by

Keluarga Besar Marhaenis (KBM) Daerah Istimewa Yogyakarta Gelar Peringatan Harlah Pancasila, 1 Juni

Keluarga Besar Marhaenis (KBM) Daerah Istimewa Yogyakarta memperingati Hari Lahir Pancasila. Peringatan Harlah Pancasila yang jatuh setiap tanggal 1 Juni ini berbeda dengan peringatan tahun lalu. Tahun ini, KBM DIY berkolaborasi dengan seniman jalanan musik instrumen angklung yang tergabung dalam wadah Darmo Budoyo menggelar pagelaran bertajuk Harlah Pancasila dan Bulan Bung Karno.

Diiringi musik tradisional angklung, lagu-lagu nasional seperti Indonesia Raya Tanah air, Padamu Negeri, Hallo-Hallo Bandung, syukur bergema di simpang empat jalan Taman Sari Yogyakarta, Senin siang (1 Juni 2020). Peringatan ini juga ditayangkan secara live streaming di beberapa channel media sosial.

Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Nasional KBM, Mugiono Cahyadi menuturkan, peringatan yang kita rayakan setiap tanggal pada tahun ini terasa berbeda dari tahun sebelumnya semenjak diterbitkannya keppres Nomer 24 Tahun 2016 sebagai hari lahir Pancasila dan libur Nasional.

“Dalam situasi pandemik covid 19 tidak menjadi halangan kelompok masyarakat merayakan peringatan ini. Harlah Pancasila memiliki arti yang strategis. Kegiatan ini menggali nilai nilai luhur dalam Pancasila dengan semangat gotong royong,” ungkap Mugiono Cahyadi yang biasa dipanggil Yoyon dalam keterangan tertulis yang diterima cyber media lintas24.com, Rabu (3 Juni 2020)

Ia menjelaskan, riset sederhana yang telah dilakukan, hasilnya menunjukkan bahwa pekerja informal di jalan raya, kebanyakan tak menerima bantuan sosial sebab administrasi pemerintah sering tak berpihak pada mereka; persoalan tempat tinggal, KTP, dan detil administrasi menyulitkan mereka. Peringatan bersama seniman angklung jalanan sepintas terlihat suatu hal yang telah biasa. Tapi sesungguhnya acara ini didasari oleh pertimbangan matang bahwa Pancasila, apalagi di masa pandemi yang sangat berat bagi kesehatan dan ekonomi masyarakat ini, harus kembali dipungut nilai-nilainya dari jalan raya.

“Dan bukan dari mimbar diskusi di gedung-gedung mewah terus. Seniman jalanan adalah simbol dari ketersisihan karena mereka tak mendapat panggung yang layak, panggung mereka dilibas oleh panggung politik debat kusir di media televisi yang

Koordiantor Team Kreatif, Pinto Artipak mengungkapkan, sebagai seniman jalanan juga bisa berkontribusi bagi bangsa dan Negara, walapun penonton tetap dirumah untuk menyaksikan live streaming sajian angklung dengan lagu perjuangan.

“Sebagai generasi bangsa, kami bertanggung jawab untuk memperjuangkan kepahlawananpejuang bangsa, tetap kompak menghadapi pandemik ini, menjaga persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kami merasa penting untuk memungut nilai-nilai Pancasila dari jalan raya yang hari ini terimbas betul oleh pandemi. Ayo kita cek saudara-saudara kita yang menggantungkan hidup pada jalan raya, saatnya gotong royong ini dimulai dari jalan raya,” katanya.

Pinto menjelaskan, sebelum acara para pengamen angklung ini hanya hafal 1 lagi wajib Indonesia Raya, tapi dengan latihan bersama KBM selama dua hari, kini mereka sukses memainkan 12 instrument lagu nasional dengan alat musik angklung.

“Suasana kebangsaan, persatuan, gotong-rotong, tentu bisa makin terdorong dengan lagu-lagu nasional. Lagu itu dahsyat kekuatanya, dan saat ini sangat diperlukan untuk memupuk rasa sebangsa dan setanah air dalam menghadapi pandemi ini,” ungkapnya. (yoga tri cahyono)

Comment

Feed Berita