Menyusuri Jejak Kereta Api Di Purbalingga

By: On: Dibaca: dibaca 43.60Rbx
Menyusuri Jejak Kereta Api Di Purbalingga

Baca Juga: Polsuska, Petugas Keamanan Sipil Penegak Peraturan di Kereta Api

Baca Juga: Para Veteran RI Gratis Naik Kereta Api

Baca Juga: Luar Biasa. Ini Kisah Pramuka Yogyakarta Bantu Turis Terbawa Kereta Hingga Stasiun Klaten

Kabupaten Purbalingga saat ini memang bukanlah kota yang memiliki perlintasan kereta api. Namun pada zaman kolonial Belanda hingga sekitar empat dekade yang lalu, Purbalingga sempat memiliki jalur kereta api sebagai angkutan umum dan angkutan barang. Bahkan juga memiliki beberapa stasiun sebagai halte tempat pemberhentian untuk menaikan atau menurunkan penumpang.

Baca Juga: PT KAI (Persero) Salurkan Bantuan 600 Paket Sembako 

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Purbalingga yang terdiri dari Tim Pencatat Cagar Budaya (TPCB) dan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) p mencoba menjelajah sebagian bekas jalur perkeretaapian itu.

Baca Juga: Golaga Kian Memikat. Tawarkan Bermacam Paket Wisata

Salah satu anggota TPCB, Ganda Kurniawan mengungkapkan, penjelajahan yang mengandalkan peta buatan tahun 1943 ini dalam rangka sebagai pencatatan cagar budaya atas sejumlah struktur lintasan yang masih tersisa. Sayangnya lintasan tersebut umumnya sudah hilang tinggal gundukan tanah yang kini dikuasai oleh PT KAI.

Baca Juga: Google Sebut Penelusuran Wisata di Indonesia Naik

Namun demikian dari jejak itu masih ditemukan sisa struktur yang cukup fenomenal, yakni jembatan kerangka baja yang menyebrangi Sungai Klawing di Desa Sumilir Kecamatan Kemangkon.

“Jembatan yang memiliki panjang 111 meter ini oleh masyarakat setempat dikenal dengan Jembatan Krudung mengingat kerangka baja yang juga melingkupi bagian atas,”ungkap Ganda Kurniawan kepada tabloid Elemen dan media online lintas24.com.

Baca Juga: Golaga Purbalingga, Siapkan Teknologi Canggih Untuk Wisatawan

Dalam penjelajahan ini, TPCB dibantu anggota TACB dari teknik arsitek melakukan pengukuran jembatan. Sekarang jembatan ini hanya aktif digunakan sebagai jembatan umum penghubung Desa Sumilir dengan Pegandekan yang posisinya berada di tengah sawah. Sementara rel-rel kereta sudah tidak lagi ditemukan.

Baca Juga: 10 Langkah Cegah Mabuk Perjalanan

Sementara, Kepala Dusun Desa Sumilir, Daryanto mengatakan pada masa kecilnya kereta api masih beroperasi melitas jembatan tersebut. “Kereta terdiri dari 12 gerbong, lokomotif kereta sudah bermesin disel. Sewaktu saya kecil kereta masih beroperasi,” kenang bapak kelahiran tahun 60-an ini.

Selain jembatan tersebut Daryanto juga menunjuk bekas stasiun atau halte yang biasa digunakan untuk menaikkan penumpang ke kereta pada zaman itu. Lokasinya sekitar 300 meter dari Jembatan Krudung atau di tepi Jalan Raya Karangtengah – Sumilir. Sisa stasiun tinggal tulangan dan atap datar yang terbuat dari beton.

Baca Juga: Wisata Memori Perbengkelan Purbakala di Kaki Bukit Plana Purbalingga

“Gardu ini dulu biasa digunakan sebagai semacam gardu tunggu kedatangan kereta. Dulu di belakang gardu ini terdapat bangunan yang lebih besar sebagai stasiun, namanya Stasiun Moentang (Desa Muntang-red),” katanya.

Dari perlintasan kereta api itu, Daryanto mengungkapkan ada 6 stasiun atau halte yang ada di Purbalingga, diantaranya di Stasiun Kemangkon, Stasiun Karangkemiri, Stasiun Moentang, Stasiun Jompo, Stasiun Kalimanah dan Stasiun Purbalingga (Kandanggampang).

“Dari sekian banyaknya stasiun yang pernah berdiri,  bekasnya sudah hilang, tinggal ini saja,” katanya menunjuk Stasiun Moentang itu.

Baca Juga: Menengok  Black Canyon Pekalongan

Sementara itu salah satu pemerhati warisan sejarah dari Banjoemas Heritage and History Community (BHHC), Jatmiko Wicaksono menjelaskan jembatan tersebut merupakan jalur perlintasan kereta Serajoedal Stoomtram Matschappij (SDS) atau Maskapai Kereta Uap Lembah Serayu yang digagas oleh pihak swasta kolonial Belanda tahun 1893.

“Jembatan SDS yang ada di Purbalingga itu merupakan bagian dari etape pertama pembangunan jalur kereta dari Banjarnegara – Sokaraja – Purwokerto – Maos,” kata pria yang juga staf pengajar kampus Akindo Yogyakarta ini.

Pembangunan jalur SDS itu didanai proyek senilai f 1.500.000. Baru pada etape kedua sebuah jalur baru dibuat dari Banjarsari (Sokaraja) hingga Kandanggampang tahun 1900.

Selain mengangkut penumpang, kata Jatmiko kereta tersebut juga mengangkut barang komoditas ekspor terutama gula dari pabrik gula setempat seperti PG Klampok, PG Bodjong, PG Kalimanah, PG Kalibagor, dan PG Purwokerto. Barang-barang tersebut diangkut ke Pelabuhan Cilacap untuk diekspor.

“Jalur kereta lembah Serayu ini resmi ditutup atau dinonaktifkan sejak 1978,” katanya. (yoga tri cahyono)

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!