Kejati Jateng Diminta Tak Tebang Pilih

By: On: Dibaca: 83,137x
Kejati Jateng Diminta Tak Tebang Pilih

Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI), Boyamin Saiman, mengingatkan Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jateng agar tidak tebang pilih dalam mengusut kasus dugaan korupsi dana bantuan sosial (bansos) di provinsi ini.

Penahanan lima aktivis mahasiswa terkait kasus dugaan korupsi dana bansos Pemprov Jateng tahun 2011 senilai Rp 328 juta, bukan akhir dari penanganan perkara tersebut. Apalagi muncul dugaan, kalau kelima aktivis tadi, bukanlah penerima uang terbesar. Mereka sekadar dititipi rekening saat berlangsung penyaluran dana bansos oleh seniornya.

“Atas dugaan itu, kami mendesak Kejati tidak melakukan tebang pilih. Kasus korupsi bansos harus dituntaskan, dengan menetapkan semua oknum yang terlibat sebagai tersangka. Terlebih terhadap mereka yang menikmati uangnya dalam jumlah besar,” ujar Boyamin, kemarin.

Pihak Kejaksaan sendiri, menahan kelima tersangka sebagai tindak lanjut hasil penyidikan dua tersangka korupsi dana bansos lainnya, yakni Joko Mardianto (mantan kepala Biro Bina Sosial Pemprov Jateng) serta anak buahnya, Joko Suryanto.

Sehubungan dengan hal itu, Boyamin menjelaskan, kedua aparatur pemerintah itu seyogyanya juga ditahan, mengingat posisinya yang lebih bersalah. “Sebagai pejabat, keduanya justru terlibat. Supaya adil, keduanya juga harus ditahan,” terang Boyamin.

Kelima tersangka kasus bansos fiktif yang telah ditahan tadi adalah Azka Najib, Musyafak, Farid Ihsanudin, Agus Khanif, serta Aji Hendra Gautama. Azka disebut menerima dana bansos Rp 83 juta, Musyafak Rp 84 juta, Farid Rp 65 juta, Agus Rp 52 juta, dan Aji Rp 44 juta.

Di depan penyidik Kejati, beberapa tersangka mengungkapkan bahwa mereka bukanlah penerima uang terbesar. Mereka hanya dititipi rekening, sebagai jalan melancarkan penyaluran dana bansos

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!