by

Ini Cerita Jenderal Polisi Hoegeng dan Kelakar Gus Dur ‘Tiga Polisi Jujur’

Presiden ke-4 Republik Indonesia, Almarhum Abdurrahman Wahid atau Gus Dur punya kelakar yang membawa nama Hoegeng dan kerap ditulis ulang di berbagai kisah.

Gus Dur berkelakar mengatakan, “Di negeri ini, cuma ada tiga polisi jujur, yaitu patung polisi, polisi tidur, dan polisi Hoegeng.” Belum ada nama lain yang bisa menggantikan, atau bahkan sekadar menyamai Hoegeng.

Baca Juga: Unggahan Guyonan Gus Dur tentang Tiga Polisi Jujur. Ismail Dibawa Ke Mapolres Kepsula

Baca Juga: Kapolda Maluku Utara, Irjen Rikwanto: Setelah Mendalami Kasus Unggahan Tiga Polisi Jujur. Reaksi Polres (Kepulauan) Sula Itu Kurang Tepat

Baca Juga: Kapolres Kepulauan Sula AKBP Muhammad Irvan: Ismail Ahmad Bukan Ditangkap Tapi Diminta Klarifikasi Soal Unggahan Guyonan Gus Dur “Tiga Polisi Jujur”

Lelucon populer cerita tiga polisi jujur versi Gus Dur  saat ini menjadi viral lagi setelah Ismail Ahmad seorang Pegawai Negeri Sipil di Kabupaten Kepulauan Sula (Kepsula) Provinsi Maluku Utara (Malut) ini membaca artikel ini di mesin pencarian google dan mengunggah kembali di linimasa facebooknya.

Baca Juga: Mabes Polri Minta Jajarannya Jangan Reaktif dengan Candaan

Dua jam setelah kalimat tersebut bertengger di linimasa media sosialnya, beberapa polisi mendatangi rumahnya. Mereka dari Polres Kepsula meminta Ismail ke kantor polisi untuk dimintai keterangan terkait unggahannya di Facebook. Sesampainya di Polres Kepulauan Sula, Ismail ditanyai polisi selama dua jam terkait postingan-nya. Setelah itu, dia diperbolehkan pulang dengan syarat selalu wajib lapor setiap pukul 09.00 WIT, kecuali Sabtu dan Minggu.

Baca Juga: GP Gerakan Pemuda Minta Polisi Tak Cari Masalah soal Guyonan Gus Dur

Baca Juga: Jenderal Polisi Hoegeng, Sosok Pencetus Penggunaan Helm di Indonesia

Sebenarnya kelakar Gus Dur ini sudah sering disampaikan dan dimuat di buku-buku tentang Gus Dur, di antaranya di buku’Tertawa Ala Gus Dur, Humor Sang Kyai’ karya Imron Nawawi, ‘Koleksi Humor Gus Dur’ karya Guntur Wiguna, dan ‘Mati Tertawa Bareng Gus Dur’ karya Bahrudin Achmad.

Baca Juga: Bulan September Ceria. Masyarakat Purbalingga Bakal Menikmati Air Mancur dan Tulisan “I Love Purbalingga” di Alun-alun

Baca Juga: Kapolri Keluarkan Maklumat Larangan Kerumunan Massa Terkait COVID-19

Namun tidak semua buku menjelaskan perihal konteks munculnya lelucon ini. Dirangkum dari beberapa sumber, ini sejarah lelucon itu:

Buku karya Muhammad Zikra berjudul ‘Tertawa Bersama Gus Dur: Humornya Kiai Indonesia’, menjadi salah satu buku yang menerangkan konteks munculnya lelucon ini. Saat itu, ceritanya Gus Dur sedang ngobrol-ngobrol santai dengan para wartawan di rumahnya, Jalan Warung Silah, Ciganjur, Jakarta Selatan. Keluarlah lelucon soal tiga polisi jujur itu.

“Lelucon yang sebenarnya juga kritikan itu dilontarkan untuk menjawab pertanyaan wartawan perihal moralitas polisi yang kian banyak dipertanyakan,” tulis Muhammad Zikra di halaman 20 buku itu.

Baca Juga: Presiden Jokowi  Perintahkan Kapolri Tindak Pelaku Rasisme

Baca Juga: Guru SMPN 1 Turi Tersangka Kasus Susur Sungai Sempor Digunduli.  PB PGRI Tak Terima

Lalu Gus Dur menjawab pertanyaan wartawan seraya berseloroh, “Polisi yang baik itu cuma tiga. Pak Hugeng almarhum bekas Kapolri, patung polisi, dan polisi tidur.”

Sebagaimana disampaikan kembali di situs NU Online, Gus Dur berseloroh, “Nah, Polri memang sudah lama menjadi praktik kurang bener itu, sampai guyonan-nya kan hanya ada tiga polisi yang jujur: Pak Hoegeng (Kapolri 1968-1971), patung polisi, dan polisi tidur… hehehe…,”

Di awal 1956, pria yang lahir pada 14 Oktober 1921 di Pekalongan, Jawa Tengah tiba di Pelabuhan Belawan, Medan, Sumatra Utara bersama istrinya. Dia harus mengemban jabatan baru sebagai Kepala Direktorat Reserse Kriminal pada Kantor Polisi Sumut (sekarang Polda Sumut). Betapa tidak, sebelum berangkat, atasan dan sejumlah koleganya sudah mewanti-wanti.

Banyak sudah perwira polisi yang bertekuk lutut karena berutang budi pada pengusaha kakap di Kota Medan ini. Disebutkan, adalah daerah rawan dan keras. Penyelundupan dan perjudian seolah tak tersentuh. Pengusaha yang umumnya dikuasai oleh etnis Tionghoa.

Benar, ketika menginjakan kaki di rumah dinas ternyata perabotan mewah sudah memenuhi rumah itu. Mulai dari kulkas, tape recorder, piano dan kursi tamu. Padahal, saat itu dia hanya membawa perlengkapan seadanya. Seketika itu, dia minta anak buahnya untuk menyingkirkan semua barang itu. Namun, anggota itu mengaku tak berani. Akhirnya, perwira polisi ini mengeluarkan sendiri semua perabot tersebut dan meletakkannya di pinggir jalan.

Sejak itu pula, sebuah nama Hoegeng Iman Santoso seorang perwira polisi dari Jakarta ramai dibicarakan dan terpatri di benak masyarakat Medan. Hoegeng ternyata memang tidak mempan digertak dan disuap. Dalam menjalankan tugas, tak terbilang banyaknya dia membongkar kasus penyelundupan dan perjudian yang dilakukan pengusaha nakal. Tak jarang pula dia harus menangkap dan menahan perwira Polda Sumut yang ikut terlibat.

Buntut dari tindakan itu, di akhir 1959 Hoegeng ditarik ke Polda Metro Jaya dengan jabatan yang sama. Tak sempat merasakan berdinas di kantor baru, dia dipanggil Menko Hankam/KSAD Jenderal TNI Abdul Haris Nasution. Hoegeng ditawari jabatan sebagai Kepala Jawatan Imigrasi. Pamornya yang mencorong saat bertugas di Medan membuat Hoegeng diusulkan banyak pihak untuk menjabat di tempat baru ini.

Selama bertugas di Jawatan Imigrasi, Hoegeng tetap mengenakan seragam polisi, karena dia hanya mengambil gaji dari kepolisian, sedangkan gaji dan fasilitas dari Imigrasi tak disentuhnya. Dia juga menolak mobil baru pemberian Imigrasi serta upaya merenovasi rumahnya. Hoegeng beralasan, apa yang didapatkan dari kepolisian sudah cukup.

Pertengahan 1965, Hoegeng dilantik Presiden Soekarno menjadi Menteri Iuran Negara (kini Dirjen Pajak). Ada pengalaman menarik saat dia menjabat. Saat itu, calon pegawai baru di lingkup Bea Cukai membawa selembar “surat sakti” dari Wakil Perdana Menteri II Dr Johannes Leimena. Tujuannya tak lain agar diberi kemudahan. Hoegeng lantas berkirim surat kepada Leimena menyatakan maaf karena tak bisa membantu. Esok harinya Leimena mengontak Hoegeng sambil meminta maaf.

Akhir tahun 1965, Hoegeng diangkat menjadi Menteri/Sekretaris Kabinet. Namun, pada Juni 1966, Hoegeng diminta menjadi Deputi Menteri/Panglima Angkatan Kepolisian (Deputi Kapolri). Meski itu berarti turun pangkat dari menteri menjadi Wakil Kapolri, Hoegeng menerima karena dia merasa kembali ke habitatnya, kepolisian.

Pada 1 Mei 1968 pangkat Hoegeng dinaikkan menjadi komisaris jenderal polisi dan dua pekan kemudian dilantik sebagai Panglima Angkatan Kepolisian (Kapolri). Selama menjadi Kapolri, Hoegeng berusaha selalu datang paling awal dibandingkan staf lainnya. Setiap pagi saat menuju kantor, dia selalu mencari rute yang berbeda dengan tujuan untuk melihat langsung kondisi daerah yang dilaluinya.

Tak jarang Hoegeng turun dari mobil sekadar untuk melancarkan arus lalu lintas yang macet. Sesekali waktu dia juga berangkat ke kantor dengan bersepeda. Hoegeng pula yang kemudian mengeluarkan peraturan tentang kewajiban menggunakan helm.

Tak hanya itu, setiap ada perjalanan dinas ke luar negeri, Hoegeng selalu pergi sendiri tanpa istri atau anak. Menurutnya, uang negara harusnya untuk membiayai perjalanan pejabat, bukan keluarga pejabat, karena itu hanya akan menguras keuangan negara.

Semua itu dilakukannya sebagai bentuk kecintaan pada profesi serta pemahaman bahwa setinggi apa pun pangkat atau jabatan, polisi tetaplah seorang pelayan dan pengayom masyarakat, bukan pejabat yang tiap hari sibuk rapat di kantor dan menjauh dari masyarakat.

Hal itu pula yang membuat Hoegeng menolak pembangunan gardu jaga di rumahnya serta menolak diberi pengawalan secara berlebihan.

Pada Oktober 1971 Hoegeng diberhentikan dengan alasan peremajaan. Padahal, usia Kapolri yang menggantikannya ternyata lebih tua dari dirinya. Hoegeng dicopot karena membongkar penyelundupan mobil mewah yang dilakukan Robby Tjahjadi yang dibekingi pejabat tinggi negara (Majalah TEMPO).

Selain itu, Hoegeng dianggap terlalu populer dan terlalu dekat dengan pers serta masyarakat, sehingga menimbulkan ketidaksukaan petinggi negara. Tawaran menjadi duta besar untuk Belgia kemudian ditampiknya. “Saya tak biasa berdiplomasi dan minum koktail,” ujarnya ketika itu.

Usai serah terima jabatan, Hoegeng pun langsung mengembalikan seluruh inventaris milik Polri. Tak pernah terbayangkan, seorang Kapolri pensiun tanpa memiliki rumah dan kendaraan. Yang tertinggal di depan rumah dinas hanya sebuah sepeda butut. Untuk urusan menuju tempat yang agak jauh, Hoegeng pun membiasakan naik bajaj

Dalam buku ‘Oase Menyejukkan di Tengah Perilaku Koruptif Para Pemimpin Bangsa’ yang ditulis Aris Santoso dkk, Ibunda Hoegeng, Roelani menyebutkan, begitu mendapat kabar telah diberhentikan, Hoegeng kemudian mengabarkan pada ibunya. Sang ibu pun berpesan agar si jenderal menyelesaikan tugas dengan kejujuran.

“Karena kita masih bisa makan nasi dengan garam,” tuturnya

Hoegeng mengaku masa-masa pensiun dini tersebut merupakan saat yang sulit buat dia dan keluarga dari sisi ekonomi. Kendati demikian, dia tetap kukuh menolak semua pemberian pihak lain. Hati Hoegeng baru luluh ketika diberi sebuah mobil bekas jenis Holden Kingswood hasil iuran para kapolda se-Indonesia.

Polri pun kemudian membeli rumah dinas Kapolri dan memberikannya pada Hoegeng sebagai penghargaan atas jasa-jasanya. Ketika Hoegeng wafat pada 14 Juli 2004, hilang pula sosok yang menjadi figur polisi teladan itu.

Pada 14 Juli 2004 dini hari sekitar pukul 00.30 WIB, Jenderal Polisi Drs. Hoegeng Iman Santoso meninggal dunia. Hoegeng meninggalkan seorang istri, tiga orang anak dan beberapa cucu. Menurut salah seorang kerabat Hoegeng, sebelum meninggal, almarhum sempat menderita sakit stroke dan gangguan jantung. Hoegeng dimakamkan TPU Tonjong. Hoegeng tak ingin dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP). Dirinya sempat berkata dalam sebuah rapat Petisi 50, mengungkapkan kalau dirinya mati tak mau sekuburan dengan para koruptor.

Hingga kini, Hoegeng tetap dikenal sebagai sosok polisi yang jujur dan bebas korupsi. Bahkan, dia harus mencari tambahan pendapatan dengan bekerja sebagai pembawa acara musik Hawaiian di TVRI sekaligus menjadi penyanyinya. Namanya juga selalu muncul setiap kali Kapolri akan diganti dengan harapan sosok Kapolri baru akan memiliki kriteria seperti Hoegeng. (dari berbagai sumber)

 

 

 

Comment

Feed Berita