja tidak diberi pita sebagai ekor. Tugas ini dibuat oleh dua siswa untuk satu bola.

  • Stick soft ball dibuat dari batang kayu yang dibentuk seperti stick soft ball.

Siswa bisa diberi tugas untuk membuat stick tersebut misalnya 4 siswa membuat satu stick. Tugas ini juga untuk melatih siswa bekerja sama dalam kelompok.

Modifikasi alat ini dilakukan dengan pertimbangan :

  1. Siswa SMK belum memiliki kematangan fisik dan emosional;
  2. Berolahraga dengan peralatan dan peraturan yang dimodifikasi akan mengurangi
    resiko cidera;
  3. Peralata olahraga yang dimodifikasi akan mampu mengembangkan keterampilan siswa lebih cepat dibanding dengan peralatan standar.
  4. Olahraga yang dimodifikasi menumbuhkan kegembiraan dan kesenangan dalam suasana kompetitif pada siswa.

Dengan modifikasi alat-alat tersebut, model pembelajaran tolak peluru atau lempar cakram, atau lempar lembing, yang biasanya dilakukan dengan gaya komando dengan arah lemparan/tolakan ke depan barisan saja, bisa diganti dengan model penugasan dan siswa bisa saling berhadapan dalam melakukan latihan tanpa harus takut terkena alat yang membahayakan.

Misalnya, dalam pembelajaran lempar lembing. Setelah siswa diajarkan teknik melempar, siswa diberi tugas untuk melakukan lemparan sebanyak 20 kali pada setiap tahapan latihan secara berhadapan dengan jarak 20 m. Dengan demikian pembelajaran akan dirasakan siswa lebih menyenangkan dan suasana menjadi lebih kompetitif.

Demikian tulisan sederhana ini semoga tulisan ini mendatangkan manfaat bagi usaha kita mendidik generasi bangsa menjadi generasi yang cerdas, sehat jasmani dan rohani. Saran dan kritik dari pembaca sangat penulis harapkan untuk kemajuan dan perbaikan dimasa mendatang. Selamat mencoba dan berkreasi. (Penulis adalah Guru Penjasorkes di SMK Negeri 1 Kutasari)

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!