Menhan : Radikalisme dan Terorisme, Ancaman Nyata Bangsa Indonesia

By: On: Dibaca: dibaca 46.34Rbx
Menhan : Radikalisme dan Terorisme, Ancaman Nyata Bangsa Indonesia

Menhan berikan keterangan pers

Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu mengatakan, Indonesia saat ini dihadapkan pada berbagai ancaman yang nyata seperti  terorisme, radikalisme, dan separatisme. Ancaman nyata lain adalah terjadinya pencurian sumber daya alam di wilayah kedaulatan Indonesia, pelanggaran hukum di wilayah perbatasan, perang cyber, dan penyalahgunaan narkoba yang berpotensi merusak generasi bangsa.

Sedang ancaman yang belum nyata berupa perang terbuka antar negara. Meski kecil kemungkinan terjadi, bangsa Indonesia dituntut selalu waspada karena ancaman itu bisa jadi nyata jika kedaulatan terganggu.

“Untuk menghadapi ancaman baik nyata maupun yang belum nyata, perlu tumbuh kesadaran bela negara bagi setiap warga negara,” kata Ryamizard Ryacudu saat mengukuhkan 540 kader bela negara dan membuka Festival Panglima Besar Jenderal Soedirman di halaman Monumen Tempat Lahir Jenderal Soedirman di Desa Bantarbarang, Kecamatan Rembang, Purbalingga, Selasa (24/1).

Saat mengukuhkan kader bela negara tersebut, Menhan sempat bayah kuyup. Hujan yang disertai angin tiba-tiba melanda lapangan upacara. Meski sudah basah kuyup, Menhan tetap melanjutkan upacara. Begitu pula dengan kader bela negara yang tetap semanghat meski diguyur hujan deras. “Saya bangga sekaligus terharu, di tempat lahir Jenderal Soedirman ini, tumbuh para kader bela negara yang diharapkan bisa meneladani semangat kebangsaan Jenderal Soedirman,” kata Menhan.

Menhan mengatakan, setiap warga negara Indonesia sesuai dengan amanat undang-undang wajib membela negara. “Jadi semua warga negara Indonesia, wajib, tanpa kecuali,” katanya.

Bukan Wajib Militer

Dikatakan Menhan, program bela negara bukan merupakan wajib militer. Menhan menilai sangat picik jika orang berpikir bahwa bela negara merupakan wajib militer. “Pramuka itu juga bela negara. Apakah pramuka itu latihan militer,” katanya kepada wartawan usai acara pengukuhan.

Menurut Menhan, dalam pramuka tidak ada latihan militer melainkan melaksanakan semua nilai-nilai Pancasila yang ditemukan dan digali oleh Presiden Soekarno.  “Itulah kultur kita. Kalau komunis di Tiongkok, di Rusia, itu kultur mereka, kalau di sini bukan kultur, enggak laku itu (komunis),” tegasnya.

Menhan juga mengatakan ancaman perang ke depan adalah perang cuci otak. Radikal tidak perlu melatih macam-macam tetapi bagaimana pemikiran orang itu berubah. Oleh karena itu, kata Menhan, pemikiran bangsa Indonesia harus diperkuat melalui Pancasila agar tidak tergoda oleh radikal yang salah. “Radikal yang salah ‘bunuh orang, bunuh diri, masuk surga’. Coba cari dalam kitab Al Quran, bunuh orang sudah termasuk dosa, bunuh diri tidak diterima Tuhan,” katanya.

Menhan menegaskan, bangsa Indonesia harus diajarkan mana yang benar dan mana yang salah. Indonesia bukan negara agama tetapi bangsanya beragama.

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!