Menikmati Pagi Layaknya Senja – Oleh: Isnaeni Fidia Safa’ati

By: On: Dibaca: 5,075x
Menikmati Pagi Layaknya Senja – Oleh: Isnaeni Fidia Safa’ati

Ceritera Pendek

Gambaran langit di sore hari selalu tampak mempesona, orang – orang sering menyebutnya senja. Kala itu angin dengan leluasanya berkeliling, menepis dedaunan, dan berirama bak musik alam. Lukisan langit nan elok seakan mampu menghipnotis siapa saja yang menikmatinya. Pesona ini bahkan mampu merampas semua gejolak rasa, hingga yang tersisa ialah ketenangan meski hanya sekejap mata.

Gadis kecil nan jelita membawa pandangannya jauh ke sudut senja. Ia duduk sembari merangkul sang adik yang tidur bersandar di pundaknya. Entah kenikmatan seperti apa yang ia rasakan hingga tanpa disadari, langit menumpahkan beberapa tetes air ke tubuhnya.

“kaka..”

Panggilan lirih membuyarkan lamunan gadis kecil itu. Sang adik terbangun oleh setetes air yang mendarat di keningnya.

“Jingga… bawa adikmu masuk ke rumah nak! hari mulai petang” kalimat itu memang sudah tidak asing lagi terlontar dari mulut sang bunda ketika melihat kedua putrinya masih saja bergeming di halaman rumah, padahal mentari sudah hampir tak menampakkan cahayanya. Ya, rumah gadis kecil bernama Jingga itu memang berada pada dataran tinggi, akan tetapi jika ditengok ke bawah terlihat hamparan ladang bunga yang terbentang luas, sehingga pemandangan langit senja dapat dinikmati dengan eloknya. Senja biasanya identik dengan terbentuknya warna jingga pada langit, mungkin dari situlah sang bunda terinspirasi memberikan nama Jingga untuk putri sulungnya. Selaras dengan namanya, Jingga begitu menyukai kala waktu senja tiba.

Layaknya rutinitas yang wajib dilaksanakan, Jingga dan adiknya yang bernama Maya tak pernah ketinggalan untuk duduk dibawah pohon rindang menikmati suasana senja setiap hari. Terkadang ia berdiri dengan tangan yang dilentangkan kesamping, membiarkan sang angin memeluk tubuhnya dan pancaran sinar senja meraba wajah manisnya. Seringkali ia bersenandung ria, terbaring di atas rumput, bahkan Jingga dan sang adik juga membincangkan bentuk awan yang beraneka ragam serta warna indah senja. Dalam batinnya Jingga berkata “aku tak tahu hal apa yang lebih menyenangkan dari indahnya senja. Yang jelas, langit senja adalah sebagian besar dari kebahagiaan hidupku”

***

Jingga merupakan siswi kelas 6 sekolah dasar. Kini, tinggal menghitung bulan baginya menuju ke ujian kelulusan. Untuk membantu siswa – siswi kelas 6 dalam belajar, maka sekolah menerapkan kebijakan tambahan jam pelajaran dari mulai jam 3 sampai menjelang jam 6 sore. Hanya pada jam ini pihak sekolah mampu memberikan tambahan jam pelajaran, sebab sekolah Jingga memang sekolah unggulan yang sudah padat dengan jadwal belajar – mengajar serta kegiatan ekstrakurikuler.

Mau tidak mau Jingga harus mengikuti kebijakan sekolahnya. Kata bunda ini demi kebaikan, sebab pendidikan sangatlah penting untuk masa depannya. Sebenarnya Jingga tak keberatan jika sekolah mengadakan jam tambahan, namun waktunya yang membuat ia sedikit keberatan. Bagaimana tidak? Selama ada tambahan jam pelajaran yang mana merupakan saat – saat dimana senja muncul, Jingga tak bisa lagi menikmati indahnya senja dari halaman rumah.

Pagi itu Jingga tampak tak seperti biasa yang penuh keceriaan untuk mengawali harinya. Disudut dapur, bunda tengah mempersiapkan sarapan pagi. Bunda paham betul bahwa putrinya yang satu ini akan sangat sedih jika ia tak bisa menikmati senja seperti biasa. Akhirnya, bunda menemukan sebuah cara agar putrinya dapat menikmati senja meski ia harus mengikuti tambahan jam pelajaran.

“Ayo Jingga, Maya, abisin makanannya. Tinggal 30 menit lagi. Nanti kalian telat loh” ujar bunda pada kedua putrinya. Jarak sekolah dengan rumah Jingga sekitar 15 KM, dan membutuhkan waktu tempuh kurang lebih 25 menit perjalanannya dengan menaiki mobil. Cukup jauh memang, tetapi ini merupakan pilihan terbaik agar Jingga dan Maya mendapatkan layanan pendidikan yang bagus di sekolah ternama itu. Kebetulan sekolahnya berdekatan dengan tempat dimana ayah mereka bekerja, sehingga Jingga dan Maya selalu berangkat bersama sang ayah. Saat waktu pulang sekolah maka bunda yang biasanya akan menjemput mereka, karena jam kantor ayah selesai pukul 4 sore.

Matahari sudah tenggelam dan Jingga baru saja sampai di rumah bersama ayahnya. Ia pulang lebih sore dari hari – hari biasa, sehingga sang ayahlah yang kini akan menunggunya sepulang dari kantor. Hari yang melelahkan, Jingga telah  memulai kegiatan jam tambahan di sekolah. Raut mukanya masih sama seperti pagi tadi, hanya saja terlihat lebih lelah.

Keesokan harinya, bunda membangunkan kedua putrinya lebih awal  “Jingga, Maya. Bangun nak, ayo siap – siap kita pergi ke sekolah”. Jingga dan sang adik duduk sembari mengusap – usap kedua mata mereka. “bun, ini kan masih gelap” ujar Jingga dan didukung oleh anggukan sang adik. “sudahlah, buruan siap – siap, ayah dan bunda ada hadiah untuk kalian” jawab bunda. Segera, Jingga dan Maya bersiap menuju ke sekolah.

Klakson mobil berbunyi, tandanya ayah telah menunggu. Bunda, Jingga, dan Maya bergegas menaiki mobil. Ayah membawa mobil dengan kecepatan yang standar dan hati – hati. Dalam waktu kurang dari 25 menit, mereka telah sampai pada sebuah tempat yang tampak asing bagi Jingga.

“Ayah, bunda. Ini dimana?” tanya Jingga. “nak, kamu perhatikan langit disana ya, sebentar lagi ada kejutan buat kamu” ujar bunda sembari menunjuk sudut langit. Tak lama setelah itu, rona merah kejinggaan terpancar sedikit demi sedikit. Langit terlukis indah oleh pancaran sinar mentari pagi.

“Wahh indah sekali.. ini seperti senja” Jingga terpana oleh keindahan langit pagi itu. Seketika kebahagiaan menyelimuti wajah manisnya. “Jingga, dari hal ini kamu harus belajar. Bahwa ketika salah satu kebahagiaanmu hilang, maka janganlah terus berlarut dalam kesedihan dan yakinlah kebahagiaan yang lain akan datang menemuimu. Senja memang indah, namun mentari pagi pun tak kalah mempesona. Inlilah ciptaan luar biasa Sang Maha Kuasa” ujar sang ayah. Pagi itu kebahagiaan tiada tara Jingga rasakan sebab meski dipagi hari, ia dapat menikmati indahnya langit bagaikan senja.

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!