Mengenang AW Soemarmo, Gugur Pertahankan Keamanan di Kecamatan Karangreja

By: On: Dibaca: dibaca 2.51Rbx
Mengenang AW Soemarmo, Gugur Pertahankan Keamanan di Kecamatan Karangreja
Bintara Pembina Desa (Babinsa) Desa Tlahab Kidul, Koramil 09/Karangreja Kodim 0702/Purbalingga, Sersan Satu (Sertu) Slamet Witoyo didepan monumen AW Soemarmo di Desa Tlahab Kidul, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga (Foto: Penerangan Kodim 0702/Purbalingga_2019)

Anda pernah berkunjung ke Kabupaten Purbalingga?. Jika sudah pernah, Anda pasti memiliki berjuta kenangan. Ya, Kabupaten Purbalingga merupakan satu dari 35 Kabupaten/kota di Propinsi Jawa Tengah. Purbalingga memiliki 224 desa dan 15 kelurahan yang tersebar di 18 kecamatan.

Hari ini, lima puluh delapan tahun yang lalu, tetapnya Tanggal 20 November 1961 telah gugur Asisten Wedana Soemarmo atau lebih dikenal dengan AW Soemarmo. Nama ini oleh Pemerintah Daerah (sekarang Pemerintah Kabupaten) Purbalingga dijadikan nama jalan yang membentang dari di depan patung knalpot ke utara di Kelurahan Purbalingga Kulon hingga ke batas kota, sekitar Sungai Kajar menjelang  masuk Desa Brobot Kecamatan Bojongsari. Di sepanjang jalan AW Soemarmo banyak terdapat rumah produk potensial knalpot yang menjadi sub sektor perindustrian di Purbalingga

Bintara Pembina Desa (Babinsa) Desa Tlahab Kidul, Koramil 09/Karangreja Kodim 0702/Purbalingga, Sersan Satu (Sertu) Slamet Witoyo didepan makam AW Soemarmo di Taman Makam Pahlawan Purbosaroyo Purbalingga (Foto: Penerangan Kodim 0702/Purbalingga_2019)

Siapakah A.W. Soemarmo? Kenapa diberi kehormatan menjadi nama jalan? Pertanyaan ini dapat terjawab ketika kita sampai di Desa Tlahab Kidul, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga. Tepatnya, disebelah barat  SMP Negeri 3 Karangreja berdiri monumen terbuat dari bangunan semen yang dilapisi keramik putih. Tiga buah balok tegak dengan ujung miring. Dua balok yang lebih tinggi mengapit balok yang paling pendek. Monumen berdiri di atas sebuah altar dengan lantai keramik berwarna merah darah dan memiliki anak tangga tiga sap. Di kelilingi dengan pagar keliling persegi dengan sisi sekitar 20 meter. Balok tertinggi sekitar 380 cm, balok kedua 300 cm, dan balok terendah 200 cm. Ada prasasti yang menempel di balok terendah. Dalam  batu prasastinya itu tertulis:DISINI GUGUR ASISTEN WEDANA SOEMARMO, MELAWAN GEROMBOLAN DI/TII, PADA HARI SENIN KLIWON 20 NOVEMBER 1961


Monumen AW Soemarmo di Desa Tlahab Kidul, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga (Foto: Toto Endargo)

Rangkaian kata tersebut kembali mengundang beberapa pertanyaan. Mengapa monumen berdiri disitu? Kenapa sampai gugur? Apakah yang dimaksud Asisten Wedana? Siapa Soemarmo? Siapa Gerombolan DI/TII? Kenapa ada DI/TII?

Menurut  Bintara Pembina Desa (Babinsa) Desa Tlahab Kidul, Koramil 09/Karangreja Kodim 0702/Purbalingga, Sersan Satu (Sertu) Slamet Witoyo. Monumen ini dibangun untuk penghormatan atas gugurnya AW Soemarmo dalam mempertahankan keamanan di Kecamatan Karangreja.  AW Soemarmo telah gigih melawan gerombolan Darul Islam Tentara Islam Indonesia (DI/TII) dan gugur pada hari Senin Kliwon, 20 Nopember 1961.

“Saat itu Rakyat yang marah bersama TNI bersatu, bahu-membahu menumpas teroris DI/TII di wilayah Karangreja. TNI berhasil mengusir gerombolan DI/TII. Untuk monumen ini berdiri sekitar tahun 1992. Sedangkan jenazah AW Soemarmo dimakamkan di taman makam pahlawan Purbosaroyo, Purbalingga,” tuturnya

Mengutip http://totoendargosip.blogspot.com. Dulu Kabupaten Purbalingga dibagi menjadi tiga wilayah kawedanan yaitu Kawedanan Purbalingga, Bukateja dan Bobotsari. Wedana membawahi para camat, oleh karena itu camat disebut sebagai Asisten Wedana, atau pejabat yang membantu tugas wedana.

Saat itu sekitar tahun 1960, Soemarmo yang lahir pada tahun 1921 di Desa Mipiran, Padamara, Purbalingga dipercaya menjadi Asisten Wedana atau Camat di wilayah Karangreja. Karena jabatannya itulah dikenal dengan sebutan AW Soemarmo.

Gangguan Keamanan oleh DI/TII

Saat itu ada sekelompok Islam di Indonesia yang ingin mendirikan Negara Islam Indonesia (NII). Tentaranya disebut Tentara Islam Indonesis (TII). TII adalah  sekelompok milisi muslim (masyarakat yang bersenjata), yang dikoordinir oleh seorang politisi Muslim radikal, bernama Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo di Desa Cisampah, Kecamatan Ciawiligar, Kawedanan Cisayong, Tasikmalaya, Jawa Barat, dimulai pada 7 Agustus 1942.

Kelompok ini mengakui syariat Islam sebagai sumber hukum yang benar. Maka tujuan gerakan ini adalah menjadikan Republik Indonesia yang saat itu belum mapan benar karena baru saja merdeka, dan masih ada perang melawan tentara Belanda, untuk menjadi negara teokrasi, negara yang berdasarkan ketuhanan. Menginginkan agar Agama Islam menjadi dasar negara.

Dalam proklamasinya, tanggal 17 Agustus 1949, DI/TII menyatakan bahwa “Hukum yang berlaku dalam Negara Islam Indonesia adalah Hukum Islam”, dalam undang-undangnya dinyatakan bahwa “Negara berdasarkan Islam” dan “Hukum yang tertinggi adalah Al Quran dan Sunnah”.

Menolak dengan keras terhadap ideologi selain Alqur’an dan Hadits Shahih, mereka menyebutnya sebagai “hukum kafir”. Dalam perkembangannya, DI/TII menyebar hingga ke beberapa daerah, diantaranya     di Jawa Tengah yang dipimpin oleh Amir Fatah Wijaya Kusumah.

Kelompok Amir Fatah Wijaya Kusumah inilah sayap DI/TII, yang merambah wilayah Kabupaten Purbalingga. Pusat kelompok ini ada di hutan pegunungan Dayeuhluhur, Cilacap. Benteng pertahanannya berada di gunung Karang Gumantung, di tengah Hutan Larangan, di hulu Sungai Cibeet. Benteng dikelilingi oleh bukit dan sungai sehingga sangat strategis sebagai kubu pertahanan. Selama hampir 12 tahun benteng ini tidak bisa direbut oleh pasukan TNI. Sebenarnya pasukan Amir Fatah sendiri sudah dapat ditaklukkan TNI pada tahun 1954 di perbatasan Pekalongan – Banyumas.

Sesuai dengan medan kegiatan Gerompolan DI/TII maka wilayah perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah, dan juga sekitar wilayah Bobotsari – Karangreja, pada tahun 1958 sampai 1961, dihantui oleh perilaku pemberontak DI/TII.

Gerombolan DI/TII sangat membutuhkan dua hal yaitu kebutuhan logistik dan perbanyakan anggota. Untuk memenuhi kebutuhan logistik itulah gerombolan ini tak segan-segan untuk merampas dan merampok harta benda milik rakyat. Masyarakat yang tinggal di sekitar Karangreja, Serang, Tlahab Lor, Tlahab Kidul, Dagan, Palumbungan, Limbasari dan seterusnya menjadi sasaran jahat DI/TII. Dan untuk memperbanyak anggotanya DI/TII melakukan penculikan, orang yang diculik dipaksa untuk menjadi anggota DI/TII.

Sasaran dan ancaman DI/TII juga dilakukan terhadap para pejabat dan kantor-kantornya. DI/TII melakukan teror dan bila perlu sampai kepada pembunuhan. Hal inilah yang terjadi pada kantor dan pejabat Kecamatan Karangreja. Kantor kecamatan yang pada saat itu ada di desa Tlahab Kidul dibakar.

Makam AW Soemarmo di Taman Makam Pahlawan Purbosaroyo Purbalingga (Foto: Penerangan Kodim 0702/Purbalingga_2019)

Penghuninya yang juga pejabat kecamatan Karangreja, Asisten Wedana Sumarmo, pun dibunuh. Asisten Wedana Soemarmo pun gugur setelah dengan caranya mempertahankan keamanan di Kecamatan Karangreja. AW Soemarmo gugur pada hari Senin Kliwon, 20 November 1961.

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!