by

Melihat Semangat Sumiarti Penderita Thalasemia dari Desa Gunungwuled Purbalingga

-Inspirasi, Update-dibaca 2.80Rb kali | Dibagikan 29 Kali

Setiap harinya, Sumiarti (26) hanya bisa mengerjakan pekerjaan di rumah saja.Kondisi tubuh yang sering lemas membuatnya tak bisa melakukan pekerjaan berat. Bekerja sebagai buruh bulu mata rumahan (plasma) menjadi pilihan yang bisa dia lakoni.

Meski hasilnya tak seberapa, warga Dusun Bawahan, Desa Gunungwuled Kecamatan Rembang Purbalingga tetap semangat. Dalam seminggu ia hanya bisa mendapat bayaran tiga puluh ribu rupiah. Sumiarti mau tak mau menjalaninya. Karena ia harus bisa berdamai dengan kondisinya yang bergantung pada transfusi darah rutin setiap bulannya.

Sumiarti dan kedua adiknya menderita Thalasemia. Penyakit ini adalah kelainan darah turunan sehingga tubuh memiliki lebih sedikit hemoglobin. Padahal, hemoglobin membantu sel darah merah membawa oksigen. Akibatnya, penderitanya kerap mengalami anemia dan merasa lesu. Penyebab thalasemia adalah mutasi DNA pada sel yang bertugas memproduksi hemoglobin.

“Saya tahu menderita penyakit ini saat kelas 2 SMP, umur 12 tahun. Dulu sering sakit-sakitan dan diobati tidak sembuh-sembuh, kalau sakit badan pasti lemas tak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya ke rumah sakit di chek kesehatan. Ternyata menderita Thalasemia.Kalau adik yang nomor 2 ketauan pas umur 14 tahun, sedangkan yang bungsu yang bernama Eva diketahui mengidap thalasemia saat berumur 6 tahun,” tutur Sumiarti.

Ia bercerita, dulu ia dijauhi teman-teman, mereka takut akan tertular dengan penyakit saya, apalagi kalau pas perutnya membuncit karena limfa membesar.

“Ada pula yang mengatakan dirinya sedang hamil, dan itu membuatnya malu,” kenang Sumiarti.

Kini, Sumiarti dengan keluarga setiap bulan harus mengeluarkan anggaran transport ke rumah sakit. Dulu beberapa kali diantar Baznas. Namun, kadang bisa kadang tidak bisa, apalagi saat pandemi Covid-19. Permasalahan bertambah dengan penghasilan yang tidak menentu tentu menjadi beban tersendiri bagi mereka. Ketersediaan pasokan darahpun membuat mereka bergantung dengan stok darah di rumah sakit.

“Sekarang stok darah berkurang, paling dapat darah satu kantong, kalau kesana darah tidak ada, maka kami bergantian, yang paling sehat yang menunggu dapat darahnya,” tutur Sumiarti dengan suara parau.

Giseroseni (47) ibu Sumiarti mengungkapkan, untuk transfusi darah tidak dimintai biaya, tetapi untuk transport kesana masih berat karena harus menanggung tiga orang, sedangkan penghasilan tidak seberapa.

“Kalau ada yang ngontrak jadi buruh tani paling sehari dibayar 40 ribu, itu pun belum tentu ada, kalau ngga ya kami bertani menanam pakis di dekat kebun Sudirman,” ungkapnya

Inisiator Sedekah Sepatu Layak Pakai, Yuspita Palupi menuturkan, timnya bertemu dengan Sumiarti  saat berkunjung ke rumahnya untuk membagikan donasi sepatu yang tekumpul.

“Awalnya kami kesini untuk membagi sepatu dan menyerahkan handphone titipan donatur. Dari informasi yang kami dapat, ada anak penderita thalasemia di dusun ini (Bawahan, red) yang memiliki semangat tinggi untuk tetap sekolah meski sedang sakit. Ia membutuhkan handphone untuk menunjang kegiatan pembelajaran yang saat ini dilakukan di rumah secara online selama masa pandemi, ” ungkapnya kepada cyber media lintas24.com.

 

 

 

Comment

Berita Lainnya