by

Masa Depan Sepakbola Indonesia Saat Pandemi Covid-19

Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) bekerja sama dengan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) menyelenggarakan seri diskusi online Covid Talk dengan tema “Masa Depan Sepakbola Indonesia & Semangat Gotong Royong Suporter dalam Menghadapi Pandemi Covid-19”.

Coach Timnas U-16 Bima Sakti, Pengamat Sepakbola Indonesia Ma’ruf El Rumi, Pengamat Perilaku Suporter Fajar Jun, Kapten PSPS Riau Redo Rinaldi dan pemain futsal timnas Indonesia Filipo Inzaghi menjadi narasumber pada diskusi itu

Wabah Covid-19 yang melanda dunia membawa dampak di semua bidang kehidupan, tidak terkecuali olah raga khususnya sepak bola. Hampir semua liga sepak bola dunia saat ini dihentikan sementara untuk mencegah makin meluasnya Covid-19 akibat berkumpulnya massa penonton. Hal tersebut tentu berdampak besar bagi masa depan kompetisi sepak bola karena kapan wabah ini akan berakhir kapan juga belum tahu sampai sekarang.

PSSI resmi menghentikan kompetisi Liga Indonesia di level liga 1 maupun 2 pada tanggal 27 Maret 2020 silam dan jika keadaan sudah memungkinkan akan digulirkan kembali tanggal 1 Juli 2020 mendatang. Penghentian kompetisi ini tentu berimbas pada masa depan sepak bola Indonesia secara umum dan kondisi keuangan klub-klub sepak bola peserta liga 1 serta 2 karena pendapatan klub berasal dari bergulirnya kompetisi.

Kondisi keuangan klub-klub sepak bola Indonesia tersebut kemudian berimbas pada pendapatan yang diterima oleh pemain karena PSSI sudah mengeluarkan edaran bahwa klub-klub liga 1 dan 2 bisa  menggaji para pemain maksimal sebesar 25% selama kompetisi dihentikan sementara. Hal tersebut dibenarkan oleh Redo Rinaldi, pemain PSPS Riau yang berlaga di Liga 2.

“Bagi kami yang bermain di Liga 2, pemberian gaji sebesar maksimal 25% tersebut tentu berat, saya sendiri punya usaha kecil-kecilan kalau untuk diri sendiri bisalah, yang lain tidak tahu,” katanya.

Menanggapi ketentuan gaji pemain tersebut, Bima Sakti pelatih timnas U-16 berkomentar bahwa kondisi tersebut menjadi pembelajaran bagi para pemain bola di Indonesia terutama yang masih muda untuk disiplin mengatur keuangan mereka.

“Karena rejekinya pemain bola ini seperti rejekinya harimau, dapatnya banyak tapi habisnya bisa cepat,” ujarnya.

Masa Depan Liga Indonesia

Kemungkinan dilaksanakannya kompetisi Liga Indonesia tanpa penonton, Ma’ruf El Rumi pengamat sepak bola Indonesia mengatakan bahwa yang paling mungkin dilakukan adalah pertandingan tanpa penonton. “Sejauh belum ditemukan vaksin Covid-19 maka tidak mungkin pertandingan dengan mengerahkan massa digelar. Pertandingan dengan mengerahkan massa dalam jumlah besar maka resiko penularan juga sangat besar,” ujarnya.

 

Meskipun demikian, Ma’ruf buru-buru menambahkan dalam konteks situasi di Indonesia dengan segala keterbatasan fasilitas latihan dan pertandingan sepakbola serta kemampuan melakukan tes Covid-19 maka pertandingan tanpa penonton pun mustahil dilakukan.

“Sepak bola itu olah raga yang sarat kontak fisik, semua pihak yang terlibat mulai dari para pemain, official, wartawan sampai personil perlengkapan pertandingan harus bebas Covid-19. Dengan kondisi saat ini sulit dilaksanakan pertandingan meskipun tanpa penonton,” sambungnya.

Sementara tentang performa sepak bola Indonesia pasca wabah Covid-19, Fajar Jun, pengamat perilaku supporter, mengatakan bahwa yang penting ke depan dalam dunia sepak bola Indonesia adalah pembenahan tata kelola dan pengurangan ketidakpastian.

“Misalnya jangan sampai jadwal dan tuan rumah pertandingan berubah, seperti yang terjadi di masa lalu,” ungkapnya.

Tentang apa yang bisa dilakukan oleh semua pihak dalam dunia sepak bola Indonesia, Ma’ruf El Rumi menambahkan bahwa wabah Covid-19 ini harus benar-benar selesai dulu.

“Di tengah semua kegaduhan ini, maka sepak bola baiknya tenang dulu dan menunggu lampu hijau dari pemerintah. Kalau pemerintah mengatakan bisa jalan, maka jalanlah dengan mematuhi protokoler kesehatan,” pungkasnya.

 

 

 

 

Comment

Feed Berita