Mengenal Rumah Tua Peninggalan Tokoh Tionghoa Terkemuka

By: On: Dibaca: dibaca 70.71Rbx
Mengenal Rumah Tua Peninggalan Tokoh Tionghoa Terkemuka

Salah satu sudut kota Purbalingga di Jalan Serma Jumiran Purbalingga terdapat rumah bergaya kolonial yang masih dipertahankan. Tidak banyak yang tahu mengenai sejarah bangunan ini. Padahal tanpa disangka rumah ini sebelumnya pernah dihuni oleh tokoh Tionghoa terkemuka di Jawa, yakni Gan Thian Koeij.

 

Pada Sabtu 11 November 2017 lalu, rumah ini didatangi oleh Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Purbalingga. Mereka melakukan peninjauan untuk mensurvei kelayakan dan observasi historis bangunan ini sebagai Bangunan Cagar Budaya.

“Setalah kami kaji, rumah ini memiliki arti penting bagi sejarah. Sebab rumah ini dibangun dan pernah dihuni oleh Gan Thian Koeij, salah satu tokoh yang namanya tercatat dalam buku legendaris ‘Orang-orang Tionghoa Terkemoeka di Java’ karya Tang Hong Boen tahun 1936,” kata Sekretaris TACB Purbalingga, Taufik Sudarmono.

Mengenai profil singkat Gan Thian Koeij, Taufik menceritakan bahwa tokoh tersebut lahir di Purbalingga pada 10 Oktober 1872. Diceritakan juga bahwa Gan pada usia 18 tahun berhenti sekolah dan memulai usaha dagang peralatan dan manufaktur batik di pasar. Usahanya itu makin membesar dan tahun 1914 membangun toko sendiri yang dinamai Toko Gan dengan nama perusahaan N.V. Hiap Hoo Handel Mij.

“Yang menjadi penting lagi bahwa ternyata Gan Thian Koeij tahun 1927 ia diangkat menjadi Letnan Tionghoa Purbalingga. Opsir (jabatan perwira) Tionghoa ini dibuat pihak pemerintah sebagai perwakilan untuk menjembatani urusan komunitas Tionghoa dengan pemerintah kolonial Hindia-Belanda baik dalam hal penarikan pajak maupun sosialisasi peraturan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, ketokohan Gan Thian Koeij juga nampak karena juga tercatat pernah menjadi jajaran Regentschapraad atau Dewan Kabupaten selama 2 periode sekitar tahun 1929. Kemudian menjadi dewan pendiri Tiong Hoa Hwee Kwan (THHK) Purbalingga yakni komunitas Tionghoa yang melestarikan budaya dan bahasa mandarin.

Saat peninjauan rumah ini, TACB didampingi oleh Basri (60), salah seorang yang dipercaya keluarga Gan sebagai penjaga rumah tersebut. Kata Basri, rumah tersebut dibangun selama dua tahun, yakni tahun 1918 sampai 1920.

“Keluarga Gan dulu memiliki berbagai usaha diantaranya seperti toko, bank dan jasa pembuatan teralis. Dulu toko Gan terletak di belakang rumah ini tepatnya sekarang sudah menjadi bengkel Gunawan Motor,” paparnya.

Setelah Gan Thian Koeij meninggal, rumah ini diwarsikan ke anaknya yang bernama Gan Koen Se, lalu diwariskan lagi ke anaknya yang bernama Gan Thian Jin. Sekarang rumah ini masih menjadi milik Charles Atmaja Gandha yang juga merupakan keturunan marga Gan namun berdomisili di Jakarta. Kondisi bangunan cenderung masih utuh terutama untuk dinding, jendela dan kusen.

Sementara bagian plafon dan kerangka atap tampak sudah banyak kerusakan. Sejumlah perabotan asli sejak zaman kolonial juga masih ada yang semuanya diberi label ‘GTK’ yang merupakan sungkatan dari Gan Thian Koeij. (Ganda Kurniawan)

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!