Memompa Keberanian Membaca Puisi

By: On: Dibaca: dibaca 311.24Rbx
Memompa Keberanian Membaca Puisi

Menyongsong Parade Baca Puisi Penyair Indonesia

Siang itu, usai jam belajar mengajar di SMP Negeri 1 Mrebet, terlihat Frist Maeta Vela Bistari murid kelas 8 C, Pinkan Bunga Arnelita (8 A), Amanda Prixcila Tiara Nandini (8 C) tampak serius berlatih memompa keahlian membaca puisi.

Mereka bertiga akan tampil dalam perhelatan akbar Parade Baca Puisi Penyair Indonesia yang diselenggarakan oleh Komunitas Teater dan Sastra Perwira (Katasapa) Sabtu (26 Agustus 2017) besok.

Pengucapan kata yang utuh dan jelas menjadi target latihan. Selain itu pengucapan kata demi kata dengan tekanan yang bervariasi dan rasa. Cepat lambatnya pengucapan (suara), naik turunnya volume dan keras lembutnya diksi menjadi santapan wajib dalam membaca puisi,

“Saya masih malu. Ini tantangan tersendiri menumbuhkan keberanian membaca di depan orang banyak,”ungkap Pinkan Bunga Arnelita.

Guru pembimbing, Agustav Triyono meyakini, membaca puisi harus pandai mengatur dan menyesuaikan dengan kekuatan nafas. Kapan harus ada jeda, kapan harus menyambung atau mencuri nafas. Lemah dan kerasnya suara setidaknya harus sampai pada penonton, terutama pada saat lomba membaca puisi.

“Sulit sekali menciptakan dinamika yang prima dengan mengatur rima dan irama dan pemenggalan sebuah kalimat,”tambahnya

Membaca puisi merupakanbentuk kegiatan mengungkapkan kembali isi puisinya. Pengungkapan yang dilakukan oleh si pembaca harus sesuai dengan makna puisi. Maka dari itu agar si pembaca dapat mengungkapkan puisinya dengan tepat dia harus mengerti dulu apa isi dari puisi tersebut.

Memahami sikap pengarang terhadap masalah yang diungkapkan (perasaan pengarang).Caranya adalah dengan memahami sikap pengarangnya tentang sesuatu yang diungkapkan misalnya,dalam mengungkapkan masalah kebangsaan pasti penyair akan memiliki sikap yang berbeda beda.

Penjiwaan berkaitan dengan suasana hati, bisa dilihat dari warna suara atau bahasa tubuh si pembaca akibat dari pemaknaannya terhadap puisi tersebut. Puisi yang berisi patriotisme misalnya penjiwaannya penuh dengan semangat pada saat puisi itu dibacakan.

“Sikap itu akan tercermin di larik larik puisinya.Pembaca puisi harus mampu memahamai dan mengungkapkan perasaan pengarang puisi dengan baik. Disinilah kesulitannya,”ungkap Agustav.

 

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!