Mengenal AKBP Kholilur Rochman, SH SIK MH, Kapolres Purbalingga – Peran Keluarga Sangat Penting Dalam Pendidikan Karakter

By: On: Dibaca: 7,108x
Mengenal AKBP Kholilur Rochman, SH SIK MH, Kapolres Purbalingga –  Peran Keluarga Sangat Penting Dalam Pendidikan Karakter
Kapolres Purbalingga AKBP Kholilur Rochman, SH SIK MH

Kemajuan teknologi di Indonesia saat ini terutama yang berbasis layanan internet pasti akan memberikan dampak positif dan juga dampak negative. Smartphone (telepon pintar) memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk mengakses jaringan internet dimana pun dan kapan pun.

Kemajuan teknologi yang begitu pesat telah memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam menjalankan aktivitas kesehariannya terutama dalam mengakses informasi dengan cepat. Kemajuan teknologi juga memberikan pengaruh signifikan terhadap kehidupan masyarakat termasuk dalam ruang lingkup keluarga.

Salah satu upaya orang tua dalam memberikan pendidikan bagi anak dalam keluarga di era digital seperti sekarang ini adalah dengan memberikan pendampingan dalam penggunaan teknologi bagi anak. Karena melalui pendampingan tersebut, orang tua dapat mengawasi anak dan mengarahkan konten-konten positif bagi anak untuk menggunakan kemajuan teknologi secara tepat  sesuai dengan masa tumbuh kembang anak.

“Tentunya kita sebagai orang tua menginginkan kemajuan teknologi tersebut memberikan manfaat positif sebanyak-banyaknya bagi tumbuh kembang anak terutama tumbuh kembang psikologisnya,” Kapolres Purbalingga, AKBP Kholilur Rochman, SH SIK MH.

AKBP Kholilur Rochman yang menjabat Kapolres Purbalingga sejak Desember 2018 ini menyakini, dalam konteks penggunaan media social, karakter generasi muda sekarang ini terbentuk  juga dari peran dari media sosial itu. Nah, peran dari orang tua yang diperlukan adalah untuk mengubah atau setidak-tidaknya mengerem serbuan media social untuk para generasi muda.

Kenapa, berita-berita di media sosial yang tidak benar asal-usulnya itu menjadi sebuah pembenaran bagi mereka. Padahal, berita-berita di media social itu tidak bisa dipertanggungjawabkan dari mana sumbernya. Dan menurut mereka adalah sebuah kebanaran.

Konten-konten di media social itu sangat menarik dan kita tidak membendungnya. Seperti game-game online, bagi anak-anak sangat menarik tapi tidak mendidik. Apalagi konten-kontennya dianggap tidak provokatif. Pendidikan karakter generasi muda memerlukan peran seluruh stakeholder, tapi yang utama adalah peran orang tua dalam keluarga.

Mereka kaum millennial menganggap berita-berita di media social itu bervariasi dan menarik. Mereka ini sebenarnya banyak dirumah, maka yang diperlukan komunikasi orang tua dengan anak. Bisa saat nonton TV, atau makan makan malam bersama. Permasalahannya, para orang tua juga sibuk bermedia sosial, termasuk juga saya sendiri, sibuk memegang ponsel sendiri

“Yang ideal, pendidikan karakter diajarkan dan dibantukan secara sinergis lingkungan sekolah, orang tua, media, dan masyarakat dan lewat semua pelajaran. Tanpa kerja sama semua pihak tersebut, maka pendidikan karakter akan sulit berhasil, bahkan bisa gagal,”ungkapnya

Untuk itu lanjut  Mantan Kapolres Lombok Tengah, suri tauladan dari orang tua sangatlah penting, ada peribahasa mengungkapkan buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Jadi apa yang diperlihatan orang tua kepada anaknya, maka itu yang terekam oleh mereka. Orang tua yang tak peduli dengan anaknya, dapat dipastikan anaknyapun akan tak peduli dengan orang tuanya.

Namun sebaliknya, jika orang tuanya mengajarkan sholat atau mengaji. Merekapun juga akan merekam dan menirunya. Dari sini, karakter-karakter mereka terbentuk.  Dari perilaku orang tua yang ditunjukan, dipastikan anak-anak akan mencontohnya.

“Ada kebiasaan silaturahni saat hari Idul Fitri, kita selalu saling mengunjungi ke tetangga untuk bersalaman. Kekerabatan kita terlihat kental disitu, tapi mungikin sekarang dengan kemajuan teknologi, silaturahmi bergeser dan diwakilkan dengan WA atau SMS saja. Budaya malas, rasa individual terlihat nyata. Apa penyebabnya, telepon pintar. Telepon pintar telah mengikis jiwa-jiwa social. Bagi Saya, halal bi halal harus dipertahankan, silaturahmi wajib kita rawat bersama,”ungkapnya.

Ia mencontohkan, dulu sebelum ada media social, saat melakukan perjalanan menggunakan kendaraan umum seperti naik pesawat atau kereta api.  Kita duduk bersebelahan dengan orang lain, sebenarnya awalnya tidak saling kenal. Kita pasti akan membuka pembicaraan dan melakukan interaksi komunikasi. Namun sekarang, peristiwa itu tidak akan terlihat lagi, karena kita sama-sama sibuk dengan telepon pintar masing-masing.

“Dulu nih, pengalaman pribadi. Saya pasti akan bertanya dari mana asalnya, tujuan Bapak kemana?, Bapak tinggal dimana? Sudah berapa lama tinggal di sana ?. Itu interaksi sosial yang terjadi. Di situ kita dapat kita menemukan sahabat baru, kita dipersatukan dengan interaksi yang luar biasa,”ungkapnya.

Intinya lanjutnya, melalui pendampingan orang tua kepada anak saat menggunakan handpone tentunya dapat meningkatkan peran keluarga dalam mendidik anak di era digital. Karena tentunya kita mengharapkan kemajuan teknologi saat ini dapat bermanfaat bagi anak baik untuk meningkatkan kemampuan berfikir serta pembentukan mental si anak.

“Selain itu, pendampingan orang tua bagi anak saat menggunakan telepon pintar juga dapat meningkatkan hubungan emosional antara orang tua dan anak,”ungkapnya.

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!