Mengenal Mayjend Sungkono Putra Asli Purbalingga, Pahlawan Pertempuran Surabaya 10 November  1945

By: On: Dibaca: dibaca 16.09Rbx
Mengenal Mayjend Sungkono Putra Asli Purbalingga, Pahlawan Pertempuran Surabaya 10 November  1945
Rumah lahir Mayjend Soengkono (sekarang di Jalan Letkol Isdiman), pernah dijadikan Kantor DPC Partai Demokrasi Indonesia (PDI) oleh Tri Daya Kartika anak ketiga dari adik Mayjend Soengkono sejak tahun 1971-1999. Dan sejak itu juga terkenal dengan Prapatan (Simpang empat) Bantheng

Kabupaten Purbalingga merupakan salah satu Kabupaten dari 35 Kabupaten/ Kota di Propinsi Jawa Tengah. Pertempuran hebat tanggal 10 November 1945 di Surabaya Jawa Timur, ternyata melibatkan putra Purbalingga. Adalah Sungkono, komandan BKR (Badan Keamanan Rakyat) saat itu

Sungkono berpeci hitam sebelah kiri Jenderal Soedriman

Sungkono lahir Akhad Wage 1 Januari 1911 di Purbalingga Kidul Kabupaten Purbalingga (sekarang Jalan Letkol Isdman Purbalingga Kidul atau dikenal dengan prapatan bantheng)dari pasangan seorang tukang jahit Tawireja dan Rinten.

Namanya begitu harum di Jawa Timur, karena ia tidak hanya sekedar berteriak-teriak memberi komando lewat radio, tetapi juga memimpin langsung pertempuran yang sedang berkobar hebat di seluruh kota. Ia tidak akan lari meninggalkan kota atau sector – sector pertahanan. Ia terus memimpin pertempuran hingga Surabaya mendapat julukan “kota pahlawan”.

Sungkono lulus HIS (Hollands Indische School) tahun 1928, kemudian melanjutkan ke MULO dan setelah lulus, meneruskan ke Zelfontelkeling hingga kelas dua dan mengantongi ijasah K.E. Pendidikan militer selama dua tahun diperoleh dari sekolah teknik perkapalan atau KIS (Kweekschool voor Inlandsche Schepelingen) di Makasar dan bekerja di K.M (Koninklijke Marine).

Ketika ada pemotongan gaji dan tindakan diskriminasi di tempatnya bekerja sebagai kelasi kapal “De Zeven Provincien”, Sungkono mengkordinir kelasi bangsa Indonesia untuk menuntut persamaan hak antara pekerja Belanda dengan pribumi . Para pekerja pribumi dipotong 17 % sedangkan pekerja Belanda 14%. Tuntutan itu tidak ditanggapi oleh Belanda

Kapal Tujuh atau kapal “Zeven Provincien” adalah kapal perang berbobot mati 7500 ton. Dilengkapi dengan 20 meriam berbagai ukuran, untuk melatih para siswa lulusan KIS Ujung Pandang atau anggota marine lainnya yang ingin naik pangkat. Waktu itu kapal sedang berlayar mengelilingi Sumatera selama dua bulan. Bertolak dari Surabaya tanggal 2 Januari 1933, dengan route Jakarta – Padang,- Sibolga – Meulaboh – Sabang – Ulele – dan Kotaraja. Hari Jumat 3 Pebruari 1933 pelayaran tiba di pelabuhan Ulele , Kotaraja (Banda Aceh).

Esoknya, hari Sabtu malam tanggal 4 Pebruari1933 Komandan Kapal Zeven Provincien Overste Eikenboon bersama perwira dan bintara Belanda lainnya, turun ke darat. Mereka memenuhi undangan pemerintah setempat (Residen) untuk pesta semalam suntuk. Kesempatan itulah lalu dimanfaatkan oleh kelasi (pelaut) pribumi, untuk merampas kapal dengan pura – pura tidak ikut turun kedarat.

Sesuai rencana, tepat pukul 10 malam pelaut – pelaut senior pribumi seperti Kawilarang, Paraja, Rumambi, Gosal, Tahumena, Parinusa, Sudiyono, Suwarso, Sungkono, melarikan kapal perang “De Zeven Provincien” itu. Kapal yang membawa lebih dari 170 pelaut yang memberontak itu, terdapat 34 pelaut bangsa Belanda. Mereka mau diprovokasi dengan adanya pemotongan gaji. Selain memprotes pemotongan gaji, mereka juga menuntut pembebasan rekan-rekan mereka yang ditawan di Surabaya. Kapal itu dilarikan dari Ulele di Aceh menuju Surabaya.

Kapal dikejar oleh pesawat bomber dan dilumpuhkan di selat Sunda dengan bombardemen, setelah perintah menyerah tidak ditaati. Dalam peristiwa ini gugur 21 pahlawan kusuma bangsa kelasi pribumi, Sungkono beserta kawan – kawan lalu ditangkap dan ditawan di pulau Ontrust, kepulauan Seribu.September 1933 mereka diadili sekaligus dipecat dari Koninklijke Marine.

Selesai menjalani hukuman mereka mendirikan Persatuan Bekas Anak Marine Bangsa Indonesia (Perbambi) di Yogyakarta dan Sungkono jadi pengurus cabang di Surabaya. Karena dianggap berbahaya, perkumpulan itu dibubarkan oleh Belanda. Para pengurusnya ditangkap dan dibuang ke Boven Digul. Keluar dari hukuman, Sungkono bergabung dengan Partai Indonesia Raya (Perindra) di Surabaya pimpinan Dr. Sutomo dan Husni Tamrin.

Untuk mencari nafkah, Sungkono menjadi guru olah raga di HIS JEPANG DATANG, Sungkono kerja di Shi (kantor kota Surabaya) sebagai kontrolir pada perusahaan air gemeente. Kemudian ia masuk tentara PETA dan mengikuti latihan di Bogor. Awal tahun 1945 diangkat menjadi Chodancho (komandan kompi) dengan pangkat kapten dan ditempatkan di Daichi daidan Surabaya. Ketika terjadi pemberontakan PETA di Blitar, Sungkono dicurigai dan “diamankan” di Renceitai Bogor.

Setelah proklamasi kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, ia mengajak mantan anggota PETA, Heiho, KNIL, dan pemuda pejuang bergabung dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR) . Mereka bertugas merebut senjata dari tangan Jepang, agar pasukannya memiliki persenjataan yang lebih memadai.Ia sendiri kemudian diangkat menjadi komandan BKR Surabaya.

Di Banyumas, pelucutan senjata Jepang oleh BKR pimpinan Letkol Isdiman dilakukan dengan cara diplomasi, tanpa ada pertumpahan darah. Chudanco Sungkono yang juga putra Banyumas, menempuh cara yang sama. Ia mengadakan pembicaraan dengan tentara Jepang yang dipimpin Iwabe. Lewat pembicaraan yang alot, akhirnya senjata bisa diperoleh.

Penyerahan senjata dilakukan dengan cara sandiwara, seolah-olah mentan PETA itu merampas senjata dari Jepang. Dengan demikian Jepang bias mengatakan kepada sekutu, bahwa senjata mereka direbut oleh pemuda – pemuda Indonesia. Iwabe hanya minta agar ,ereka jangan mendendam kepada Jepang.

Merunut catatan, persenjataan dan peralatan perang Jepang yang diserahkan terdiri dari 19.000 senapan, 700.846 pistol otomatis, 422.700 senapan mesin ringan dan 480.504 senapan mesin sedang. Senjata lain berupa 148 pelempar granat, 17 meriam infanteri, 63 mortir, 400 mortir baru, 1525 meriam anti tank, 62 kendaraan panser dan 1990 kendaraan bermotor. Lain halnya senjata bekas tentara Hindia Belanda, Inggris dan Australia yang tersimpan di gudang – gudang tidak bisa didapat.

Meski sudah Proklamasi, Jepang saat itu masih juga berkuasa. Maka pada bulan September 1945, Sungkono memimpin perjuangan pengambilan kekuasaan sekaligus melucuti senjata Jepang. Memang jenderal Iwbe sudah memberi pesan, agar jangan ada dendam. Tetapi kebengisan tentara Jepang saat mereka masih berjaya sulit dilupakan.

Pertempuran terjadi, korban berjatuhan dari kedua belah pihak, dan Jepang bisa dikalahkan. Tanggal 5 Oktober 1945, BKR berubah menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Namun Divisi Surabaya mesih mempertahankan nama BKR. Pada tanggal 24 Oktober 1945 Brigade 9 Divisi ke-25 Angkatan Darat Inggris di bawah pimpinan Brigadir AWS Mallaby mendarat di Surabaya.

Sikap angkuh Inggris dan tindakan mereka yang nyata – nyata melanggar kedaulatan RI tidak bias diterima. Tnggal 28 Oktober 1945, terjadi bentrokan antara pemuda Surabaya dengan pasukan Inggris. Esoknya tang 29 Oktober 1945, pertempuran tidak dapat dihindarkan. Presiden Soekarno datang ke Surabaaya dan menyerukan gencatan senjata. Dibentuklah Biro Kontak antara pasukan Inggris dengan pihak Indonesia. Meski sudah ada kesepakatan untuk menghentikan , pertempuran masih berlangsung dan jenderal Mallaby tewas di depan gedung Internatio.

Sebagai komandan, Sungkono bertekad untuk mempertahankan Surabaya dari serbuan Inggris. Tekadnyanya ini mendapat dukungan penuh dari para pejuang dan rakyat Surabaya. Tanggal 10 November 1945, pecah perang dahsyat. Di batas kota, di desa Sepanjang arek – arek Surabaya dipimpin Sungkono menahan gerak maju pasukan musuh.

Pasukan Inggris dan Belanda mengerahkan seluruh kekuatan dengan serangan alteleri dari kapal – kapal, serangan udara dan infanteri. Ketika pertempuran Surabaya mencapai puncaknya, Sungkono berkata “ Kalau kita terpaksa mundur dari Surabaya, saya akan melakukan gerilya kota dan terus melawan. Percayalah Surabaya bisa kita rebut kembali”.

Perang terus berkobar dan korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Untuk memperkuat barisan, pada tanggal 15 Desember 1945 dibentuk kordinasi antara BKR dengan badan – badan perjuangan. Dari situ lahirlah Dewan Pertahanan Rakyat Indonesia Surabaya (DPRIS). Sungkono duduk sebagai wakil ketua I.

Tanggal 8 Januari 1946, setelah pertempuran mereda, Sungkono menikah dengan gadis pejuang bernama Isbandiyah. Pada tanggal 3 Maret 1946, ia diangkat sebagai Panglima Divisi VII TKR, meliputi daerah Surabaya, Bojonegoro dan Madura.

Tanggal 23 Mei 1946, terjadi daerah divisi dan Panglimanya. Sungkono menjadi panglima divisi VI TRI dengan nama Divisi Narotama, yang daerahnya meliputi Surabaya, Madura dan Kediri. Dengan pangkat kolonel, ia kemudian menjadi Ketua Gabungan Komando Pertahanan divisi – divisi V, VI, VII TRI Jawa Timur.

Setelah perjanjian Renville 17 Januari 1948 di Jawa Timur diadakan konsolidasi pasukan. Markas Besar Tentara (MBT) membentuk Dewan Tata Tertib Opsir Tinggi (DTTOT) di bawah pimpinan Mayor Jenderal A.H. Nasution dengan alasan reorganisasi dan rasionalisasi Angkatan Darat. Sungkono diturunkan pangktnya menjadi letnan kolonel. Ia menghadap Panglima Besar Jenderal Sudirman, yang sama – sama berasal dari Purbalingga. Disarankan oleh Soedirman, untuk menerima dan tetap menunjukan ketaatan dan kepatriotannya.

Dr.H,Ruslan Abdulgani yang mengenal baik Sungkono mengatakan, Sungkono pendiam tetapi berpikir dalam dan berwawasan luas. Ia adalah perwujudan pejuang tanpa pamrih, tahan banting dan tidak pernah kecil hati menghadapi penjegalan – penjegalan maupun fitnah atas dirinya.

Presiden Soekarno menyatakan SOB Negara Dakam Keadaan Bahaya (Staats van Oorlog en Beleg) dikerenakan pemberontakan PKI Madiun pimpinan Alimin dan Muso pada tanggal 18 September 1948. Untuk mengatasi pemberontakan PKI itu, Presiden Soekarno mengangkat Sungkono menjadi Gubernur Militer Jawa Timur dan pangkatnya dikembalikan menjadi Kolonel. Tugas utamanya adalah menumpas pemberontakan PKI Madiun. Dalam bulan Oktober 1948 pemberontakan itu berhasil ditumpas dan keamanan pulih kembali.

Kolonel Sungkono kemudian dilantik menjadi Panglima Divisi I Brawijaya Jawa Timur. Baru satu setengah bulan menjabat Panglima, tanggal 19 Desember 1948, Belanda kembali melakukan aksi militer . Pada bulan Januari, Pebruari 1948 pasukan Sungkono harus menghadapi dua front. Di satu sisi menghadapi Belanda, di sisi lain menghadapi pengacau di garis belakang yaitu TRIP Batalyon Zaenal dan batalyon 38 pimpinan Sabarudin. Kedua front itu ternyata bisa dimenangkan dan diselesaikan dengan baik. Yang pernah diucapkan Sungkono saat terjadi pertempuran 10 November 1945 akhirnya terbukti.

Tanggal 24 Desember 1949, ia kembali ke Surabaya sebagai pemenang. Komandan Divisi A Belanda Mayor Jenderal Baay secara resmi menyerahkan kota Surabaya kepada Panglima Divisi I Brawijaya Kolonel Sungkono. Menjelang pemulihan kedaulatan, ia mempelopori pembubaran Negara Jawa Timur dan Madura bentukan Belanda, untuk masuk ke Negara kesatuan RI. Tanggal 22 Pebruari 1950, Markas Divisi I dipindahkan dari Nganjuk ke Surabaya.

Tanggal 16 Juni 1950, Sungkono alih tugas ke Jakarta dan pangkatnya naik menjadi Brigadir Jenderal. Dalam tahun 1958 ia diangkat menjadi Inspektur Jenderal Pengawasan Umum Angkatan Darat. Pangkatnya naik lagi menjadi Mayor Jenderal. Jabatan terakhir sampai ia memasuki masa pensiun tahun 1968 adalah penasehat Menteri/Pangad.

Ia pernah menjabat sebagai Hakim Tinggi Tentara Pengadilan Tentara Tinggi. Di luar kemiliteran antara lain ia pernah menjadi Pengurus Pusat Persatuan Pelaut Indonesia dan menjadi ketua II DPP Badan Musyawarah Besar Angkatan 45.

Sungkono banyak mendapat penghargaan dan tanda jasa. Di antaranya bintang Maha Putra Adhi Pradana (diterimakan kepada isterinya). Bintang Dharma Bakti, Bintang Gerilya, Bintang Sewindu, Satyalencana Perang Kemerdekaan I – II, Satyalencana 16 tahun, Satyalencana GOM I, II, III, IV dan V. Pejuang perintis kemerdekaan itu meninggal tanggal 12 September 1977 di RS Gatot Subroto, Jakarta. (ditulis Mahendra Yudhi Krisnha dari buku catatan Tri Atmo)

 

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!