by

Mengenal Desa Serang Purbalingga

-Wisata-dibaca 146.33Rb kali | Dibagikan 79 Kali

Gunung Kelir, Punthuk Si Kembar

Desa Serang lebih dikenal dengan kebun strowberynya dibandingkan dengan tempat wisata-barunya. Tempat wisata ini adalah hasil swasembada penduduk desa untuk membangun sebuah tempat wisata alam dengan memanfaatkan potensi alam yang ada di Desa Serang dan sekitarnya. Tempat wisata baru ini diberi nama Lembah Asri.

Menjadi lebih menarik sebab sesungguhnya Desa Serang, Desa Bambangan dan Desa Kutabawa adalah tiga nama desa yang sering disebut dalam hubungannya dengan pendakian Gunung Slamet. Ketiga desa ini dianggap sebagai desa-desa terakhir, home base untuk para pendaki sebelum naik ke Gunung Slamet.

Desa Serang terletak pada ketinggian sekitar seribu seratus meter di atas permukaan laut, wilayah yang sudah dapat disebut sebagai daerah dataran tinggi. Desa Serang memiliki iklim pegunungan yang sejuk, polusi udara nyaris tidak terasa, sehingga terasa nyaman dan menyegarkan.

Pesanggrahan
embah Asri terletak tidak jauh dari pertigaan jalan ke Serang – Baturaden. Sebelah timur pertigaan. Dulu gerumbul hutan pinus di sekitar pertigaan jalan ini disebut sebagai Pesanggrahan, sebab di tempat itu ada bangunan milik Perhutani yang digunakan untuk mesanggrah, tempat bersantai pejabat Perhutani.

Di rumah pesanggrahan ini orang dapat bermalam dengan nyaman. Bangunannya setengah permanen, setengahnya tembok bata pada bagian bawah dan bagian atas dibuat dari papan. Bangunan terdiri dari satu ruang tamu yang cukup luas, dua buah kamar tidur, satu kamar mandi, dan dapur. Memiliki serambi yang cukup luas di depan dan di samping kiri bangunan.

Hutan di depan pesanggrahan ini dulu favorit untuk berkemah. Anak-anak atau siswa mendirikan tenda di bawah naungan pohon pinus, sedang para pembina bermalam di rumah sanggrahan ini yang sekaligus sebagai posko utama tempat pengungsian dan perawatan kalau ada siswa yang sakit.

Pesanggrahan hanya seratus meter dari Pusat Pemerintahan Desa, jadi dekat dengan balai desa. Balai desa Serang dahulu dapat menampung dua-ratusan siswa, bangunannya masih berbentuk gudangan. Atapnya seng, lantai semen.

Kadang digunakan untuk pos kegiatan acara-acara perkemahan. Ada masjid kecil di sebelah utara sanggrahan, atapnya atau kubahnya cenderung lancip seperti segitiga, dengan atap berundak. Pohon pinus pada saat itu masih diambil getahnya, ada canting dan sudu di setiap pohon pinus.

Lembah Asri

Lembah Asri adalah wajah baru dari Desa Serang. Masyarakat Desa Serang telah menyulap lahan di sebelah selatan Pesanggrahan menjadi tempat wisata yang menjanjikan. Ada halaman luas, seluas lapangan bola yang beraspal tipis sebagai tempat parkir. Ada bangunan sebagai aula yang cukup luas.

Luas aula sekitar 20 x 20 meter. Ada lima kamar toilet, ada beberapa warung di sekitar aula. Lahan tempat bermain sangat luas. Ada sekitar lima belas gazebo sederhana yang dapat digunakan untuk duduk-duduk lesehan. Gazebo seluruhnya terbuat dari bambu, kecuali atapnya, yaitu atap rumbia.

Ada kuda tunggang, bagi yang ingin naik kuda. Ada motor penjelajah arena, bagi yang suka naik motor. Ada fasilitas outbond, flyingfox, dan jembatan tali yang panjang tampak siap menyambut pengunjung.

Lembah Asri memiliki hawa yang sejuk, dingin menyegarkan. Sayangnya di Lembah Asri belum ada kerimbunan pohon sebagai peneduh pengunjung. Tapi kalau panyak pohon peneduh pasti akan mengganggu pengunjung saat menikmati bleger yang sangat anggun dari Gunung Slamet. Gunung Slamet saat pagi hari, jika tak ada mendung, antar jam lima sampai jam delapan sangat elok untuk dipandang dari Lembah Asri.

Gunung Kelir, Punthuk Si Kembar
Sebagai judul artikel Gunung Kelir, Punthuk Si Kembar yang jadi inti cerita. Bagi penggemar pemandangan alam yang berkunjung ke Lembah Asri dapat hunting sunrise, matahari terbit. Tentu saja harus pagi hari. Ada sebuah bukit di sebelah selatan Lembah Asri yang sangat ideal untuk menikmati jingganya matahari pagi.

Kita dapat bermalam di Lembah Asri, dapat tiduran di aula. Kemarin kami tidur di aula, beralas karpet, cukup nyaman sebagai pecinta alam. Sempat membuat api unggun untuk penambah kegembiraan dan pengusir dingin.

Bermalam di Lembah Asri cukup nyaman. Ada fasilitas listrik, toilet, aula, warung dan keamanan. Hawanya sejuk, suasana desa dan suasana gunung sangat terasa. Pengunjung yang bermalam di Lembah Asri dapat mendengar bunyi-bunyian serangga malam.
Jika langit cerah pemandangan sangat menakjubkan, ada bintang-bintang yang menyinari Gunung Slamet. Akan lebih indah jika Gunung Slamet sedang berkenan mengeluarkan cahaya apinya dari kepundannya. Indah. Cahaya listrik di sekitar area masih sangat terbatas sehingga membantu kita untuk dapat menikmati suasana alam yang asli.

Gunung Kelir arahnya adalah dari Lembah Asri ke arah timur, lewat sebuah jembatan Kali Semblekor, terus saja ikuti jalan yang terbuat dari paving blok, jalan kemudian berbelok ke utara. Akhir dari jalan berpaving ini adalah rintisan jalan beraspal yaitu jalan yang dialasi dengan tatanan batu-batu menonjol. Sesampainya di hutan pinus kita harus belok kanan ke arah timur lagi.

Hutan pinus ini sangat layak untuk berkemah, kontur tanahnya datar, teduh dan aman dari kebisingan lalu lintas. Dekat sumber air, sebuah sungai yang jernih. Kita ikuti jalan tanah yang ke arah timur, sampailah ke sebuah sungai dengan air yang sangat jernih, air pegunungan yang bening dan terasa dingin menyegarkan.

Di sungai ini ada sedikit air terjun, sungai ini di beri nama Sungai Rejasa. Setelah melewati Kali Rejasa kita sampai di perkebunan tumpangsari, yaitu hutan pinus yang di sekitar pohon pinus ditanami sayuran, cabe, wortel, kobis dan ketela pohung (boled).

Ada hal yang sangat menarik yaitu mayoritas kebun tumpang sari ini disebari dengan bunga-bunga putih, bertebaran, berserakan menutupi area. Ternyata bunga-bunga putih ini adalah bunga dari pohon Puspa. Bunga Puspa mirip bunga Kamboja, hanya lebih kecil. Buahnya berwarna coklat mirip buah kelengkeng.

Penulis melakukan perjalanan pagi jam setengah lima, dengan kondisi bekas hujan di sore hari maka jalan setapak yang harus dilalui terasa lebih mengasyikan. Harus hati-hati karena licin.

Saat ini jalan menuju Punthuk Si Kembar ini baru rintisan, masih sangat sederhana. Sebagian jalan setapak yang ada adalah bekas aliran air dari atas bukit, selebihnya trap-trap yang dibuat seadanya. Jalan setapak ini di samping menanjak juga cukup licin. Untuk sampai di Punthuk Si Kembar kita harus sedikit mendaki bukit sekitar satu kilo meter, dengan kemiringan 45 derajat sampai 60 derajat.

Jika diukur menggunakan artimeter ketinggian Punthuk Si Kembar ini ada sekitar seribu dua ratus meter di atas permukaan laut.
Pemandangan yang kita temui di Punthuk Si Kembar akan mampu menghapus sedikit keringat yang telah keluar di pagi hari. Jauh di timur tampak puncak Sindoro-Sumbing, bulatan matahari merah, awan yang berwarna jingga membias memenuhi langit. Awan bagai lautan, ada yang tampak putih merata, ada pula yang tampak bagai gulungan ombak. Di kanan bawah tampak perkampungan sekitar Desa Sangkanayu dan Serayu Larangan.

Di bawah kaki kita adalah jurang yang dalam, sekitar tigaratus lima puluh meter, membentuk semacam talang alam, ada bunyi air gemeracak, pertanda ada sungai yang mengalir deras. Tebing jurang ini dihiasi dengan tanaman yang sangat lebat, barangkali masih merupakan hutan primer, belum dijamah oleh tanaman perkebunan.
Dan di bawah sana jika lewat desa Serang bagian selatan dapat di dekati sebuah air terjun yang cukup besar yaitu Curug Lawang.

ayangnya Curug Lawang tidak terlihat dari Punthuk Si Kembar.
Jurang yang bagaikan talang air ini diapit oleh tiga bukit, yaitu Gunung Kelir yang kita injak, lalu di sebelah selatan ada Bukit Siwarak, dan yang ketiga di sebelah utara Gunung Kelir adalah bukit tertinggi di wilayah Serang, bernama Gunung Blencong.

Puncak Gunung Kelir atau tepatnya Bukit Kelir terdapat tempat yang dibuat untuk dapat digunakan pengunjung melihat terbitnya matahari pagi. Saat ini masih membekas bekas-bekas babatan rerimbunan perdu.

Pemandangan yang dapat dinikmati adalah; jauh di sebelah timur tampak puncak Gunung Sindoro-Sumbing, layaknya dua puncak gunung yang nyaris sama, baik bentuk maupun besarnya maka Bukit Kelir dimana tempat menikmati pemandangan yang menakjubkan, indah dan mempesona ini diberi nama Punthuk Si Kembar.
Barang siapa yang pernah ke Punthuk Setumbu yang berada di wilayah Magelang, dekat Candi Borobudur maka pemandangan di Punthuk Si Kembar di Desa Serang ini nyaris sama, bahkan menurut hemat penulis Punthuk Si Kembar lebih memikat. Pemandangannya lebih luas sehingga kita dapat melihat lautan awan yang berada di bawah kita, benar-benar seperti lautan dengan ujud ombak yang seakan bergulung-gulung.

Jika Punthuk Setumbu di daerah Magelang kita hanya dapat melihat ke satu arah yaitu puncak Candi Borobudur di kejauhan, lalu puncak Merbabu dan Merapi di sebelahnya maka di Punthuk Si Kembar di samping kita dapat melihat puncak Sindoro-Sumbing di arah timur maka di arah barat kita dapat melihat bukan lagi puncak Gunung Slamet, tapi kita disuguhi pemandangan yang sangat menakjubkan sosok Gunung Slamet yang sebenar-benarnya.

Gunung Slamet tampak dekat, lekak lekuk tubuhnya nyata, seluruh tumbuhan terlihat tajuk-tajuknya. Puncaknya sangat terlihat nyata, ujud bebatuan, dan warna kemerah-merahan dari puncak Gunung Slamet sangat jelas.

Ada sedikit cerita unik dari keberadaan Gunung Kelir. Konon yang dimaksud kelir disini adalah kelir pertunjukan wayang kulit. Kain putih yang digelar, menjadi latar belakang saat dalang memainkan wayang. Kain putih ini juga tempat bayangan wayang terbentuk. Kelir melambangkan jagad raya di dunia pewayangan.

Konon dahulu di atas gunung kelir sering muncul kabut putih yang tebal dan tampak seperti kelir dalam pewayangan. Di kanan kiri kabut kadang tampak seperti jajaran wayang dalam pagelaran wayang. Yang menakjubkan adalah bunyi gending yang setiap kali terdengar dari Gunung Kelir. Bunyi gending dari Gamelan Kyai Kenong.

Dulu di Gunung Kelir ada juru kunci yang merawat Gamelan Kyai Kenong. Tugasnya adalah mengelola seperangkat gamelan, alat musik pengiring pertunjukan wayang.

Gamelan Kyai Kenong ini sangat unik karena tak selalu dapat dilihat dengan mata normal. Namun demikian ada saatnya gamelan ini justru dapat dipegang, dibawa dan dapat pula dibunyikan untuk mengiringi pertunjukan wayang.

Dahulu masih jarang orang memiliki seperangkat gamelan, maka kadang gamelan Kyai Kenong dipinjam untuk dibunyikan mengiringi pertunjukkan wayang kulit. Jika ada yang akan meminjam Gamelan Kyai Kenong maka harus minta ijin melalui Ki Juru Kunci.

Pada awalnya gamelan ini tidak kelihatan oleh si peminjam namun setelah Ki Juru Kunci duduk semedi di tempat penyimpanannya. Ritual memohon agar Kyai Kenong dapat hadir adalah dengan cara memanjatkan doa pemanggilan. Ki Juru Kunci berdoa sambil membakar kemenyan. Dengan ritual ini segera saja gamelan Kyai Kenong muncul dan dapat dilihat oleh semua orang.

Setelah dipinjam Kyai Kenong harus dikembalikan lagi dalam keadaan lengkap ke Juru Kunci yang kemudian akan menyimpannya kembali secara gaib, sehingga tidak setiap orang dapat melihat ujud gamelan Kyai Kenong.
Sekarang Kyai Kenong sudah pensiun, tidak dapat dipinjam lagi. Kenapa? Diceriterakan bahwa suatu hari Gamelan Kyai Kenong dipinjam oleh orang Pemalang untuk mengiringi pertunjukan wayang kulit, ternyata ketika dikembalikan ada yang tidak lengkap yaitu alat pemukul kenong.

Sejak saat itulah Kyai kenong tidak berkenan lagi untuk dipinjamkan, bahkan tidak pula berkenan untuk muncul dalam ujudnya yang nyata. Namun demikian setiap Kamis Wage malam Jumat Kliwon sampai saat ini masih dapat didengar suara gamelan yang sering terdengar dan diyakini sumber bunyinya dari Gunung Kelir.

Suara gamelan Kyai Kenong. Bunyinya merata menyusup merdu ke telinga penduduk di sekitar Gunung Kelir.
Seperti tertulis di atas bahwa di sebelah utara gunung Kelir adalah Gunung Blencong. Blencong adalah salah satu nama alat dalam pertunjukan wayang kulit. Blencong adalah lampu penerang yang selalu dipasang di atas sang dalang. Blencong dilambangkan sebagai matahari yang menyinari jagad raya. Dalam pertunjukan wayang blenconglah yang membentuk bayangan boneka kulit sehingga disebut sebagai wayang kulit.

Konon diberi nama Gunung Blencong karena dahulu saat terdengar suara gamelan dari Gunung Kelir maka terlihat cahaya mirip sinar lampu blencong dari puncak bukit di sebelah utara Gunung Kelir. Oleh sebab itulah maka bukit yang tampak tertinggi di wilayah Serang itu diberi nama Gunung Blencong.
Di Desa Serang ini ada beberapa air terjun yang masing-masing memiliki kisah unik. Curug ini ada di sebelah barat desa, minimal ada empat air terjun. Curug Sikopyah, Curug Bandang, Curug Telu, dan Curug Ilang. Ada nama-nama yang punya cerita juga antara lain Kyai Mustofa, Nyi Rantensari, Kaliurip, Kali Soso, Kali Semblekor dan Kali Rejasa. (Penulis adalah Toto Endargo, Guru di SMP Negeri 2 Purbalingga)

Comment

Berita Lainnya