by

Mencicip Manisnya Raja Madu Wana Bakti Purbalingga

-Inspirasi, Update-dibaca 6.80Rb kali | Dibagikan 47 Kali

Madu disukai oleh banyak orang karena mudah ditemukan dan mampu menjaga kesehatan tubuh hingga dapat dikonsumsi untuk pengobatan berbagai penyakit. Madu memiliki rasa manis yang khas.

Selain rasanya yang enak, madu juga mengandung unsur monosakarida fruktosa dan glukosa yang lebih baik ketimbang gula. Madu mengandung kalori gula yang dapat menyerap lemak dengan baik, terutama apabila dikonsumsi bersamaan dengan air hangat.

Menyajikan madu yang berkualitas telah dijalani Kak Dachuri sejak tahun 1980. Pimpinan Satuan Karya (Saka) Wanabakti Kabupaten Purbalingga ini memberi label Raja Madu Wanabakti. Raja diartikan sebagai Karangreja, Desa tempat tinggal Kak Dachuri, sedangkan Wanabakti diambilkan dari nama Saka. Selain itu, Wanabakti juga bisa diartikan, Kak Dachuri mengabdi atau berbakti kepada wana (hutan-red)

“Saya, anggota Pramuka Wanabakti. Tidak akan saya lupakan. Jadi saya harus memberi nama produk madu saya dengan nama Raja Madu Wanabakti,” ungkapnya

Lebah-lebah yang diternak oleh Pria kelahiran 6 Juni 1955 ini, jumlahnya ratusan ribu yang terbagi dalam ratusan kotak-kotak sarang Koloni Lebah. Sama halnya dengan ternak yang lain, lebah juga membutuhkan pakan yang cukup untuk kebutuhan hidup pokok, pertumbuhan koloni, produksi madu dan aktivitas reproduksi lebah.

Untuk makanan lebih ini, Kak Dachuri tidak perlu repot untuk memberi makan. Cukup membawa kotak-kotak itu ke satu tempat dan melepaskan koloni lebah untuk mencari makan. Makanan lebah sangat gampang dijumpai, hampir semua tanaman berbunga adalah penghasil nektar. Selain nektar, lebah juga memerlukan air untuk kelangsungan hidup anggota koloni.

Ketersediaan pakan lebah secara berkesinambungan merupakan salah satu syarat pendukung perkembangan koloni lebah dan produksi madu. Nektar merupakan hasil sekresi yang manis dari tanaman, merupakan bahan utama penyusun madu.

Baca Juga:  Kirab Merah Putih Menutup Festival Panglima Besar Jenderal Soedirman

“Misalnya, lebah dilepas diperkebunan kopi, maka koloni lebah ini akan menghasilkan madu kopi. Artinya, madu tersebut dikategorikan Mono Flora, yakni menghisap nektar tumbuhan satu jenis tumbuhan,” ungkapnya

Tempat mencari makan lebah ini juga bisa berpindah, bila dilepas di hutan belantara maka lebah akan menghasilkan madu yang berbeda. Namanya madu Multi Flora karena terdapat berbagai macam tumbuhan, seperti perdu, sengon, mahoni, dan akasia. Madu ini dihisap dari berbagai bunga pohon itu.

“Ada lagi madu extra flora, karena di hasilkan selain nektar bunga, seperti kuncup-kuncun daun yang mengandung cairan. Lebah ini menghisap, misalnya kuncup daun ketela atau daun-daun muda yang lain dan juga dari kelenjar sekresi binatang kecil seperti kepik yang menempel di daun atau ranting muda dan menghasilkan kelenjar,” ungkapnya

Untuk masa panen madu, biasanya sekitar satu hingga tiga bulan. Namun, kalau bergantian setiap kotak koloni bisa dipanen setiap bulan. Ada lebah namanya Lebah Mellifera yang bisa menghasilkan madu selama 6 bulan, mulai dari bulan Mei hingga bulan November. Lebah madu Mellifera merupakan lebah budidaya paling unggul.

“Selain menghasilkan madu yang melimpah, lebah jenis ini juga sangat jinak tidak mudah menyerang/menyengat dan relatif mudah pemeliharaannya,” katanya.

Untuk Kakak-kakak yang berminat membeli Raja Madu Wanabakti produksi Kak Dachuri ini, boleh berkunjung ke rumahnya di RT 01 RW 01 Desa Karangreja, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga. Kakak dapat menghubungi nomer ponsel 082326441999  sebelum membeli madu.

Kakak hanya perlu menyiapkan uang sebanyak Rp. 150.000 untuk membeli satu botol Madu biasa atau Multi Flora. Untuk madu unggulan, atau madu Kaliandra dengan harga Rp. 170.000- Rp 180.000.  Ada juga Madu Sarang  atau Hony Comb dengan harga 150.000- Rp 200.000 untuk satu kotaknya.

Baca Juga:  Indonesia Scout Journalist Korda Jateng Asah Kemampuan di Pusere Jawa

 

Comment

Berita Lainnya