Jangan Lupakan Geguritan, Puisi Berbahasa Jawa Nan Indah

By: On: Dibaca: dibaca 44.28Rbx
Jangan Lupakan Geguritan, Puisi Berbahasa Jawa Nan Indah

 

Keterampilan membaca ekspresif geguritan dihadapkan pada berbagai kendala dalam pembelajaran. Minimnya minat baca peserta didik pada teks sastra Jawa merupakan salah satu kesulitannya. Teks sastra Jawa yang mayoritas memiliki makna tersirat dan sulit dipahami mengakibatkan pembelajaran membaca geguritan lebih sulit dibandingkan dengan pembelajaran lainnya.

“Selain itu anggapan mayoritas peserta didik, bahwa geguritan tidak ada gunanya untuk dipelajari. Peserta didik lebih fokus pada pengetahuaan dunia praktis,”tutur Kepala SD Negeri 1 Purbalingga Lor, Hartati kepada lintas24.com dan tabloid elemen.

Hartati menyebutkan, geguritan adalah istilah yang digunakan dalam bahasa Jawa untuk menyebut puisi. Jadi secara sederhana Geguritan itu puisi berbahasa jawa. Geguritan merupakan bentuk puisi yang berkembang di kalangan penutur bahasa Jawa. Cara membaca geguritan tidak jauh berbeda dengan membaca puisi di dalamnya terdapat unsur-unsur membaca indah

“Geguritan dinikmati dan dihayati melalui tulisan yang mengandung nilai-nilai karakter.

Namun kenyataannya, saat ini penikmat geguritan seperti generasi muda kurang menyukai.Tidak dapat dipungkiri bahwa kepedulian generasi muda terhadap sastra daerah seperti geguritan mulai memudar,” ungkap Hartati.

Oleh karena itu lanjut Hartati, sudah menjadi tugas para pendidik untuk mengajarkan dan melestarikan geguritan kepada para generasi penerus mulai dari pendidikan dasar, menengah dan tinggi. Sebenarnya tidak sulit untuk menularkan pengetahuan tentang geguritan. Dalam gegerutn terdapat 4W Wicara atau ucapan, Wirama (irama), Wiraga (sikap badan), Wirasa (penjiwaan atau penghayatan).

“Dalam pengucapan harus benar dan bisa membedakan a, i, u, e, o , th, d, dh. Contohnya kata kanca kalau berdiri sendiri harus diucapkan berubah menjadi konco, namun kalau kata itu diberi awalan atau akhiran, maka akan tetap dibaca “dikancani”,”jelas Hartati.

Hal senada diungkapkan Sri Susilowati guru pembimbing geguritan SD Negeri 1 Purbalingga Lor. Diungkapkan Susilowati, sebenarnya kesulitan membaca geguritan disebabkan oleh kebiasaan menggunakan Bahasa Indonesia setiap harinya. Pembelajaran Bahasa dan Sastra Jawa mencakup empat keterampilan berbahasa yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.

“Salah satu keterampilan membaca Bahasa dan Sastra Jawa adalah membaca geguritan. Geguritan adalah puisi Jawa modern,”ungkapnya.

Saat ini lanjut Susilowati, sangat penting menjadikan bacaan bahasa jawa wajib untuk murid-murid SD karena nilai budaya dan karakternya, geguritan pun patut diterapkan demikian karena mengandung adiluhung atau mutu yang tinggi.

“Geguritan, memiliki fungsi sebagai alat untuk mengajarkan karakter serta mencerahkan jiwa dan batin manusia. Maka, geguritan adalah harta emas yang harus disadari dan disosialisasikan kepada generasi muda yang kemudian diiringi usaha pelestarian bersama,”ungkapnya.

Dua siswa SD Negeri 1 Purbalingga,  Lubna Athaya Tanisa (kelas 3) dan Beryl Adi Candra Putra Aryanta (kelas 6) berhasil membawa pulang piala juara 1 membaca geguritan dan tembang macapat pekan seni tingkat Kabupaten Purbalingga tahun 2017. (mahendra yudhi krisnha)

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!