by

Ketua Umum Gapura STM/SMK YPT 1 dan YPT 2 Purbalingga, Eko Bejo Prianto: Perantau Kecewa dengan Kebijakan Bupati Purbalingga

Kepulangan para perantau ke kampung halaman dianggap menjadi biang kerok tidak terputusnya mata rantai penyebaran Covid-19.  Pemerintah juga telah mengeluarkan imbauan agar masyarakat untuk tidak pulang ke kampung halaman atau mudik pada hari raya Idul Fitri. Langkah ini ditujukan untuk mencegah penyebaran virus Corona yang saat ini makin bertambah.

Namun, apa yang terjadi saat ini di kampung halaman. Pusat perbelanjaan sudah ramai seperti tidak terjadi pandemi Covid-19. Masyarakat mengabaikan semua imbauan pemerintah untuk menjaga jarak fisik dengan orang lain, menggunakan masker,  mengharuskan untuk berdiam diri di rumah jika tifdaj ada keperluan mendesak.

“Saya kemarin mendapat kiriman rekaman video dari teman-teman di Purbalingga. Terlihat sudah banyak masyarakat yang berbelanja pakaian-pakaian untuk lebaran. Berkerumun tanpa menggunakan masker. Wah ramai sekali, kalau begini kapan selesainya virus corona,” ungkap Ketua Umum Gabungan Purna (Gapura) STM/SMK YPT 1 dan YPT 2 Purbalingga, Eko Bejo Prianto saat dihubungi cyber media lintas24.com melalui pesan WhatsApp, Senin (18 Mei 2020)

Ia mengaku prihatin, disaat para perantau menahan diri untuk tidak pulang ke daerahnya. Tapi ternyata, masyarakat didaerah sudah mengabaikan semua imbauan pemerintah.

“Prihatin sekali, kami sudah menahan diri untuk melepas kangen dengan keluarga di kampung. Semua itu kami lakukan untuk mengurangi resiko penularan,”ungkap alumni tahun 1995 jurusan mesin

Ia juga mempertanyakan kebijakan Bupati Purbalingga terkait pemberlakuan jam malam. Dalam upaya pengendalian Covid-19, sejumlah daerah mengambil inisiatif masing-masing di antaranya menetapkan aturan jam malam. Melalui aturan ini, Pemkab Purbalingga mempunyai skenario mengendalikan aktivitas warga dikendalikan oleh di malam hari.

“Kami mengajak Bupati, TNI, Polri, beserta seluruh lapisan masyarakat utuk bekerja sama memutus rantai covid 19 ini, dengan taat dan patuh mengikuti SOP covid 19. Pemerintah harus menyiapkan perangkat agar tidak ada kerumunan warganya di siang hari. Kami minta jangan malam hari saja, coba lihat suasana siang hari,’ tegasnya

Eko yang mengkoordinir sekitar 3000 orang alumni tahun 1973 hingga 2019 yang tergabung Gabungan Purna (Gapura) STM/SMK YPT 1 dan YPT 2 Purbalingga dan tersebar di 8 korwil seperti, Jakarta raya,Tangerang, Depok, Bekasi, Purwakarta, Bandung, Cilegon, dan Purbalingga membuat surat Surat Terbuka untuk Bupati Purbalingga

Ini cuplikan Surat Terbuka untuk Bupati Purbalingga yang diterima cyber media lintas24.com

Assalamualaikum Wr Wb

Salam sejahtera untuk kita semua…

Mohon maaf ibu Bupati Purbalingga, dengarkan suara hati saya Eko Bejo Prianto saat ini saya merantau, dan saya Ketua Umum Alumni STM/SMK YPT 1 dan 2 Purbalingga GAPURA. Ibu selaku pemegang pemerintahan saat ini di kabupaten purbalingga. Saya sangat miris melihat kondisi adanya Pandemi Covid-19 saat ini.

Kita di rantau berusaha survive saling membantu satu dengan yang lain karena anjuran pemerintah DILARANG MUDIK, meski rasa kangen terhadap orang tua dan sanak saudara di kampung. Kita perantau disini banyak yang sekuat tenaga untuk bertahan untuk tidak mudik dan hidup bahu membahu tolong menolong.

Tapi melihat video dari beberapa temen2 kondisi saat ini di purbalingga malah jauh dari kesan HOROR takut dengan Covid, banyak pedangang masih buka dengan alasan Kebutuhan, tapi yang jualan malah bukan tukang makanan melainkan toko-toko baju buka dengan keramainan sementara penderita Covid masih terus bertambah sampai dengan saat ini ,efektifkah jam malam yang di berlakukan sementara siangnya begitu bebas keramaian..?

Apa kondisi ini Akan terus berlangsung dengan memperparah keadaan, kalau kondisi seperti ini kenapa kita2 juga dilarang untuk mudik, toh tidak ada bedanya, kita mudik belum tentu membawa virus Covid, dan yang saat ini masih Asik berbelanja lebaran juga belum tentu sehat semua.

Kita disini berjuang untuk tidak mudik karena kita sayang keluarga, kerabat bahkan tetangga kita di kampung biar tidak ada yang tertular Virus saat kami mudik, tapi tolong juga jaga warga2 purbalingga yang lain agar patuhi aturan protokol kesehatan jangan sampai jadi isapan jempol belaka.

Coba ibu bupati keliling untuk melihat kondisi tersebut tanpa adanya kawalan atau sering disebut blusukan agar tau kondisi yang perlu ditata dalam Pandemi ini, tindak tegas pelanggar aturan jangan cuma kita yang di rantau untuk mematuhi, namun di purbalingga masih banyaknya pelangaran.

Sekiranya itu saja ibu bupati yang terhormat, kami sayang semua warga purbalingga jadi kita jaga bersama kota tercinta kita.

Terima kasih

Eko Bejo Prianto

081314700543

 

 

Comment

Feed Berita