by

Kelompok Nelayan Gelar Rapat, Soroti Kerundung di Perairan

-Nusantara-dibaca 118.89Rb kali | Dibagikan 53 Kali

Rapat Pokyan Pandanarang 01Rapat Pokyan Pandanarang 02Rapat Pokyan Pandanarang 06Rapat Pokyan Pandanarang 09

CILACAP – Guna mempersiapkan bekal untuk mengikuti Rapat Anggota Tahunan (RAT) Paripurna Koperasi Unit Desa (KUD) Mino Saroyo yang bakal digelar 25 Februari 2016 mendatang, Kelompok Nelayan Pandanarang Cilacap melaksanakan rapat kelompok nelayan (Pra-RAT) di tempat pelelangan ikan (TPI) setempat, Sabtu (13/2) malam.

Rapat dihadiri hampir seluruh anggota kelompok nelayan yang kini berjumlah 1.058 orang itu. Juga hadir Ketua HNSI Cilacap Sarjono, Ketua Umum KUD Mino Saroyo Untung Jayanto, perwakilan Disperindagkop UMKM Cilacap, perwakilan DKP2SKSA Cilacap, Camat Cilacap Selatan Agung Laksono beserta jajaran Muspika Kecamatan Cilacap Selatan, Lurah Cilacap Joko Priyatno, tokoh nelayan, dan para pengurus Kelompok Nelayan Pandanarang.

Acara diawali laporan pertanggungjawaban Ketua Kelompok Nelayan Pandanarang Tarmuji. Dia mengatakan, rapat ini merupakan tanggung jawab organisasi. “Karena rapat ini merupakan Pra-RAT KUD Mino Saroyo yang akan digelar 25 Februari, di sinilah kita akan mempersiapkan bekal yang perlu dibawa ke RAT Paripurna nanti,” ucapnya.

Ditambahkan, secara keanggotaan, nelayan Pandanarang perlahan-lahan bertambah. Jika tahun 2014 jumlahnya 1.050 orang, kini menjadi 1.058 orang.

“Ini bukti bahwa produksi ikan yang dihasilkan nelayan terus bertambah. Juga target akan terus meningkat,” imbuhnya.

Di TPI Pandanarang, produksi ikan mencapai 838 ton per tahun. Sehingga target tahun lalu yang diprediksi Rp 6,5 miliar, tercapai sebesar Rp 7,35 miliar. Untuk itu, pihaknya mematok target tahun 2016 ini Rp 7,5 miliar.

Sementara itu, keberhasilan yang dicapai nelayan Pandanarang diapresiasi Ketua Umum KUD Mino Saroyo, Untung Jayanto. Dia kembali menekankan bahwa rapat tersebut merupakan tanggung jawab organisasi, dan rapat ini merupakan putaran keempat setelah beberapa hari sebelumnya telah digelar rapat kelompok nelayan Bengawan Donan, Sidakaya, dan Sentolokawat.

Untung menambahkan, apa yang dihasilkan dari rapat ini akan dibawa pada RAT Paripurna KUD Mino Saroyo.

Dia menandaskan, nelayan Pandanarang terlihat kompak dan telah bekerja sama dengan baik. Hal itu terlihat dari pencapaian target yang selalu naik dari tahun ke tahun.

Menurut Untung, MEA yang sudah berjalan saat ini jangan ditanggapi dengan keragu-raguan atau menjadi ancaman para nelayan khususnya di Cilacap.

“Justru harus kita ambil sebagai peluang. Karena pembeli dari negara ASEAN akan langsung membeli ikan kita di TPI,” katanya.

Dengan demikian, harga ikan akan meningkat.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Cilacap Sarjono menyatakan, untuk mendukung kinerja nelayan, HNSI telah menyiapkan 7 orang pembantu produksi yang akan bekerja sama dengan kelompok-kelompok nelayan dalam meningkatkan produksinya.

“HNSI dengan paradigman baru saat ini akan lebih mendekatkan diri kepada nelayan, dan menggali apa yang menjadi harapan nelayan,” ucapnya.

Juga HNSI tak akan lagi meminta apapun dari perusahaan atau instansi dan perusahaan yang aktivitasnya merugikan nelayan.

“Sangat ironis, kita yang selama ini sebagai organisasi mandiri dengan ribuan anggota, tidak bisa memperbaiki kinerjanya. Apalagi dengan pihak yang merugikan kita, kita mintai bantuan,” tegas dia.

Maka itu, apa yang diterima HNSI dari nelayan yaitu 0,5 persen dari hasil produksi nelayan di TPI merupakan hal yang wajar guna meningkatkan kinerja organisasi dan nelayan bisa mandiri.

Acara diakhiri dengan penyerahan hadiah-hadiah kepada nelayan serta beberapa hiburan musik organ tunggal. Dilanjutkan dengan dialog di mana nelayan menyampaikan uneg-uneg dan permasalahan yang dihadapi saat beraktivitas.

Usai acara, kepada lintas24.com, Tarmuji mengatakan bahwa dari dialog tadi yang menjadi prioritas dan akan diperhatikan adalah kerundung di perairan Cilacap yang sangat mengganggu aktivitas nelayan.

“Kerundung yang sudah lama dan tidak dioperasikan lagi supaya disingkirkan dari perairan karena sering tertabrak kapal atau jaring nelayan,” katanya, seraya menyebut Dishubkominfo Cilacap, PT Holcim Indonesia Tbk Cilacap Plant, PT Pertamina (Persero) RU IV Cilacap, dan PT Sumber Segara Primadaya (S2P) PLTU Cilacap untuk bertanggung jawab terhadap kerundung-kerundung yang sudah tidak berfungsi untuk segera disingkirkan.

Ditanya apa yang akan dibawa dalam RAT Paripurna KUD Mino Saroyo, Tarmuji mengatakan, pertama adalah kerundung.

Kepada pihak DKP2SKSA Cilacap, pihaknya meminta agar selektif dalam pendaftaran Kartu Nelayan. Juga agar mengadakan sosialisasi yang terarah tentang pembentukan KUB-KUB baru supaya tidak rancu di tingkat bawah.

Kemudian masalah timbangan di TPI Jetis yang dinilai terlampau jauh berbeda dengan yang ada di Cilacap.

Tentang hal ini, pihaknya bekerja sama dengan pihak terkait serta Anggota DPRD khususnya Komisi B untuk ikut mengawal dan menindaklanjuti usaha para nelayan ini. (estanto)

Comment

Berita Lainnya