by

Kearifan Lokal Jadi Program Terbarukan Percepatan Penanganan Covid-19

-Daerah, Update-dibaca 6.89Rb kali | Dibagikan 16 Kali

Menangani penyebaran virus korona memerlukan langkah-langkah yang tepat dan inovasi yang terbarukan. Salah satu hal yang dicanangkan pemerintah adalah dengan Kearifan lokal. Cara tesebut diyakini berpengaruh dalam dalam percepatan penanganan Covid-19.

Hal ini disampaikan langsung oleh Kepala Gugus Tugas percepatan penanganan Covid-19, Doni Monardo saat memberikan sambutan pada rapat yang diikuti seluruh pemerintah daerah di Indonesia  dan dipimpin Menteri Dalam Negeri (Mendagri), M. Tito Karnavian secara daring, Senin (10 Agustus 2020).

“Dulu pemerintah kolonial menerapkan sosialisasi berbasis kearifan lokal dan dokumen yang ada membuktikan efektif. Perlu dicatat korban di Batavia dulu lebih banyak dibandingkan di Amsterdam bahkan mengurangi populasi Jawa hingga 13,3%”, kata Doni.

Ia berujar, bahwa wabah Covid-19 bukan merupakan wabah pertama yang telah dihadapi bangsa Indonesia. Pada saat masa penjajahan Belanda atau tepatnya Maret 1918 hingga September 1919 lalu, wabah Flu Spanyol juga sempat membuat gempar jagat nusantara. Menurut Doni, dahulu pemerintah kolonial pada awalnya menerapkan aturan yang sangat ketat agar penularan Flu Spanyol tidak menyebar cepat secara luas. Pada akhirnya pemerintahan kolonial menerapkan kearifan lokal yang justru terbukti efektif menghadapi wabah tersebut.

“Kami mengimbau dan mengajak Pemerintah Daerah (Pemda) lain untuk menerapkan hal serupa sesuai dengan kearifan lokal yang ada di daerahnya masing-masing,” ujarnya.

Ia pun mencontohkan dan mengapresiasi hal yang telah dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah dan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya yang telah menerapkan kearifan lokal dalam percepatan penanganan Covid-19. Di Jawa Tengah misalnya, Jargon Jogo Tonggo menjadi populer dan dirasa cukup efektif mengurangi persebaran Covid-19. Dari hal tersebut, dirinya mengajak pemerintah daerah lain melakukan hal yang serupa sesuai kearifal lokal yang ada di setiap daerah.

“Lansia dan orang dengan komorbit akan sangat rentan. Makanya kami mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk melindungi secara ekstra kelompok masyarakat yang ini,” imbuhnya.

Ia juga menambahkan, bahwa opinion leader atau tokoh yang berpengaruh di suatu tempat perlu dilibatkan dalam menyosialisasikan protokol kesehatan yang berlaku. Dirinya juga turut mengajak agar lansia dan orang dengan komorbit seperti Jantung, diabetes dan lainnya mendapat perlindungan lebih karena mereka akan sangat beresiko terjangkit Covid-19.

Editor :Rizky Riawan Nursatria. (Mg)

Comment

Berita Lainnya