Indonesia Raja 2019, Program Jejaring dan Pertukaran Film Pendek Dimulai

By: On: Dibaca: 8,904x
Indonesia Raja 2019, Program Jejaring dan Pertukaran Film Pendek Dimulai

Sepuluh programmer dari sepuluh kota di Indoensia terpilih dalam Program Jejaring dan Pertukaran Film Pendek Indonesia Raja 2019.

Mereka adalah Nur Ulfati untuk wilayah Surabaya, Agus Permana untuk Sukabumi, Muhammad Al Fayed untuk Kalimantan Timur, Taufan Latief Alimudin Akbar untuk Jombang, Adam Sulaiman untuk Jember, Sazkia Noor Anggraini untuk D.I Yogyakarta & Jawa Tengah, Kemala Astika untuk kumpulan wilayah Ciayumajakuning, Kardian Narayana untuk Buleleng, Munir Shadikin untuk Banjarmasin, dan Rickdy Vanduwin .S untuk Bali.

Koordinator pelaksana, Fransiska Prihadi mengungkapkan, program Indonesia Raja adalah ruang untuk saling melihat, mengenal budaya masyarakat dalam arti yang luas, tidak sekedar sisi tradisionalnya namun juga budaya yang nyata di dalam masyarakat terkini. Semua secara implisit dan eksplisit tercermin dari karya-karya film pendek yang dibuat melalui kacamata putra-putri daerah mereka sendir

“Indonesia Raja tidak dirancang untuk kompetisi, namun sebuah gerakan eksibisi, memamerkan pencapaian karya film pendek dalam skala nasional,”ungkapnya

Ia menambahkan, sejak diinisiasi di tahun 2015, program Indonesia Raja terus dikembangkan dan tahun ini memasuki edisi tahun yang ke-5. Wilayah kota Samarinda, Jombang, Sukabumi dan Kalimantan timur sebagai propinsi menjadi wilayah yang untuk pertama kalinya berpartisipasi dalam jejaring kerja nasional ini.

“Catatan menarik lainnya adalah Bali, tahun ini karya-karya dari wilayah Buleleng akan mendapatkan perhatian lebih khusus dengan adanya programmer Kardian Narayana yang akrab dipanggil Cotecx ini,”ungkapnya.

Ia memaparkan, pengumuman programmer ini menandai babak selanjutnya dari rencana kerja sepanjang tahun. Mulai 8 April 2019 pembukaan pendaftaran film pendek untuk program Indonesia Raja resmi dibuka dan akan berakhir pada tanggal 11 Mei 2019, memanggil semua pembuat film pendek untuk mendaftar. Para programmer selanjutnya bertugas untuk menerima pendaftaran film-film pendek dari wilayahnya masing-masing, kemudian melakukan seleksi untuk membuat sebuah program yang diharapkan bisa memperlihatkan pencapaian produksi film pendek wilayah tersebut.

“Secara teknis, film pendek yang akan diseleksi adalah yang berdurasi maksimal 25 menit dengan rentang tahun produksi 2015 hingga 2019. Tidak ada pembatasan tema sama sekali, sehingga semua genre akan dipertimbangkan, baik itu fiksi naratif, dokumenter, animasi, bahkan sampai karya-karya eksperimental sekalipun,”ungkapnya.

Direktur Minikino, Edo Wulia menjelaskan, pertemuan penonton dalam sebuah acara screening inilah yang menjadi salah satu dari misi Minikino sejak awal. Karena pada kenyataannya pertemuan langsung dan komunikasi yang terjadi ketika menonton bersama saat ini belum bisa digantikan oleh teknologi komunikasi paling canggih sekalipun

Sesuai alur kerja yang ditetapkan, semua program yang dibuat tahun ini akan dikembalikan lagi kepada masyarakat umum dalam bentuk pemutaran dan diskusi di berbagai tempat di Indonesia, mulai bulan Juni sampai Desember 2019.

“Program-program ini juga secara langsung akan menjadi salah satu bagian dari berbagai tayangan di festival film pendek Internasional; Minikino Film Week 5, yang akan diselenggarakan di Bali tanggal 5-12 Oktober 2019,”ungkapnya.

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!