Meski Salinan, Tetap Sakral – Naskah Babad Onje

By: On: Dibaca: dibaca 92.34Rbx
Meski Salinan, Tetap Sakral  – Naskah Babad Onje

Punika Serat Sejarah Babad Onje menjadi satu-satunya manuskrip klasik yang menyingkap epik hirearkis sejarah Kadipaten Onje yang kemudian bermuara pada Sejarah Kabupaten Purbalingga.

Manuskrip asli dari Babad Onje ini dikabarkan telah hilang sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Beruntung sempat disalin agar anak cucu dan para sejarawan bisa mengungkap teka teki dan cerita beberapa artefak yang selama ini membisu di Desa Onje ini.

Diakui Manuskrip Punika Serat Sejarah Babad Onje ini telah melahirkan belasan Skripsi dan Thesis yang digarap oleh akademisi dari berbagai perguruan tinggi seperti Unnes, UGM, UNY, UIN Jakarta, UIN Yogyakarta, Unibraw dan UMP.

Manuskrip Punika Serat Sejarah Babad Onje dikenal cukup sakral, khususnya jika hendak dibacakan di hadapan umum dalam hajatan besar kebudayaan.Serangkaian acara Grebeg Onje tahun ini menginginkan manuskrip berusia ratusan tahun itu diperdengarkan kembali. Tentunya harus melewati beberapa ritual.

Kiai Sudi Maksudi selaku pemangku adat Desa Onje, sebelum membaca memulainya terlebih dahulu dengan Surat Al-Fatihah serta doa-doa memohon keselamatan dan kesejahteraan umat. Sejumlah sesajen juga disiapkan yang konon juga merupakan makanan klangenan dari Raden Hanyokropati alias Adipati Onje II. Diantaranya daging ayam jago berbulu putih, ikan kali, teh pahit dan air putih.

“Selain kesenangan, Mbah Adipati juga memiliki larangan. Kaum laki-laki dilarang menggunakan iket dengan pucuk depan berwarna putih dan perempuan dilarang menggunakan jarit dengan motif serupa gambar clurit,” ungkap Kiai yang juga takmir Masjid R Sayyid Kuning ini.

Manuskrip Babad Onje pun dibacakan Kiai Sudi Maksudi dengan pakaian tradisional dan iket kepala khas Pra-Mataraman atau menyamakan penampilan masyarakat era zaman Kerajaan Pajang. Satu, dua, tiga lembar naskah salinan itupun dibacakan dengan bahasa yang sulit dipahami oleh generasi zaman sekarang. Namun, Sudi tidak membacakannya sampai selesai. Ia mengakhirinya pada cerita mengenai nama-nama wilayah dan jumlah grumbul yang termasuk wilayah Kadipaten Onje.

Dalam kesempatan yang lain, saat Kiai Maksudi ditemui Elemen, mengaku naskah asli Babad Onje ini cukup panjang, bahkan jika dibacakan dari pagi dan selesai hingga pagi. Huruf yang digunakan pun menggunakan aksara Arab Pegon, atau huruf hijayah namun bahasa yang digunakan yakni Bahasa Jawa. Aksara Arab Pegon lazim digunakan pada zaman kerajaan Islam dan kini masih diadopsi dalam Kitab Kuning yang biasa dipelajari di Pondok Pesantren.

“Yang sulit memang bahasanya, karena bukan menggunakan Bahasa Jawa zaman sekarang, tapi menggunakan Bahasa Jawa Kawi misalnya ada kata ‘nonten’, ‘maniro’ dan lainnya. Kadang memang harus menggunakan Kamus Bahasa Jawa Kuna untuk mengartikannya,” kata bapak yang mengaku masih keturunan Adipati Onje II ini.

Salinan Babad Onje yang ia miliki pun merupakan salinan kedua. Sementara salinan tangan pertama diduga ditulis pada abad ke 20. Pesan dalam babad tersebut memang naskah harus disimpan oleh generasi garis keturunan Adipati Onje II yang memiliki 2 anak laki. Saat ini konon naskah tersebut disimpan oleh keluarga S Warnoto (mantan Carik Desa Onje) yang kini sudah tidak tinggal di Onje lagi.

Sementara itu Kiai Sanurji, selaku Tokoh Pemangku Adat Desa Onje yang lain menuturkan berdasarkan cerita turun temurun bahwa naskah Babad Onje yang asli dirancang pada generasi ke 5 dari Adipati Onje II atau sekitar abad 18 atau awal abad 19. “Kakek saya saja yang meninggal tahun 1945 di usia 135 tahun itu mengakui kalau sejak kecil naskah Babad Onje itu sudah ada,” kata Sanurji.

Saat pemerintahan kolonial Hindia Belanda, naskah babad ini sempat dicari-cari Belanda guna melacak nama-nama keturunan dari Arsantaka dan Wangsantaka untuk ditangkap. Sebab dikhawatirkan tokoh-tokoh yang masih mengedepankan nilai leluhur dan anti penjajahan akan memberontak. (Ganda Kurniawan)

 

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!