Ini Jalur Terbaik Untuk Pendakian Gunung Slamet

By: On: Dibaca: 82,280x
Ini Jalur Terbaik Untuk Pendakian Gunung Slamet

Gunung Slamet dengan ketinggian 3.428 meter dpl adalah sebuah gunung berapi kerucut di Pulau Jawa. Gunung Slamet terletak di antara 5 kabupaten, yaitu Kabupaten Brebes, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Tegal, dan Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah.

Gunung Slamet merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah dan tertinggi kedua di Pulau Jawa setelah Gunung Semeru. Kawah IV merupakan kawah terakhir yang masih aktif sampai sekarang

Gunung Slamet cukup populer sebagai sasaran pendakian meskipun medannya dikenal sulit, jarang ditemukkan sumber air, dan kabut sering turun sehingga dapat menghalangi pemandangan, akan tetapi pesona dari puncak gunung Slamet tetap membuat banyak para pendaki lokal atau mancanegara ingin mendakinya.

Ada enam jalur pendakian menuju Gunung Slamet, para pendaki dapat memilihnya sesuai dengan keinginan. Sebaiknya, pilihlah jalur pendakian yang tidak membahayakan diri sendiri. Namun, biasanya banyak pendaki memilih jalur pendakian yang terbilang susah karena lebih menantang sehingga dapat memberikan sebuah pengalaman baru baginya.

Bagi Anda  yang baru akan mendaki gunung Slamet, pendakian gunung Slamet terbagi menjadi enam jalur. Pilihlah jalur pendakian yang tidak membahayakan diri Anda, karena keselamatan tetaplah hal yang utama.

Jalur Bambangan Kabupaten Purbalingga

Jalur Pendakian Gunung Slamet melalui Pos Pendakian Bambangan Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga. Foto : cikasur.com

Jalur Bambangan menjadi jalur pendakian yang paling disukai oleh para pendaki. Hal ini disebabkan karena akses jalanan tidak terlalu terjal sehingga memudahkan para pendaki. Sesuai dengan namanya basecamp jalur ini terletak di Desa Bambangan, Purbalingga. Jalur Bambangan ini memiliki sembilan pos pendakian dengan jarak tempuh sekitar 11,5 jam untuk mencapai puncak Gunung Slamet.

Jalur paling umum yang digunakan oleh para pendaki adalah jalur Bambangan dengan memiliki sembilan pos. Dengan akses jalan yang tidak terlalu terjal, Anda akan menemui gardu pandang di pos pertama kemudian dilanjutkan dengan trek yang ekstrim pada pos kedua akan ditemui banyak warung makan.

Selanjutnya di pos tiga disebut sebagai pos tersulit  karena jalanannya yang ekstrim. Pada pos keempat ditemukan suasana mencekam dengan tempatnya yang sempit dan banyak pohon tumbang. Pada pos selanjutnya Anda sudah bisa mendirikan tenda. Semua rasa lelah akan terbayar ketika sudah sampai di pos sembilan yaitu keindahan puncak gunung Slamet.

Jalur Dipajaya Kabupaten Pemalang

Pertemuan jalur Bambangan Purbalingga dan jalur Dipayana Pemalang. (Foto Istimewa)

Sebenarnya, jalur Pendakian Dipajaya nantinya juga akan bertemu dengan jalur Bambangan setelah melewati pos 2. Setelah melewati persimpangan tersebut, jalur akan sama dengan jalur pendakian Bambangan Purbalingga.

Dari Basecamp, Pendakian dimulai dengan naik melewati perkebunan penduduk dan jajaran pohon pinus. Pendakian mulai menanjak, melewati jalan setapak yang kadang membingungkan antara jalur pendakian dan jalur perkebunan penduduk.

Sehingga harus hati – hati dan mencari petunjuk jalur pendakian yang benar apabila melewati persimpangan. Biasanya dipasang di sebuah pohon yang cukup besar dan mudah ditemukan. Setelah melewati jajaran pohon pinus, selanjutnya jalur pendakian akan mulai melewati berbagai vegetasi khas gunung dengan pohon – pohon yang besar – besar. Pendakian terus saja menanjak tanpa bonus dataran yang cukup lapang.

Pos 1 berada di ketinggian 1960 mdpl. Berupa tanah datar tanpa ada shelter. Akan tetapi, cukupah untuk melepas penat setelah melewati pos 1 yang cukup panjang. Selanjutnya, menuju Pos 2, trek masih tidak jauh berbeda dengan perjalanan menuju pos 2. Dengan pohon – pohon besar dan tinggi yang dapat melindungi kita dari sinar matahari. Pada perjalanan menuju pos 2, sering juga ditemukan kawanan lutung yang bergelantungan diatas pohon yang tinggi – tinggi.

Pos 2 berada pada ketinggian 2080 mdpl. Pos 2 berupa tanah datar dengan luas tidak jauh berbeda dengan pos 1. Perjalanan menuju pos 3 sedikit lebih ringan, kemudian melewati titik pertemuan jalur antara Jalur Pendakian via Bambangan dengan Dipajaya pada ketinggian 2440 mdpl.

Selanjutnya, jalur tetap menanjak hingga sampai di pos 3 – Cemara. Pertemuan jalur pendakian Bambangan dan Dipajaya.

Pos 3 (Cemara) berada pada ketinggian 2465 mdpl, berupa tanah datar yang cukup luas. Trek yang dilalui menuju pos 4 mulai banyak pohon besar dengan akar yang tidak kalah besar. Akar ini dapat membantu maupun menyulitkan pendaki. Dengan Jalur yang tetap menanjak, akar dan dahan tersebut dapat kita manfaatkan untuk berpegangan. Namun, terdapat juga akar dan dahan yang menghalangi jalur, sehingga cukup menyulitkan pendakian Waktu perjalanan, sekitar 1 jam.

Meskipun areanya cuku luas, namun pos 4 merupakan tempat paling dijauhi untuk mendirikan tenda. Pos 4 atau pos Samarantau ini cukup dikenal dengan kisah mistisnya. Menuju pos 5, track tidak terlalu terjal dan cukup dekat. Pendaki bisa berjalan santai dalam rimbunnya hutan adalah sesuatu yang manis untuk dikenang. Waktu tempuh, sekitar 45 menit.

Pos 5 adalah tempat paling ideal untuk mendirikan tenda, masak dan tidur. Selain areanya yang cukup luas, di sini para pendaki sudah dapat menemukan sumber air berupa sungai dan warung yang menjual nasi bungkus, gorengan, dan kopi panas.

Jalanan menuju pos 6, masih berupa, bisa dibilang, bonus. Pemandangan hijau masih menghibur mata. Waktu yang dibutuhkan, kurang lebih, 30 menit. Berada disini, pendaki akan melihat area tanah datar yang sempit, jarang sekali pendaki yang mendirikan tenda di sini.

Menju pos 7, jalanan masih landai dan dekat, hanya 20 menitan. Di pos 7 pemandangan mulai terbuka, pohon-pohon tinggi sudah jarang ditemukan. Di sini pun terdapat selter pendakian. Area tanah tidak terlalu luas dan bau belerang dari kawah Segoro Wedhi sudah mulai menusuk hidung, namun tidak jarang juga ada pendaki yang mendirikan tenda di sini, mengingat puncak berada tidak jauh.

Perjalanan dari pos 7 ke pos 8 sangat dekat, hanya berjarak dengan waktu tempuh 15 menit. Track berupa tanah yang padat, pemandangan sangat terbuka, terkesan gersang, di pinggiran track, kita bisa menemukan bunga-bunga Edelweis yang tumbuh di antara semak-semak belukar.

Perjalanan menuju pos 9 membutuhkan waktu, rata-rata 30 menit, masih dihiasi dengan pemandangan bunga Edelweis di pinggiran track. Pemandangan terbuka, hijau dan mengagumkan. Track menuju puncak sudah dapat terlihat.

Pos 9 merupakan batas vegetasi antara tanah dan bebatuan merah. Menuju puncak, kita harus berhadapan dengan track batu merah cadas dengan tingkat kemiringan yang cukup tinggi. Terjal, mulai menguji tekad dan mental, berhati-hatilah saat memilih pijakan.

Jalur Dawuhan Sirampog Brebes

Jalur pendakian ini tidak seramai jalur Bambangan, namun  sangat cocok bagi pendaki pemula. Jalur sangat bersahabat dengan pendakinya. Basecamp pada jalur ini terletak di Desa Dawuhan, Kecamatan Sirampong Brebes. Untuk sampai di puncak Gunung Slamet Anda harus melewati lima pos dengan waktu jarak tempuh sekitar 11 jam.

Dengan melewati lima pos jalur pendakian Anda akan melewati jalan yang cukup landai dengan pemandangan perkebunan sayuran warga, pada pos satu Anda akan menemui pemandangan pohon-pohon bambu. Di pos dua Anda akan menemukan jalan bercabang sebaiknya ada mengikuti petunjuk arah yang ada. Selanjutnya Anda akan melewati rerimbunan hutan, dan pada tahap terakhir sampai di puncak Anda harus melewati perbukitan pegunungan Malang.

Jalur Guci, Joblong Kabupaten Tegal

Jalur yang satu ini terkenal dengan keindahan alam di sepanjang jalan menuju puncak Gunung Slamet. Berbeda dengan jalur sebelumnya jalur ini memiliki dua basecamp yaitu Gupala dan Kompak yang terletak di desa Guci, Joblong kabupaten Tegal.

Jalur Guci memiliki lima pos termasuk Plawangan yang menjadi daerah perbatasan vegetasi yang memiliki waktu tempuh sampai puncak Gunung Slametnya adalah sekitar 9,5 jam.

Menempuh  jalur ini Anda akan melawati lima pos dengan jalanan yang cukup landai, tingkat kemiringan pada tanjakannya, dan cukup licin tetapi terbayar dengan melewati pemandangan hutan pinus, pemandangan yang didominasi oleh warna hijau yang menurut penelitian dapat memberikan perasaan bahagia ketika melihatnya, ada pula lorong-lorong yang terbentuk secara alami oleh ranting-ranting pohon. Dengan jalur ini Anda dapat melihat langsung kawah Segoro Wedi yang sangat mengagumkan.

Jalur Baturraden Kabupaten Banyumas

Di jalur pendakian yang satu ini, Anda akan menjumpai akses jalan yang paling ekstrim di bandingkan dengan jalur pendakian lainnya. Jika baru pertama kali akan mendaki Gunung Slamet sebaiknya jangan lewat jalur Baturaden.

Sepanjang trek perjalanan menuju puncak Slamet dipenuhi dengan jalanan yang terjal dan sangat menanjak, banyak bercabang sehingga dapat membuat Anda tersesat, selain itu jalanan lewat jalur ini juga licin. Ada tiga pos pada jalur pendakian ini, waktu yang ditempuh untuk mencapai puncak gunung Slamet sekitar 11 jam.

Jalur pendakian ini akan dimulai dengan melewati hutan yang memberikan udara yang sejuk dengan jalan yang landai menuju pos kedua Anda bisa ngopi disana karena terdapat banyak warung makan. Pada pos tiga Anda akan sampai di puncak gunung Slamet dengan melihat kemegahan pemandangan di atas awan.

Jalur Sigendong, Bumijaya Kabupaten Tegal

Jalur pendakian gunung slamet yang terbilang baru ini banyak disukai oleh pendaki, karena memiliki akses yang mudah. Basecamp jalur ini terletak di desa Sigendong, Bumijaya Tegal. Anda harus melewati enam pos untuk sampai di puncak Gunung Slamet dengan waktu sekitar 9 jam.

Jalur pendakian Sawangan dimulai dengan melewati ladang pertanian penduduk, kemudian memasuki kawasan hutan pinus. Ada banyak semak-semak lewat jalur ini dengan ketinggian sampai 100 meter, air bersih ditemukan pada pos yang ketiga. Dengan berbagai rintangan hutan tropis yang lebat dan melewati pohon tumbang akan menjadi indah ketika sudah sampai di pos ke enam yang merupakan puncak dari Gunung Slamet. Setelah meleati enam pos dan plawangan, rasa capek dan lelah anda benar-benar akan terbayar lunas dengan kemegahan pemandangan di atas awan yang tak akan terlupakan.

Jalur Kaligua Paguyangan Kabupaten Brebes

Jalur yang terbilang baru ini masih jarang dilewati oleh para pendaki adalah jalur kaligua karena belum banyak pendaki yang mengetahui adanya jalur ini. Pemandangan yang ada di sepanjang perjalanan menuju puncak gunung Slamet ini masih sangat asri karena belum banyak dijamah oleh banyak orang. Dengan jumlah pos sebanyak lima pos, Anda dapat sampai di lokasi dalam waktu 9 jam. Basecamp jalur ini terletak di dusun Kaligua, Paguyangan Brebes.

Ketika Anda menggukan jalur kaligua ini, ada beberapa spot menarik sehingga perjalanan Anda akan lebih mengasyikan karena banyak pemandangan indah dari pemandangan ini. Tidak seperti jalur yang lainnya yang biasanya hanya melewati pemandangan hutan yang lebat.

Jalur kaligua ini dimulai dari Gardu Pandang Sakub Kaligua, dilanjutkan dengan Gringgingan Gundel, Taman Wlingi, Taman Dringo, Pasar Setan, Sumur Penganten, Alas Rubuh, Igir Malang, dan Plawangan. Sebelum di puncaknya Anda sudah begitu banyak melihat pemandangan yang sangat indah, terlebih di puncak Gunung Slamet Anda akan melihat pemandangan atas awan yang sangat megah.

Anda harus memilih jalur pendakian Gunung Slamet yang tidak membahayakan diri sendiri karena keselamatan adalah hal paling utama yang harus diperhatikan walaupun banyak pendaki yang menyukai jalur yang sulit karena dianggap lebih menantang. Satu kepuasan tersendiri bagi para pendaki, jika sudah sampai di puncak gunung Slamet. (dirangkum dari berbagai sumber)

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!