Membentuk Karakter Bangsa Dengan Membaca

By: On: Dibaca: 5,145x
Membentuk Karakter Bangsa Dengan Membaca

Melalui gerakan gemar membaca, Dinas Arsip Dan Perpustakaan Purbalingga ingin membentuk karakter generasi penerus. Hal tersebut dirasa perlu karena menurut Kepala Dinas Arsip Dan Perpustakaan Purbalingga, Soeparso, banyak siswa yang tidak memahami apa yang mereka baca sehingga produk yang dihasilkan tidak berkarakter.  Hal itu disampaikan Soeparso saat acara pembukaan lomba karya tulis ilmiah yang diselenggarakan oleh Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pemuda Pelajar Nahdlatul Ulama (IPPNU) Sabtu (10/3/2018) di Dinas Arsip Dan Perpustakaan Purbalingga.

Soeparso menjelaskan, banyak anak lulusan Sekolah Dasar (SD) yang ketika menginjak ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) mengalami perubahan perilaku yang cenderung nakal. Hal itu dikatakan Soeparso karena budaya membaca yang rendah. Siswa-siswa SD khususnya tidak paham maksud apa yang mereka baca karena budaya membaca di Kabupaten Purbalingga masih rendah.

“Banyak anak SMP yang nakal bahkan menantang gurunya untuk berkelahi karena pada saat usia emas dan SD, mereka tidak paham apa yang mereka baca,” jelas Soeparso.

Dia mengatakan, Perpustakaan Purbalingga akan sangat senang apabila Perpustakaan milik Daerah tersebut digunakan untuk kegiatan yang bermanfaat seperti lomba karya tulis dengan tema “Andai Aku Jadi Duta Toleransi” itu. Menurutnya, literasi di Indonesia dan Purbalingga khususnya masih rendah sekali. Program Perpustakaan keliling ke Desa-Desa pinggiran adalah upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purbalingga untuk meningkatkan minat baca bagi masyarakat yang ada di pinggiran.

“Semoga Perpustakaan keliling ke Desa-Desa bisa meningkatkan baca di kalangan masyarakat,” harapnya.

Wakil Bupati Dyah Hayuning Pratiwi yang membuka perlombaan itu berujar, masih sedikit sekali orang yang merintis Perpustakaan di Desa. Banyak Sarjana yang di Desa belum menelurkan ide untuk membuat Perpustakaan yang bisa mendongkrak minat baca. Bahkan  wanita yang akrab disapa Tiwi itu menuturkan, perintis minat baca justru berasal dari profesi semacam Polisi, penjual jamu dan penggembala.

“Mari jadi perintis minat baca di Desa-Desa. Saya bangga dengan bapak Polisi yang belum lama ini dapat penghargaan karena usahanya menumbuhkan minat baca,” pungkasnya. (

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!