HUT Ke 30 Tahun 2016, SMA Negeri 1 Bukateja Festival Jajanan Pasar Tumbuhkan Kecintaan Bangsa

By: On: Dibaca: 176,393x
HUT Ke 30 Tahun 2016, SMA Negeri 1 Bukateja  Festival Jajanan Pasar Tumbuhkan Kecintaan Bangsa

hut ke 30 smansa bukateja 5

Suasana selasar ruang guru di SMA Negeri 1 Bukateja berubah hiruk pikuk, tak ubahnya seperti suasana pasar tradisional. Namun, tak terlihat transaksi jual beli antara pedagang dan pembeli. Para tamu undangan berebut untuk dapat segera menikmati sajian istimewa berupa kudapan ringan yang sudah jarang ditemui.

Yah, Minggu (11 Desember 2016), Para siswa SMA Negeri 1 Bukateja menggelar fesrtival jajanan tradisional. Kegiatan ini masuk dalam rangkaian acara peringatan Hari Jadi ke 30 Tahun, SMA Negeri 1 Bukateja.

Ada salah satu stand menarik yang menyajikan panganan unik yang belum pernah ditemui. Adalah stand milik kelas XI IPS 2 yang digawangi dua dara cantik Shinta (16) dan Dina (16). Dalam sebuah tampah berhiaskan daun pisang berisi aneka kudapan tradisional yang unik. Ada kolombo, cucur, grontol jagung, gethuk kepyur, grontol gandum, putu mayang, cenil, oyek, dan ciwel.

Shinta mengaku, grontol gandum menjadi salah satu kudapan yang paling diminati dan paling laris diserbu para tamu undangan yang sebagian besar adalah alumni dan masyarakat disekitar sekolah.

“Jajanan yang kami sajikan laris manis, banyak yang kecewa karena persediaan jajanan yang kami  sajikan tidak banyak. Luar biasa, diluar dugaan kami, para tamu undangan berebut ingin menikmati jajanan itu,” ungkap Shinta.

Dina berharap ke depan jajanan ini tidak hanya ada saat kegiatan tertentu saja. Dia dan rekannya menginginkan panganan khas seperti ini bisa kembali muncul di pasaran.

“Saya ingin sekali jajanan pasar ini bisa kembali ada agar bisa dinikmati kapanpun,” kata Dina.

Salah satu alumni tahun 1990, Tri Rahmat Waluyo PNS di Dinas Pendidikan Purbalingga yang datang beserta istri dan anaknya mengungkapkan, jajanan ini ternyata sudah termasuk kategori langka. Sehingga perlu untuk terus dikenalkan kembali.

“Anak saya saja tidak mengenal jajanan grontol gandum ini. Kalau tidak salah saya makan terakhir waktu saya SMA, ya sekitar tahun 1980an,”ungkap Gotri panggilan akrabnya.

Para tamu undangan yang lain juga betah berlama-lama di stand milik siswa kelas XI IPS 2,  tidak hanya mencicipi tapi meminta untuk di bawa pulang ke rumah. Saking uniknya grontol gandum, kudapan ini langsung habis dalam sekejap mata.

Tapi kudapan yang lain juga tak kalah menarik dan unik yakni oyek. Oyek atau nasi yang dibuatnya dari singkong menjadi serbuan kedua para penggemar makanan tradisional. Rasanya yang gurih ditambah dengan parutan kelapa memanjakan lidah dan perut yang kian berdendang.

Sangat disayangkan apabila beragam makanan tradisional seperti ini menghilang begitu saja tanpa ada yang berkeinginan untuk melestarikannya. Jika panganan ini tetap ada beraneka kudapan ini bisa dijadikan sebagai makanan khas suatu daerah. (yoga tri cahyono).

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!