by

Mengapa Guru Sulit Berubah – Oleh Rasmo, S.Pd

-Opini-dibaca 159.01Rb kali | Dibagikan 35 Kali

312331_101751856595938_5961920_n

 

  1. Pendahuluan

Momentum sering hanya diartikan sebagai ‘waktu yang tepat’ untuk melakukan sesuatu, padahal kata ini bermakna kemampuan untuk selalu meningkatkan dan mengembangkan (diri, pengetahuan, keterampilan), tetapi juga dapat berarti kekuatan yang diperoleh dari sebuah gerakan (Hornby,2000). Makna yang terakhir ini boleh jadi merupakan makna yang tepat untuk diterapkan bagi kondisi guru saat ini.

Pemerintah sudah pasti akan melaksanakan uji kompetensi bagi guru karena hal itu merupakan perintah dari UU No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, PP no.19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, dan UU No.14/2005 tentang Guru dan Dosen. Uji kompetensi untuk memperoleh sertifikat profesi itu tampak tersendat karena berbagai hal.

Gejalanya dapat dilihat jelas di lapangan.Pada tahun 2004 sudah disiapkan berbagai kegiatan untuk menyongsong uji kompetensi itu. Departemen telah membentuk Kelompok Kerja Sertifikasi Guru (diketuai oleh Prof.Muchlas Samani), yang antara lain bertugas menyusun soal-soal uji kompetensi (yang melibatkan penulis).

Departemen Pendidikan sudah mengumumkan (2005) bahwa jumlah guru kita 2,7 juta orang dan yang sudah bergelar S1/D4 mencapai 1,6 juta. Dari sekian banyak itu direncanakan 20.000 guru akan mengikuti uji kompetensi tahun 2006, disusul 200.000 tahun 2007. Tetapi, sampai dengan awal 2007 uji kompetensi itu belum dilaksanakan, bahkan ada berita bahwa jatah 20.000 itu baru akan dilakukan tahun 2007 ini.

Di lain pihak guru pun tidak bergerak. Mereka tampak tidak tergerak untuk berubah dan mengubah diri untuk meningkatkan profesionalisme mereka. Gejala bahwa guru lamban dalam upaya meningkatkan mutu profesionalisme itu sebenarnya lama terjadi, sehingga terjadi kontroversi: di satu sisi posisi guru ingin dipandang dan diakui sebagai profesi dan guru menjadi seorang profesional, dengan berbagai haknya, di sisi lain mereka sulit menerima kewajiban yang layak menyertai konsep profesi dan profesional itu. Kewajiban itu, misalnya, guru harus terus-menerus belajar, terus-menerus menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu dan teknologi, dan sebagainya.

Tulisan ini sebenarnya bertujuan hendak mengajak guru untuk menyadari momentum uji kompetensi tadi dan menggunakannya sebagai suatu gerakan peningkatan dan perbaikan mutu profesionalisme mereka, tanpa harus memikirkan ada atau tidaknya uji kompetensi itu.

Tulisan ini diharapkan bermanfaat bagi guru, dalam arti jika guru sudah mengetahui apa posisi diri mereka, apa yang menjadi harapan masyarakat, dan kendala-kendala yang ada pada dirinya, maka seharusnya mereka tahu apa yang seharusnya dan selayaknya mereka lakukan; apalagi jika mereka ingin disebut sebagai seorang profesional, dan ingin agar karya guru menjadi bukan sekadar “pekerjaan” melainkan profesi.

Tulisan ini hendak membahas peran guru, harapan masyarakat terhadap guru, dan kendala yang ada pada guru, khususnya ketidakmauan guru untuk berubah.Landasannya tidak terletak pada teori-teori “murni” tertentu melainkan pada pandangan-pandangan yang bersumber pada teori-teori tersebut.Muara tulisan ini ialah menjawab persoalan mengapa guru sulit berubah.

  1. Pembahasan

2.1 Predikat Guru

Guru di Indonesia sering memperoleh predikat yang menyejukkan atau membanggakan, tetapi sang guru tetap saja “begitu”, in status quo, tidak berubah. Guru disebut “pahlawan tanpa tanda jasa”, padahal seharusnyalah mereka sudah memiliki tanda jasa. Tidak muluk-muluk tanda jasa itu.“Cukup jaminan bahwa mereka akan mendapatkan kehidupan yang nyaman sehingga dapat melanjutkan profesi mulianya”, kata Rika Yudani (2005).

Sayangnya, penghargaan yang real berwujud nafkah yang layak pun masih menjadi impian.Bahkan guru-guru “kontrak” dibayar ala kadarnya, mungkin malah sekadar imbalan berupa ucapan “Terima kasih” sehingga bisa disebut Guru Terima Kasih (Wejak, 2005).

Guru sering disebut sebagai fasilitator, dalam arti guru harus memberi kemudahan bagi muridnya untuk belajar dan menemukan sumber belajar. Termasuk tugas fasilitator ialah membuat ilmu yang “sulit” bagi murid menjadi “mudah” setelah ada intervensi guru.Sayangnya, banyak kali murid justru menjadi bingung dan tidak mengerti setelah mengikuti pelajaran guru mereka. Bahkan saat ini, ketika teknologi informasi sudah maju, murid sendiri lebih mampu mencari sumber belajarnya, lebih banyak difasilitasi oleh teknologi internet. Sementara itu, guru-guru malah banyak yang gagap teknologi, menyentuh komputer pun tidak pernah (Atau tidak mau!?), apalagi menjangkau internet.

Ada yang menempatkan guru bukan sebagai “sekadar pekerja (atau karyawan)” melainkan sebagai pekerja budaya (Lie,2005) yang harus memperoleh perlindungan hukum atas hak-hak personal dan profesionalnya. Sayangnya, hal itu juga belum terwujud betul.Sebagai pekerja budaya teramat layak jika mereka sedikit banyak diperlakukan seperti seniman atau budayawan yang memperoleh kebebasan berkarya, yang mengemban tugas (meminjam istilah Drijarkara) “memanusiakan manusia” melalui pembudayaan anak untuk memasuki budaya masyarakatnya.Tentu saja dengan imbalan yang layak.

Dalam hubungan dengan pekerja budaya itu patut dicatat bahwa guru itu haruslah menjadi seniman, karena mengajar itu bukan hanya ilmu melainkan juga seni. Seni atau kiat mengajar guru itu tampak jika ketika guru sedang mengajar seturut rancangannya tiba-tiba terjadi peristiwa yang tidak terduga atau tidak terencana sebelumnya.Sebagai seniman pun guru harus diberi kebebasan berkarya (Baca Suparno, 2004).Bahkan DePorter dkk.(2000) menempatkan guru sebagai dirigen, orang yang memimpin seniman-seniman musik dalam sebuah ensambel pembelajaran di kelas.

Lebih memfokus lagi, guru itu diharapkan menjadi agen reformasi dalam dunia pendidikan, dunia guru sendiri.Dalam hubungan dengan reformasi pendidikan itu guru sering diberi predikat sebagai ujung tombak pembaruan, terutama di dalam kelas. Ujung tombak itu harus dimaknai sebagai proses pengajaran dan pemelajaran di dalam kelas,dan dari situlah pendidikan kelak terwujud.

Proses pengajaran dan pemelajaran itu akan menghasilkan, dalam jangka waktu dekat, dampak atau hasil instruksional (instructional effects), dan yang lebih penting lagi, dalam jangka jauh, dampak pengiring (nurturent effects) seperti kedisiplinan, kejujuran, keadilan, cinta kasih terhadap sesama, toleransi, demokrasi, dan sebagainya. Tetapi, sebaik apa pun rancangan perubahan atau reformasi pendidikan yang ditetapkan, “bila guru tidak siap dan tidak mau melaksanakan perubahan itu, maka tidak terjadi apa-apa.” (Suparno, 2002).

2.2 Kendala Perubahan pada Guru

Dunia pendidikan di Indonesia ini ibarat kapal besar dengan muatan penuh.Jika pendidikan itu harus “dibelokkan” ke arah dunia baru reformasi terasa amat sulit, banyak sekali kendalanya.Dari dunia luar pendidikan, kendala itu tampak pada adanya intervensi politik, langsung atau tidak langsung.Namun, dari insan pendidikan sendiri tampak pada diri dan tubuh guru.

Sebagimana tersurat dan tersirat dalam paparan di depan, tampaknya banyak guru kurang memahami dirinya sendiri sebagai seorang profesional yang mengemban tugas dan fungsi sebagai profesi yang bernama guru.

Marilah kita mulai dari rekrutmen calon guru di LPTK. Banyak calon mahasiswa masuk ke LPTK (IKIP, FKIP, STKIP) karena terpaksa, karena tidak diterima di fakultas yang “hebat” seperti kedokteran, teknik, ekonomi, dsb. Kalau nilai ujian akhir SMA dipakai sebagai patokan, kadaan di atas menunjukkan bahwa yang masuk ke LPTK adalah mereka yang memiliki nilai rendah.

Mereka ini kelak menjadi guru bukan karena “panggilan” nurani untuk menjadi guru melainkan karena “panggulan” beban akademis (dan mungkin juga ekonomis) yang berat. Hal ini sudah dirasakan sejak tahun 1970-an.

  1. Penutup

Lalu, dari mana kita harus memulai?Pasti dari diri guru sendiri. Gurulah yang harus “membongkar” dirinya (Taruna,2002), diperiksa apa yang kurang dan apa yang dibutuhkan, lalu dengan niat baja memulai menguubah diri, dari hari ini, “Menjadi manusia pembelajar”. Learning to be harus diartikan “belajar menjadi”, dan tak pernah bisa jadi.“Aku”, yang sekarang sedang membaca buku tentang inovasi pendidikan, berbeda dengan “Aku” besok pagi karena besok “Aku” sudah menjadi “Aku + inovasi pendidikan”.

Hari berikutnya sudah menjadi “Aku + demokratis di kelas”, seminggu lagi sudah menjadi “Aku + dialog dengan muridku”. Begitulah, “Aku” tidak pernah betul-betul menjadi “Aku”, sampai aku mati, karena dalam diri “Aku” selalu bertambah “plus X”, apa pun yang namanya x itu.

Tulisan ini banyak mengambil manfaat dari surat kabar di samping buku. Dengan cara ini saya ingin membuktikan bahwa surat kabar, dengan artikel-artikelnya tentang pendidikan, mampu memberikan pencerahan dan membuka mata kita tentang berbagai masalah pendidikan.

Yang tidak kalah penting ialah kenyataan bahwa sebagian besar, kalau tidak seluruhnya, artikel-artikel tadi ditulis oleh guru.Dengan demikian juga ada peluang untuk memperoleh nafkah di luar gaji.Semoga guru-guru mau berubah menjadi penulis artikel.

DAFTAR PUSTAKA _ DePorter.2000. Quantum Teaching.Bandung: Kaifa._Drost,J. 2002. “On Going Formation bagi Seorang Guru”.KOMPAS.14 Februari 2002._Harefa, Andrias.2000.Menjadi Manusia Pembelajar. Jakarta: KOMPAS_Hornby,A.S. 2000.Oxford Advanced Learner’s Dictionary. Edited by Sally Wehmeier.Oxford: OxfordUniversity Press.

Comment

Berita Lainnya