Jenderal TNI Soedirman Panglima Besar Pertama di Indonesia

By: On: Dibaca: dibaca 180.41Rbx
Jenderal TNI Soedirman  Panglima Besar Pertama di Indonesia
lintas24.com_HL

Jenderal Soerdiman bersama Kolonel Soengkono (kiri depan_putra asli purbalingga) Panglima Divisi I Jawa Timur

Di Indonesia hanya ada satu Panglima Besar, yaitu Jenderal TNI Soedirman. Soedirman lahir hari Senen Pon 1334 H, atau 24 Januari 1916 Masehi, di dukuh Rembang Desa Bodas Karangjati kabupaten Purbalingga.

Ayahnya bernama Karsid Kartawiraji, seorang petani, sedangkan ibunya bernama Siyem. Keduanya  berasal dari Desa Tipar kecamatan Rawalo kabupaten Banyumas. Keluarga Karsid hidup dalam serba kekurangan.

Kakak sulung Siyem menikah dengan Tjokrosunaryo, camat Rembang Purbalingga. Karena ada hubungan family Siyem dengan suaminya pergi ke Rembang untuk memperoleh pekerjaan.

Tjokrosunaryo dengan isteri membantunya dengan senang hati. Ketika itu Siyem sedang hamil, Tjokro dan isteri yang belum dikaruniani anak, berniat mengangkat anak yang dikandung Siyem sebagai anak mereka.

“Kalau bayi itu laki – laki, akan saya ambil sebagai anak.Biar saya yang meraatnya.Ia akan saya sekolahkan. Mudah mudahan ia kelak menjadi   orang pintar dan berguna” kata Tjokro.

Benar, Siyem melahirkan bayi laki laki dan diberi nama Soedirman. Sejak masih bayi   Soedirman dipelihara keluarga Tjokro. Ketika Soedirman mulai bisa merangkak, Tjokro pensiun dan menetap di kampung Manggisan Cilacap.

Soedirman mempunyai adik bernama Samingan, yang lahir tahun 1918.Tidak lama kemudian Karsid, ayah Soedirman meninggal.Siyem pun kembali ke Tipar.

Tahun 1923, Soedirman masuk sekolah HIS (Hollands Indische School) Negeri, yairu sekolah rakyat berkata pengantar bahasa Belanda.di Cilacap. Keluarga Tjokrosunaryo mendidik anaknya dengan disiplin.

Soedirman diberi tahu, bagaimana cara menepati waktu belajar dan cara menggunakan uang saku sebaik baiknya. Ia harus dapat membagi waktu antara belajar, bermain, dan mengaji. Mereka juga mengajarkan akhlak dan budi pekerti yang baik. Kyai Markum, guru ngaji Soedirman adalah tokoh pergerakan Sarekat Islam.

Gemblengan guru ngaji begitu kuat melekat dalam diri Soedirman. Ketika remaja ia tekun beribadah dan identitas Islamnya sangat menonjol, hingga dijuluki “kajine” oleh teman sekolahnya.

Tamat HIS tahun 1930 Soedirman melanjutkan ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) Setingkat SMP Taman Siswa di Purwokerto. Tahun 1932 ia pindah ke MULO Wiworotomo Cilacap, tamat tahun 1935.

Dan Soedirman masuk sekolah guru yaitu HIK (Hogere Inlandsche Kweekschool) Muhammadiyah di Solo dan tetap aktif di HW. Belum sampai tamat, Bapak angkatnya meninggal dunia.

Karena tidak ada yang membiayai, terpaksa ia kembali ke Cilacap dan menjadi guru HIS Muhammadiyah. Saat itu umurnya menginjak 18 tahun. Selain mengajar, penggemar sepak bola ini menjadi Pembina kepanduan HW.

Di sini para pemuda dilatih baris berbaris , bela diri, kepemimpinan, cara menolong korban kecelakaan, kode sandi, memasak, perkemahan dan lain lain. Ia terkenal disiplin dan disegani oleh teman teman dari HW.

Pada jamboree Pandu HW tahun 1933 di Purwokerto, ia terpilih sebagai Menteri Daerah HW untuk daerah Banyumas. Tahun 1935 , jambore HW diadakan di Batur sekitar pegunungan Dieng yang berhawa dingin.

Malam tiba, bagi peserta yang tidak biasa menahan hawa dingin meninggalkan kemah dan mencari penginapan di rumah penduduk. Hanya Soedirman yang bertahan di kemahnya. Ketika kawan kawan yang mengajak “mengungsi”, Soedirman berkata “Inilah latihan, di kemudian hari boleh jadi kita akan mengalami yang lebih dingin seperti ini”

Pada tanggal 26 Mei 1936, Soedirman menikah dengan Alfiah, anak pedagang kaya kelahiran 28 Desember 1920, yang dikenalnya waktu sekolah di Cilacap. Hubungan mereka bertambah akrab setelah Alfiah aktif di Aisyiyah.

Menjelang kedatangan tentara Jepang, Soedirman diangkat menjadi komandan LBD (Lucht Bscherming Dienst) oleh Belanda. Maret 1842 Jepang mendarat di Jawa dan Belanda menyerah di Kalijati Subang Jawa Barat. Di awal penjajahan Jepang sekolahan Muhammadiyah ditutup.

Berkat usaha Soedirman, sekolahan itu dibuka kembali. Soedirman mulai memikirkan soal ekonomi. Bersama kawan kawan, didikanlah koperasi   dagang dan Soedirman menjadi ketua.

Koperasi ini memicu berdirinya banyak koperasi lain, yang menimbulkan persaingan kurang sehat. Soedirman berusaha menyatukan koperasi koperasi tersebut.

Akhirnya berdirilah Persatuan Koperasi Indonesia (Perki) Wijayakusuma dan Soedirman dipercaya menjadi ketua.Ia juga akatif di Badan Pengurus Makanan Rakyat, yaitu usaha yang bergerak dalam pengumpulan bahan makanan untuk menghindarkan rakyat Cilacap dari bahaya kelaparan.

Nama Soedirman semakin dikenal luas. Maka ketika Jepang membentuk Syu Sangikai (semacam Dewan Perwakilan Karesidenan) Banyumas, Soedirman diangkat menjadi anggota berkedudukan di Purwokerto. Ia juga ditunjuk sebagai anggota Jawa Hojkokai karesidenan Banyumas.

Oktober 1943 ketika Jepang membentuk Tentara Pembela Tanah Air (PETA), Soedirman mendaftar. Ia termasuk angkatan kedua. Selesai menjalani latihan di Bogor, ia diangkat menjadi Daidanco (komandan batalyon) Peta di Kroya.

Tiap kesatuan pimpinannya orang Indonesia, tetapi pelatihnya Jepang. Soedirman sering protes, karena pelatih Jepang itu suka berbuat seenang – wenang terhadap anak buahnya.

Sikap ini tidak disukai. Bahkan ia dicurigai dan diawasi. Kelakuan Jepang yang semakin kejam dan sewenang wenang menimbulkan kemarahan rakyat di mana-mana. Maka muncullah pemberontakan Peta di Blitar di bawah pimpinan Supriyadi dan di Gumilir (Cilacap) dipimpin Budanco Kuseri.

Jepang meminta bantuan Soedirman. Tapi Soedirman menanggapi dengan syarat, kampung tempat kejadian tidak ditembaki dan prajurit yang menyerah tidak boleh disiksa. Ternyata permintaan itu tidak disepakati.

Bulan Juli 1945, Soedirman dan beberapa perira Peta   yang dianggap “berbahaya” dibawa ke Bogor dengan alasan untuk diberikan latihan lanjutan. Sebenarnya Jepang berniat membunuh mereka.

Rencana belum dilaksanakan, tanggal 14 Agustus 1945 Jepang bertekuk lutut kepada sekutu. Para perwira Peta itu dikembalikan ke daerah masing masing. Soedirman kembali ke Banyumas.

Setelah proklamasi kemerdekaan RI, di Purwokerto Jepang membubarkan Peta, Senjata dilucuti dan mereka diminta pulang ke kampung halamannya masing masing. Sebelum bubar, Soedirman berpesan, agar teman – teman Peta bersiap siap sekiranya mereka dibutuhkan.

Tanggal 22 Agustus 1945 dibentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR). Soedirman memanggil semua mantan daidanco dan shodanco se karesidenan Banyumas, untuk berkumpul di gedung Yosodarmo di Purokerto.

Para mantan anggota Peta, Heiho, KNIL dan pemuda – pemuda lain yang pernah dilatih dalam Keibodan dan Seinendan, supaya menjadi anggota BKR. Pimpinan BKR karesidenan Banyumas adalah Soedirman dibantu Sutirto dan Abimanyu.

Khusus BKR kabupaten Banyumas diketuai Imam Androngi, BKR Purbalingga dipimpin Broto siswoyo, BKR Banjarnegara Mochamad Bachrun dan Suprapto, sedangkan BKR Cilacap diketuai Sunardi.

Di gedung Yosodarmo itu mereka mengadakan rapat selama enam hari.Mereka membahas mengumpulkan orang orang Jepang dan melucuti senjatanya. Saat itu di mana – mana terjadi pemberontakan untuk merebut kekuasaan dari tangan Jepang.

Di banyumas pelucutan senjata Jepang dilakukan dengan jalan diplomasi. Diplomasi dengan Jepang berhasil dan BKR Banyumas memperoleh 8000 pucuk senjata.

Dengan demikian BKR Banyumas merupakan kesatuan dengan senjata terlengkap waktu itu, Saat BKR berubah menjadi TKR (Tentara Kamanan Rakyat) Soedirman menjadi komandan Resimen I Divisi I TKR. Kepala staf markas besarnya Letjen Oerip Soemohardjo, kemudian mengangkat Soedirman menjadi komandan Divisi V/Banyumas.

Tanggal 23 Nopember 1945 , terjadi pertempuran hebat menghadapi tentara sekutu di Ambarawa. Divisi V/TKR Banyumas yang memiliki senjata terlengkap, terjun ke medan pertempuran itu di bawah komando Letkol Isdiman.

Ketika Letkol Isdiman gugur akibat serangan udara sekutu, Kolonel Gatot Subroto mengambil alih pimpinan. Saat situasi kritis dan tidak menentu, pucuk pimpinan TKR menugaskan Kolonel Soedirman ke Ambarawa .

Kehadiran Komandan Resimen V ini tidak sia sia. Benteng Banyubiru jatuh ke tangan TKR dan 15 Desember 1945, kota Ambarawa sepenuhnya dikuasai TKR. Tanggal tersebut kemudian diabadikan sebagai Hari Infanteri.

Tiga hari kemudian yaitu tanggal 18 Desember 1945, Kolonel Soedirman terpilih menjadi Panglima Besar dan pangkatnya dinaikan menjadi Jenderal. Pemilihan Panglima Besar ini cukup unik. Begitu juga pelantikannya. Presiden Soekarno merangkul Soedirman dihadapan para komandan TKR dan berkata “Ini Panglima Besarmu”.

Bersama Pangima Oerip Soemohardjo, Jenderal Soedirman segera menyempurnakan organisasi TKR. Awal tahun 1946 berubah menjadi Tentara Keselamatan Rakyat. Belum sebulan nama itu dirubah lagi menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI).

Meski perbedaan usia sangat mencolok, Soedirman bisa bekerja sama dengan Oerip Soemohardjo. Setelah reorganisasi, pada tanggal 25 Mei 1946, Jenderal Soedirman dikukuhkan kembali sebagai Panglima Besar. Bila dalam pemerintahan ada dwitunggal Soekarno – Hatta, di ketentaraan ada dwitunggal Soedirman Oerip Soemohardjo.

Mei 1947 keluar Surat Keputusan Presiden , isinya sejak 3 Juni 1947 sudah harus terbentuk Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang terdiri dari TRI dan laskar – laskar . Sebelumnya ia sudah berusaha keras untuk mempersatukan laskar laskar yang berasal dari berbagai latar belakang.

Meski terjadi riak di sana sini, semua pihak menyadari perlunya bersatu melawan Belanda yang ingin kembali menjajah. Soedirman terkadang berbeda pendapat dengan perintah.

Ia ingin menyelesaikan pertentangan dengan Belanda secara militer, sementara pemerinth cenderung menempuh cara diplomasi. Kemudian lahir perjanjian Linggarjati yang menguntungkan Belanda Ketika penggabungan lascar-laskar ke TNI belum seluruhnya berhasil, tanggal 21 Juli 1947 Belanda melancarkan agresi.

TNI mundur melakukan konsolidasi untuk membangun kekuatan baru.Sementara itu pemerintah melakukan perundingan dengan Belanda dan lahirlah perjanjian Renville yang membuat wilayah RI menyusut. Angkatan perang terpaksa menyerahkan daerah daerah kantong yang strategis kepada Belanda. Soedirman kecewa, namun tetap patuh kepada pemerintah.

Mantan Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan Amir Syarifudin membentuk oposisi menentang pemerintah. Datangnya tokoh komunis kawakan Muso, membuat kekuatan oposisi semakin bertambah.

Kerusuhan terjadi di Solo antara pasukan Siliwangi yang hijrah ke daerah itu dengan pasukan Panembahan Senopati.   Selagi TNI menghadapi Belanda , tanggal 18 September 1948, PKI di bawah pimpinan Amir Syarifudin , Muso, Alimin dan lain lain, menusuk dari belakang. Mereka melakukan pemberontakan di Madiun.

Dalam waktu singkat pemberontakan ini dapat dipadamkan Tapi keselamatan Negara terancam. Belanda bersiap – siap untuk menyerbu kembali. Panglima Soedirman terpaksa tinggal di rumah, setelah menjlani operasi karena paru – paru kirinya tidak berfungsi lagi.

Ia disarankan menyingkir ke luar kota. Namun Soedirman tidak mau berpisah dengan anak buahnya.Ia baru akan menyingkir bila Belanda menjatuhkan bom di Yogyakarta.

Sehari setelah Soedirman memegang pimpinan perang, 19 Desember 1948 Belanda berhasil merebut Bandara Maguwo, Yogyakarta. Belanda bergerak menuju kota, melancarkan Agresi Militer II.

Dalam keadaan sakit, Soedirman menuju istana untuk menerima instruksi presiden. Bung Karno menyarankan agar ia tetap tinggal di rumah karena masih sakit. Sementara menunggu keputusan pemerintah, ia menyusun perintah untuk seluruh anggota Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI).

Keputusan pemerintah yang memilih tetap tinggal di kota, sangat mengejutkan. Sedangkan pesawat Belanda menjatuhkan bom di seantero Yogyakarta. “Tempat saya yang terbaik adalah di tengah tengah anak buah.Saya akan meneruskan perjuangan dengan perang gerilya dengan sekuat tenaga, bersama seluruh prajurit,” tegas Soedirman.

Kapten Supardjo Rustam diperintahkan menyampaikan perintah kilat kepada seluruh anggota APRI, melalui RRI Yogyakarta. Hari itu juga tanggal 19 Desember 1948, dalam keadaan sakit ia meninggalkan Yogyakarta dan melakukan perang gerilya yang berlangsung selama tujuh bulah.

Ia ditandu naik turun gunung bersama anak buahnya. Yang ikut bergerilya di antaranya Kapten Soepardjo Roestam, Kapten Tjokropranolo, Sersan Heru Keser, Sersan Utoyo Kolopaking, Dr. Suwondo, Suadi dan Hadi Gundul.

Route pejalanan gerilya yaitu Yogyakarta, Kertek menyeberang kali Opak, menginap di kelurahan Grogol. Terus melanjutkan perjalanan ke desa Panggang dan Palihan, Playen, Semanu, Pracimantoro, dan Wonogiri.

Dari sini melanjutkan ke ponorogo dan tanggal 23 Desember 1948. mereka sampai DI Blando. Route selanjutnya ke Sukarame, Kediri. Selama gerilya, apabila kebetulan ada yang ke Yogyakarta, ia titip salam kepada teman teman santri pengajian di Yogya, minta dikirimi Al Qur’an dan bacaan lain.

Di Kediri ini rencananya Panglima Besar akan bermarkas.Setelah diadakan rundingan dengan kolonel Sungkono, Panglima Daerah JawaTimur, yang juga putra Banyumas, tempat itu dinyatakan tidak cukup aman. Ternyata benar, pada 3 Desember kota Kediri mendapat serangan udara Belanda .

Soedirman kembali ke Jawa Tengah mengambil route desa LimanSerang (puncak gunung Wilis), Jambu, Wayang, Sedayu.Tanggal 24 Januari 1949 mereka sampai di Trenggalek. Perjalanan dilanjutkan ke desa Bedak , Nogosari (Pacitan), Pringapus, Sobo (Pacitan). Selama gerilya beberapa kali Soedirman dan pasukannya hampir terjebak serangan musuh.

Perang gerilya yang dilancarkan ternyata berhasil mematahkan offensief Belanda. Serangan 1 Maret 1949 di bawah pimpinan Letkol Suharto merupakan titik balik.Karena terdesak, Belanda mengajak berunding.

Tanggal 7 Mei 1949 terjadi perjanjian Roem – Royen , Presiden, wakil presiden dan pejabat pemerintahan lain yang tadinya ditawan di pulau Bangka, dikembalikan lagi ke Yogyakarta. Jenderal Soedirman diminta datang ke Yogyakarta untuk ikut berunding dengan Belanda.

Tapi ia menolak. Atas jasa baik kolonel Gatot Subroto, Soedirman akhirnya bersedia, Kehadirannya di Yogyakarta disambut parade. Pada tanggal 10 Juli 1949 itu diantar oleh Kolonel Simatupang, Jenderal Soedirman menghadap Presiden Soekarno, yang menyambut dengan rasa haru.

Soedirman yang kesehatannya semakin menurun, harus diraat.Semua perundingan yang memerlukan kehadiran Soedirman, terpaksa dilakukan di rumah sakit. Setelah pengakuan kedaulatan, ibu kota RI pindah ke Jakarta.

Namun karena kesehatnnya yang tidak memungkinkan, Soedirmn tinggal di pesanggrahan militer di Magelang. Siang hari 29 Januari 1950, tokoh besar ini sempat memeriksa raport sekolah anak anaknya .

Belum sempat menandatanganinya, sakit yang hebat tiba – tiba menyerang.Pukul 18.30 hari itu juga, Jenderal Soedirman, Panglima Besar Angkatan Perang Republik Indonesia, meninggal dunia. Jenazahnya dimakamkan esok harinya di Taman Makam Pahlawan Semaki Yogyakarta.

Tokoh besar yang sederhana ini meninggalkan seorang isteri dan tujuh orang anak. Mereka adalah Achmad Tidarwono, Didi Praptiastuti Waluyo, (alm) Letkol Dra.Didi Sugiarti, Drs. Tufik Efendi, Didi Pujiati.SH, Titi Wahyuti Setyaningrum, dan yang bungsu Ir. Mohamad Teguh Bambang Tjahyadi.

Pemerintah menaikan pangkat Soedirman dari Letnan Jenderal (akibat nasionalisasi tahun 1948, pangkatnya dari Jenderal turun ke Letnan Jenderal) menjadi Jenderal Anumerta.

Menjelang Hari ABRI ke 52 almarhum memperoleh kenaikan pangkat kehormatan menjadi Jenderal Besar bersama Jenderal Abdul Haris Nasution dan Jenderal Soeharto.

Penghargaan itu diterima oleh keluarga Panglima Besar Soedirman yang diwakili cucunya Danang Priambodo di Balai Soedirman Jakarta. Pangkat bintang lima diberikan kepada almarhum karena jasa-jasanya yang luar biasa.

Penghargaan dan tanda jasa lain yang diperoleh , antara lain Bintang Setyalencana Perang Kemerdekaan I dan II, Bintang Gerilya, Bintang Sakti, Bintang RI tingkat II, Bintang Kartika Eka Paksi kelas I, dan Bintang Maha Dharma kelas I, dan Bintang Yudha Dharma kelas satu. Penghargaan tertinggi dari pemerintah berupa Gelar Pahlawan Nasional.

Untuk mengenang jasa-jasa dan perjuangan Jenderal Besar TNI Soedirman. Di kota – kota besar di Indonesia nama Soedirman diabadikan menjadi nama jalan protocol. Namanya juga diabadikan berbagai macam bentuk, seperti museum Jenderal Soedirman di Yogyakarta,   monumen napak tilas Panglima Sodirman di dukuh Sobo Pacitan, monument Jenderal Soedirman di tempat kelahirannya, Dukuh Rembang kabupaten Purbalingga.

Di Purwokerto selain sebagai nama jalan dan munumen, Jenderal Soedirman juga diabadikan sebagai nama Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yaitu Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED).

Sedangkan untuk mengenangnya, patung Soerdirman juga didirikan di tujuh kota, antara lain; Patung Jenderal Soedirman dibangun tepat di halaman kampusnya yang luas dan asri. Di kampus ini, Patung Sudirman ditampilkan sedang menunggang kuda.

di Surabaya, Patung Jenderal Soedirman berdiri tegap ada di depan Monumen Bambu Runcing di Surabaya. Patung Sang Jenderal terletak di Jl Yos Sudarso, jalan protokol yang ramai.

Di Kabuaten Pacitan Masih di Jawa Timur, patung Sang Jenderal berdiri megah di Kabupaten Pacitan. Di kota ini ada Monumen Jenderal Sudirman yang dibangun untuk mengenang sejarah perang gerilya Sang Jenderal dalam melawan penjajah. Monumen ini terletak di Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan. Tak jauh dari Monumen ada lokasi bekas rumah persembunyian Jenderal Sudirman.

Di kota gudeg Yogyakarta juga ada Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Sudirman. Museum yang berlokasi di Jl Bintaran Wetan No 3 ini memuat koleksi perjuangan Jenderal Sudirman. Bangunan berarsitektur kolonial ini merupakan bekas kediaman Panglima Besar Jenderal Sudirman. Di bagian luarnya, terdapat patung Sang Jenderal sedang menunggang kuda.

Di Alor, Nusa Tenggara Timur, Patung Jenderal Sudirman tak hanya ada di Pulau Jawa. Di Pulau Alor, NTT, terdapat patung Jenderal Sudirman berdiri gagah menghadap Selat Ombay. Monumen ini terletak di Desa Maritaing, Kecamatan Alor Timur. Patung ini langsung menghadap laut perbatasan Pulau Alor dengan Timor Leste, bagaikan ‘penjaga’ NKRI. Monumen setinggi 7 meter itu rampung dan diresmikan pada Mei 2011.Dan di Ibu kota Negara, Jakarta, Patung Jenderal Sudirman tengah berdiri tegak dengan sikap hormat ada di dekat Bundaran Hotel Indonesia. Di jalan yang juga diabadikan atas namanya itu.

Patung Pak Dirman yang terbuat dari perunggu seberat 4 ton menjadi icon yang cukup terkenal. Patung itu ada dalam salah satu adegan film Naga Bonar Jadi 2 dimana sang tokoh Jenderal Naga Bonar memanjat patung itu dan menghiba agar sang Jenderal menurunkan tangannya karena menilai banyak rakyat yang sudah tak menghargai jasa para pahlawanya.

Dan terakhir di Kabupaten Purbalingga berlokasi di perempatan Jalan Mayjen Sungkono dengan Jalan Letnan Yusuf dan Jalan Soekarno-Hatta, yang baru saja roboh, Minggu (3/12) kira-kira pukul 09.30 wib. (tri atmo_mahendra yudhi krisnha)

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!