by

Komunitas Seni Didorong Bentuk Platform Digital. Kemendikbud: CLC Purbalingga Sudah 14 Tahun Tunjukan Eksistensinya Jadi Ruang Kolaboratif

-Pendidikan, Update-dibaca 8.45Rb kali | Dibagikan 41 Kali

Komunitas seni budaya di daerah didorong untuk membentuk ekosistem kolaborasi melalui platform digital yang  bertujuan untuk menggerakkan industri kreatif. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI ingin membangun interkoneksi berupa platform kerjasama di bidang musik dan media baru. Hal itu dapat terwujud dengan peran dari seniman, pemerintah daerah dan pemerintah pusat.

“Purbalingga ini sudah punya Misbar, dan menjadi ruang untuk kolaborasi atau basecamp, lalu membentuk platform digital. Konten-kontennya akan diisi dari hasil kolaborasi antar kelompok seni, tidak berjalan sendiri,” ungkap Kepala Pokja Media Baru dan Arsip Direktorat Film, Musik dan Media Baru, Kemdikbud RI, Tubagus Sukmana dalam observasi dan diskusi “Membangun Platform Kerjasama, Interkoneksi dan Distribusi Film” di Bioskop Misbar Purbalingga, Usman Janatin City Park, Jumat (20 November 2020) malam.

Ia mengatakan, Film yang digarap oleh komunitas daerah, perlu memperluas akses penonton. Sebab, tidak semua karya komunitas ini bisa mengakses bioskop yang hanya tersedia di kota besar. Oleh karena itu, platform kerjasama antar pelaku seni dan kelembagaan ini akan mempermudah distribusi karya tersebut. Pembentukan platform ini harus didahului dengan penyediaan ruang kolaborasi yang dapat difasilitasi oleh pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.

“Contohnya, CLC Purbalingga yang sudah menunjukkan eksistensinya selama 14 tahun. Komunitas film ini bisa menjadi ruang kolaboratif untuk menopang kelompok seni lainnya,” ujarnya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Purbalingga, Setiyadi menyatakan, Pemkab Purbalingga sangat memberikan perhatian khusus bagi pelestarian dan pengembangan kesenian di wilayahnya. Salah satunya melalui fasilitasi pendanaan maupun kegiatan.

“Pemerintah daerah bukan Sinterklas. Saking banyaknya yang harus disentuh kami punya prioritas, seperti revitalisasi seni yang hampir punah seperti krumpyung, cengklung dan braen serta seni yang berkualitas secara artistiknya,” kata dia.

Setiyadi mengatakan, pada tahun 2020, dana dari APBD untuk bidang kesenian mencapai hampir Rp 6 miliar. Namun, karena pandemi, anggaran terpaksa dipangkas hingga tersisa sepertiganya.

Direktur CLC Purbalingga, Bowo Leksono mengatakan, embrio ruang kolaborasi antar seniman di Purbalingga sebetulnya sudah muncul. Film, saat ini menjadi lokomotif utama dalam industri kreatif ini.

“Kami sudah merasakan, film itu menjadi lokomotif industri kreatif. Kami mulai dari pendokumentasian seni tradisi, beberapa dibuat fiksi. Jadi database, kalau orang yang ingin tahu tentang seni itu yang bisa bertanya kepada kami,” ujarnya.

CLC Purbalingga, kata dia, memiliki 6 program rutin yang dijalankan setiap tahun. Mulai dari produksi film, workshop, pemutaran, perpustakaan film, distribusi dan festival film. Namun, komunitas ini masih kesulitan dalam hal regenerasi.

Comment

Berita Lainnya