Kenalkan Obyek Bersejarah. Dindikbud Purbalingga Gelar Safari Cagar Budaya dan Sejarah

By: On: Dibaca: 12,752x
Kenalkan Obyek Bersejarah. Dindikbud Purbalingga Gelar Safari Cagar Budaya dan Sejarah

 

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Purbalingga mengajak sebanyak 80 orang yang terdiri dari siswa dan guru SMP mengikuti safari ke tempat-tempat bersejarah di Kabupaten Purbalingga, Selasa (24 Juli 2018).

Kepala Seksi Cagar Budaya dan Permuseuman Dindikbud Kabupaten Purbalingga, Sudino SPd selaku penyelenggara kegiatan safari mengatakan, tahun ini sengaja mengundang siswa dan guru dari SMP dari wilayah utara Kabupaten Purbalingga. Sedangkan objek safarinya sengaja mengambil objek-objek yang ada di wilayah selatan.

“Jika tahun lalu para peserta siswa dan guru dari SMP yang ada di wilayah selatan untuk berkunjung ke objek-objek yang ada di wilayah utara. Sekarang giliran yang dari utara untuk berkunjung ke wilayah selatan. Tujuannya agar siswa dan guru mengenal lebih dekat tempat dan objek bersejarah di Purbalingga ini,” katanya

Beberapa tempat yang dikunjungi diantaranya bangunan-bangunan peninggalan era kolonial Hindia Belanda seperti Gedung Pengadilan Negeri (PN), Kodim 0702 Purbalingga dan SMA Santo Agustinus serta objek sejarah lain.

Kunjungan ke PN Purbalingga dipandu langsung oleh Ageng Priyambodo Pamungkas SH MH selaku Hakim Senior dan Budi Priyanto selaku Panitera di PN Purbalingga ini.  Mereka menjelaskan PN Purbalingga dahulunya merupakan gedung Landraad yang juga semakna dengan Pengadilan Negeri.

“Gedung ini memiliki arti penting sebagai tonggak awal pengenalan sistem pengadilan formal kepada masyarakat Purbalingga. Ini juga sebagai tonggak awal penerapan sistem Trias Politica khususnya lembaga Yudikatif pada masa itu,” kata Ageng kepada para siswa dan guru.

Terkait statusnya sebagai bangunan yang terdaftar sebagai cagar budaya, sejauh ini pihaknya tetap mempertahankan keasliannya. Pada kesempatan itu para siswa dikenalkan mengenai fungsi masing-masing ruangan, arsitektur dan fakta yang pernah dijumpai.

“Dulu salah satu sisi dinding ini ada yang kita kelupas karena sudah rusak dan akan diperbarui. Tapi kami temukan proyektil, semacam serpihan peluru di dinding. Jadi entah karena berasal dari serangan tembakan saat perang atau terdakwa yang langsung dieksekusi di tempat,” sambung Budi Priyanto.

Beranjak safari ke markas Kodim 0702, para siswa dikenalkan dengan bangunan eks Rumah Asisten Residen (Belanda) di Purbalingga. Asisten Residen merupakan birokrat Belanda yang bertugas mengawasi kinerja bupati.

Bangunan ini tidak lagi digunakan sebagai rumah Asisten Residen sejak Indonesia diduduki oleh balatentara Dai-Nippon (Jepang). Pasca kemerdekaan gedung ini resmi digunakan sebagai markas TNI atau yang saat itu masih bernama Badan Keamanan Rakyat (BKR).

Tujuan selanjutnya yakni ke Desa Wirasaba, Bukateja. Di sana mengunjungi makam para Adipati Wirasaba sebagai leluhur para pimpinan wilayah Wirasaba sebelum terpecah menjadi 4 kabupaten (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas dan Cilacap). Selain itu juga berkunjung ke monumen Wiraswasta sekaligus kediaman Jayadiwangsa.

“Jayadiwangsa dulunya adalah konglomerat dari kalangan pribumi pada abad 19 – 20 Masehi. Ia pengusaha kopra dan hasil bumi lain. Barang dagangannya di pasok ke daerah lain, hingga memiliki rel kereta sendiri untuk mengantar barangnya ke kereta SDS (Maskapai Kereta Uap Lembah Serayu), juga memiliki dermaga di belakang rumahnya untuk distribusi transportasi air,” kata Mastomo Soedarno selaku ketua Paguyuban Keluarga Jayadiwangsa.

Tomo berharap dengan adanya monumen wiraswasta ini bisa menginspirasi generasi muda untuk semangat membangun ekonomi mandiri. Tidak hanya bangsa asing, sebagai orang pribumi juga memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi pengusaha.

Objek selanjutnya yakni Situs Kedungbenda. Di dalamnya terdapat aneka benda peninggalan zaman Hindu abad 8 – 15 Masehi. Diantaranya Lingga dan Yoni. Benda tersebut merupakan sarana peribadatan umat Hindu khususnya Siwaisme.

Para siswa kemudian juga diajak menuju Tugu Juang Blater di Kecamatan Kalimanah. Tugu ini memperingati peristiwa bersejarah serangan frontal yang dilakukan TNI pada 31 Juli 1947.

“Serangan itu merupakan upaya Resimen TNI dari Cilacap untuk membendung pasukan Belanda yang datang dari Tegal via Pemalang agar tidak kembali menguasai jantung Karesidenan Banyumas, yakni Purwokerto. Dari pertempuran itu sekitar 28 pejuang republik gugur,” kata Karisan yang juga Ketua Legiun Veteran RI (LVRI) Purbalingga.

Masih di Kalimanah, siswa dan guru diajak mampir ke SMA Santo Agustinus. Gedung kantor guru sekolah ini dulunya diduga merupakan eks rumah dinas administrateur Pabrik Gula Kalimanah, atau yang juga dikenal dengan Suikerfabriek Kalieklawing.

 

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!