Lenggasor Tari Khas Purbalingga, Perlu Dipatenkan

By: On: Dibaca: dibaca 10.21Rbx
Lenggasor Tari Khas Purbalingga, Perlu Dipatenkan

 

Tari Lenggasor merupakan salah satu kekayaan khasanah kesenian yang dimiliki Kabupaten Purbalingga. Tari yang berkarakter Banyumasan lincah dan enerjik ini terinspirasi dan pengembangan dari kesenian Lengger yang sudah ada. Meski demikian Tari Lenggasor belum dipatenkan oleh penciptanya, yakni Susiati SSn.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Purbalingga, kemarin (7/5) menggelar diskusi antara guru seni tari se-Purbalingga dengan dua dosen dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, yakni Eko ‘Phebo’ Supendi SSn MSi dan Syahrial SST MSi. Selain membahas mengenai koreografi atau proses garapan tari, mereka juga membahas hak cipta seni tari tradisional.

Susiati SSn selaku pencipta tari Lenggasor yang juga hadir mengatakan, pihaknya ingin mematenkan karyanya itu. “Rencananya Tari Lenggasor ini akan saya daftarkan sebagai hak cipta saya, namun belum saya tentukan waktunya kapan. Sejauh ini Tari Lenggasor boleh dipentaskan siapapun untuk kepentingan hiburan ataupun edukasi,” katanya saat diwawancarai Lintas24.com.

Ia menjelaskan, Tari Lenggasor pertama ia ciptakan sekitar tahun 2007 – 2008, lalu dipentaskan perdana pada tahun 2009. Sebelumnya ia juga sempat menciptakan Tari Ngoser sebagai tari Banyumasan dengan inovasi gerakan geolan ular, namun pada akhirnya tari tersebut tidak sepopuler Lenggasor.

Lenggasor, kata dia berasal dari gabungan dua kata yaitu “lenggah” dan “ngisor” yang dalam bahasa Indonesia berarti duduk bawah. Konsep “lenggah ngisor” ini dikaitkan dengan adat ketimuran yang selalu menghormati kepada yang lebih tua atau yang dituakan dengan cara lebih merendah.

Lenggasor diartikan sebagai “bekti” atau taat kepada Yang Maha Kuasa dengan cara bersyukur melalui kepandaian dan kelebihan dalam hal tari yang dimiliki oleh manusia. “Konsepnya Lenggasor merupakan tari persembahan secara suka rela kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, para leluhur, diri sendiri, dan masyarakat,” imbuhnya.

Gerak tari yang digunakan dalam tari ini merupakan gerak khas Banyumas yang telah dikembangkan seperti sekaran, singgetan dan keweran. Sekaran yaitu macam-macam gerak yang disesuaikan dengan iringan. Adapun macam-macam gerak dalam tari banyumasan mempunyai gerak-gerak khas yang sering dipakai yaitu selut, entrak, laku miring, lampah tiga, kosekan, geol dan jogedan. Iringan atau alat musik yang digunakan berupa seperangkat calung banyumasan yang terdiri dari gambang barong, gambang penerus, slenthem, kenong, kempul, dan gong. Serta seperangkat kendhang yang terdiri dari kendhang ciblon, kendhang gedhe, dan kendhang ketipung.

Dilatihkan Ke 50 Guru Seni Tari Se-Purbalingga

Jika tahun lalu Dindikbud mempopulerkan dan melombakan seni sinden dan karawitan di kalangan Aparatur Sipil Negara di lingkungan Pemkab Purbalingga. Tahun ini Dindikbud beralih untuk mempopulerkan seni Tari Lenggasor kepada para institusi pendidikan.

Selama 3 hari, mulai Kamis (3/5) hingga Sabtu (3/5) sebanyak 50-an guru seni tari se-Purbalingga menjalani latihan Tari Lenggasor di GOR Mahesa Jenar. Mereka dilatih langsung oleh Susiati SSn selaku pencipta tari ini.

Kepala seksi Kesenian dan Nilai Tradisi Dindikbud Purbalingga, Rien Anggraeni Setya menuturkan melalui latihan tersebut, diharapkan para guru akan melatihkan tari tersebut ke siswa mereka. “Agustus nanti akan kita lombakan tari Lenggasor ini untuk tingkat pelajar. Sebenarnya tari ini juga paling sering digunakan untuk penyambutan bupati. Ketika banyak yang sudah trampil, kami tidak kesulitan untuk menunjuk grup penari untuk penyambutan tersebut,” katanya. (Ganda Kurniawan)

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!