Kementerian LHK Temukan Sumber Lain Terkait Kebocoran Minyak di Teluk Penyu

By: On: Dibaca: dibaca 99.54Rbx
Kementerian LHK Temukan Sumber Lain Terkait Kebocoran Minyak di Teluk Penyu

Coastal clean up

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengindikasi terjadinya kebocoran minyak tidak hanya berasal dari pipa single point mooring(SPM). Penemuan ini disebabkan minyak terus bermunculan tidak hanya di daerah selatan, namun juga di timur dari kota Cilacap.

Tumpahnya minyak PT Pertamina (Persero) Refinery Unit IV Cilacap mencapai 14.000 liter tercecer di laut, bahkan bibir pantai. Hal ini menyebabkan lumpuhnya kegiatan ekonomi para nelayan dan juga sektor pariwisata di Teluk Penyu, Cilacap, Jawa Tengah.

“Minyak ditemukan tidak hanya di daerah pipa bocor, namun daerah timur dari kota Cilacap,” jelas Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Karliansyah, Jumat (29/5)

Pernyataan tersebut dibenarkan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Cilacap Indon Tjahjono.

 

Dia menyatakan, setelah pembersihan dekat pipa sudah selesai, beberapa hari kemudian muncul lebih banyak lagi. “Tumpahan itu bukan di sekitar pipa, namun berada di daerah timur. Bahkan sampai bibir pantai Teluk Penyu,” jelasnya.

Karliansyah menambahkan, prediksi sementara minyak tersebut berasal dari kapal Matra Petroleum. “Kapal ini kandas di karang daerah timur Cilacap,” ucapnya.

 

Matra Petroleum merupakan salah satu kapal yang disewakan oleh instansi atau perorangan untuk mengangkut bahan bakar. Kandasnya kapal ini belum diketahui sejak kapan.
Sehingga, KLHK pun memprediksi apakah minyak tumpah yang ditemukan mendapat kontribusi dari kapal tersebut atau tidak. Selanjutnya, ada tim yang akan mengambil sample atau finger printing minyak untuk mendeteksi sumber minyak tersebut.

Berbeda dengan minyak tumpah di daerah pipa yang hanya memiliki ketebalan sekitar 3 cm. Namun, minyak (dari kapal) ini memiliki ketebalan hingga 10-15 cm di sekitar 2 kilometer dari bibir pantai.

Ekosistem laut zona permukaan pun ikut tercemar. “Sejauh ini yang terlihat dampaknya adalah terumbu karang dan ekosistem mangrove. Kalau ikan pasti jelas,” terang Karliansyah.

 

Begitu juga dengan ekosistem di bawah laut yang memiliki potensi lebih banyak. Udang menjadi salah satu potensi terbesar yang ada di pantai selatan Cilacap, jelas akan menurun. Begitu juga pelagis dan bawal.

Ekosistem bawah laut ini disebabkan karena penanganan Pertamina untuk melenyapkan sisa-sisa minyak. Yakni, menyemprotkan oil spill boom dan oil dispersant. Keduanya merupakan cairan kimia yang menurunkan minyak ke dasar laut. “Minyak tumpah sudah tertangani. Meski ada proses oksidasi, tapi tetap itu memberikan dampak,” imbuh Indon.

Menteri LHK Siti Nurbaya pun mendesak Pertamina untuk bertanggung jawab dan mendapatkan tindak lanjut yang tegas. “Pihak Pertamina sangat responsif. Senin (25/5) malam, pembersihan pun sudah dilakukan. Namun, masih beberapa wilayah tercemar. Kami tidak tahu dan perlu ditelusuri,” tegas Karliansyah.

Target selesainya pembersihan masih belum diprediksi karena sebarannya masih belum ditemukan secara keseluruhan. “Berkaca dari kasus Pertamina Balongan (Agustus 2014 lalu) yang mencapai dua tahun, kami akan melakukan pemulihan dengan segera,” jelas Karliansyah.

KLHK akan melakukan berdasar SOP penanggulangan minyak tumpah di laut. Pihaknya akan segera menelusuri, menghitung modeling yang didasarkan pada sebaran minyak, dan melakukan ground check.

 

Ground check itu sendiri merupakan tindakan lanjut terkait dengan pemulihan ekosistem yang ada. Sedangkan masalah kompensasi biaya, KLHK membantu dalam memediasi antara nelayan dengan Pertamina melalui tim penyelesaian sengketa lingkungan akan dihitung jumlah nelayan yang terkena dampak, yakni sebanyak 13.900 nelayan yang terheregistrasi dalam HNSI.

Berdasarkan rapat pleno dengan ketua rukun nelayan, tuntutan jumlah kompensasi yang ditujukan kepada Pertamina oleh HNSI sebesar Rp 4,733 miliar. “Perhitungan itu berdasar atas nelayan yang tidak melaut selama 15 hari, peralatan tangkap yang tercemar, pembersihan perahu yang kotor, dan menurunnya produksi,” pungkas Indon. (estanto)

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!