Mengenal Komunitas Pecinta Ebeg – EbegTontonan Rakyat Adiluhung

By: On: Dibaca: dibaca 104.01Rbx
Mengenal Komunitas Pecinta Ebeg  – EbegTontonan Rakyat Adiluhung

 

lintas24.0

Anda masih ingat  Ebeg, kapan terakhir Anda menyaksikan pegelaran kesenian Ebeg secara langsung. Yah, Ebeg  merupakan salah satu bentuk tarian rakyat yang mulai jarang disaksikan.  Di daerah Banyumas disebut Ebeg. Di tempat lain, kesenian ini dikenal dengan nama jaran kepang, kuda lumping, atau jathilan.

Para pemain Ebeg menyajikan tarian dengan menggunakan kuda ebeg yang  terbuat dari anyaman bambu yang dibentuk menyerupai kuda, diberi warna hitam atau putih dan diberi lonceng. Karena itulah, di daerah lain kesenian ini dikenal dengan nama Jaran Kepang yang artinya kuda dari kepang (anyaman bambu).

Selain itu para penarinya memakai celana yang dilapisi kain batik, sebatas lutut. Mekutha (mahkota) wajib terpasang di kepala, dan sumping di telinga. Kedua tangan dan kaki memakai gelang yang diberi kerincingan.

DSC_9821

Biasanya pemain mengenakan kacamata hitam. Ada dua orang yang memakai topeng, yang biasa disebut Penthul dan Tembem. Fungsi keduanya adalah sebagai pelawak.  Peralatan instrumen yang digunakan yaitu: gendang, gong bumbung, saron, kenong dan trompet.

Irama yang mengiringi permainan ebeg adalah tembang-tembang (lagu-lagu) Banyumasan.  Diantaranya ricik-ricik, gudril, eling-eling, lung gadhung dan  blendong.

Bersatu dalam Komunitas

Para pecinta kesenian ebeg mempunyai cara sendiri untuk tetap menjaga dan melestarikan budaya daerah yang adi luhung. Salah satunya dengan menggunakan kemajuan teknologi di dunia maya.

Dalam akun media sosial facebook : COPE’E ( COmmunitas PEcinta Ebeg ) PURBALINGGA  <>LINGGAMAS<> tercatat 18.790 orang anggota dari berbagai daerah. Konten yang disajikan dalam facebook yakni, upload video pagelaran ebeg, informasi penyelenggaran dan ruang diskusi antar anggota.

Salah satu pengurus akun, Yoga Tri Cahyono mengungkapkan, komunitas dibentuk beberapa tahun lalu. Awalnya hanya obrolan satu sampai enam pemilik akun di Facebook sebagai media informasi adanya tontonan ebeg di seluruh wilayah Purbalingga, Banjarnegara, Banyumas dan sekitarnya.

“Akhirnya sepakat untuk membuat grup facebook COPE’E ( COmmunitas PEcinta Ebeg ) itu,”ungkap Yoga.

Ia menambahkan, komunitas ini terbuka untuk semua usia dan profesi masuk menjadi anggota dan aktif mengikuti aktivitas komunitas, anggota komunitas diantaranya seperti dalang, anggota DPRD, ormas, LSM, pejabat Pemkab dan dari berbagai komunitas lain. Melalui komunitas ini diharapkan para pemain ebeg semakin optimis untuk nguri-uri seni ebeg sampai kapanpun.

“Banyak manfaat yang didapat, diantaranya saat ada kabar pertunjukan ebeg di luar daerah, maka mereka akan menonton dan memberitahukan kepada anggota dan pecinta ebeg lainnya,”ungkapnya.

Selain di facebook lanjut Yoga, para anggota juga rutin melakukan “kopi darat” (bertemu-red) meski tak semua datang, semua dilakukan untuk menambah referensi ketrampilan dan gaya ebeg di berbagai wilayah se eks Karesidenan Banyumas.

“Obrolan kita seputar keindahan, ketertiban,  dan keamanan saat pertunjukan ebeg agar tidak dinodai dengan adanya keributan. Untuk itu, melalui komunitas dilakukan pemahaman dan pendekatan personal agar saling menjaga kelompok ebeg masing-masing,”ungkap Yoga.

Yoga dan anggota COPE’E lainnya berharap, kesenian ebeg tidak punah. Hilangkan rasa gengsi ataupun malu dengan kebudayaan yang kita miliki. Pasalnya, ebeg lahir di tengah-tengah rakyat  dan merupakan tarian sakral. Selain para pemain ebeg, perlu ada regenerasi juga penabuh gamelan. Ngebeg Ora Mendem Ora Marem.

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!