by

Lakon Tapa Pendhem Jadi Pentas Pungkasan Katasapa Purbalingga di Program Fasilitasi Bidang KebudayaanKemendikbud RI Tahun 2020

-Budaya, Update-dibaca 6.26Rb kali | Dibagikan 23 Kali

Teater Komunitas Teater Sastra Perwira (Katasapa) mementaskan lakon Tapa Pendhem dalam rangkaian Workshop dan Pentas Purbalingga melalui program Fasilitasi Bidang Kebudayaan (FBK) Kemendikbud RI Tahun 2020. Pentas pamungkas ini digelar secara virtual live streaming di panggung Bioskop Misbar Kompleks Taman Kota Usman Janatin Purbalingga, Rabu (2 Desember 2020) malam. Meskipun ditengah guyuran hujan, namun pemain seolah tak merasa terganggu.

Baca Juga: Katasapa dan Harmoni Kerontjong Moeda Lolos Program Fasilitasi Bidang Kebudayaan Kemendikbud

Baca Juga: Kadindikbud Purbalingga, Setyadi: Peran Katasapa Purbalingga Sangat Membantu Dalam Pembangunan Manusia

Baca Juga: Gelar Workshop dan Pentas Teater, Katasapa Purbalingga Ingin Menghidupkan Teater di Purbalingga

Sutradara sekaligus penulis naskah, Ikrom Rifa’i menjelaskan pementasan Tapa Pendhem merupakan hasil adaptasi dari cerita Legenda Putri Ayu Limbasari dengan konsep dekonstruksi ulang. Secara garis besar mengangkat kisah tentang seorang kembang desa bernama Sri, yang merupakan anak dari pemuka agama bernama Pak Ketut.

Baca Juga: Cerita Rakyat “Watu Lawang”, Pentas Pertama di Workshop Teater Katasapa Purbalingga Peserta Program Fasilitasi Bidang Kebudayaan Kemendikbud

Baca Juga: Katasapa Purbalingga Pentaskan Legenda Siwarak

Kecantikan dan kelembutan hati Sri begitu  membuat para lelaki kepincut untuk meminangnya. Hingga suatu saat empat orang datang meminang namun ditolak oleh kakaknya. Wlingi Kusuma lalu meyakinkan Sri, bahwa ia akan menemui keempat lelaki itu dan mengajaknya bertarung. Siapa pun yang dapat mengalahkannya, dialah yang akan menikahi Sri.

Baca Juga: Katasapa Purbalingga Pentaskan Perjalanan Ki Tepus Rumput

Baca Juga: Katasapa Purbalingga Tularkan Ilmu Dalam Program Gerakan Seniman Masuk Sekolah

Wlingi akhirnya kalah dan dibunuh oleh keempat orang itu. Termasuk Sarkem, perempuan yang menaruh hati pada Wlingi. Sri memutuskan untuk melakukan Tapa Pendhem selama lima hari lima malam dengan maksud untuk mendekatkan diri kepada Tuhan serta bisa memaknai cobaan yang tengah menimpanya.

Baca Juga:  Bupati Serahkan 4 Raperda ke DPRD Untuk Dibahas Lebih Lanjut

“Konsep dekonstruksi ulang dalam penggarapan pertunjukan ini secara garis besar berusaha mengambil konflik dan alur utama cerita Legenda Putri Ayu Limbasari. Seting waktu dalam pertunjukan ini memang sengaja dibuat lebih modern,” katanya.

Sementara itu, Faizal Anggoro dari Ditjen Kebudayaan Kemendikbud RI yang hadir malam itu mengatakan, Workshop Teater dan Pentas Empat Titik oleh Katasapa bisa menjadi wadah bagi masyarakat khususnya di Purbalingga yang memiliki minat dan bakat dalam seni peran untuk dapat belajar serta lebih mengasah kemampuannya.

“Kami berharap Fasilitasi Bidang Kebudayaan ini dapat membantu para pegiat budaya terutama di tengah pandemi ini untuk tetap dapat berkreasi dan melestarikan kebudayaan di daerahnya,” katanya.

Kasi Kesenian Dindikbud Kabupaten Purbalingga Wasis Andri Nugroho bersyukur karena Ditjen Kebudayaan Kemendikbud RI memberikan ruang berkreasi melalui program FBK tersebut. Ketua Katasapa Purbalingga Ryan Rachman berharap dari program tersebut akan muncul bibit dan kelompok baru yang menggairahkan teater di Purbalingga.

Comment

Berita Lainnya