by

Hari Pers Nasional 2021. PWI Gelar Diskusi Menimbang Ulang Hari Jadi Purbalingga

-Daerah, Update-dibaca 3.84Rb kali | Dibagikan 13 Kali

Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Purbalingga menggelar diskusi dengan tema ‘Menimbang Ulang Hari Jadi Kabupaten Purbalingga’ dalam rangka Hari Pers Nasional (HPN) di Hotel Grand Braling, Selasa malam (09 Februari 2021).

Baca Juga: Proses Sejarah Hari Jadi Kabupaten Purbalingga

Baca Juga: Ketua PWI Purbalingga, Joko Santoso: Akurasi dan independensi adalah kunci, insan pers jangan pernah berhenti berjuang

Acara tersebut menghadirkan dua narasumber yaitu Budayawan yang juga pegiat maiyah Agus Sukoco dan blogger sejarah Gunanto Eko Saputro serta diikuti anggota PWI Purbalingga.

“Selama ini Hari Jadi Kabupaten Purbalinga dirayakan pada 18 Desember 1830. Kita sering mendengar ada penolakan dan upaya pelurusan terhadap penetapan tersebut. Untuk memperjelas kita berdiskusi pada malam hari ini sekaligus merupakan rangkaian acara HPN,” ujar Ketua PWI Purbalingga Joko Santoso pada pengantar diskusi.

Baca Juga: Hari Pers Nasional 2021. PWI dan Pramuka Purbalingga Bagikan Sembako

Baca Juga: PWI Purbalingga Gelar Pelatihan Jurnalistik untuk Pewarta Pramuka Purbalingga

Agus Sukoco menyebutkan diskusi tersebut merupakan peristiwa penting untuk meluruskan sejarah Hari Jadi Kabupaten Purbalingga.

“Sejarah itu ibarat pohon, akar masa silam, batang masa kini dan buah masa depan. Bagaimana kita akan menghasilkan buah yang ranum jika batang dan akar tidak tersambung dengan baik,” ujarnya.

Sementara itu, Gunanto menyebutkan penetapan Hari Jadi Kabupaten Purbalingga memang agak terasa janggal.

“Biasanya ulang tahun sebuah daerah ditetapkan pada saat berdirinya atau pada era pimpinan yang pertama tetapi 18 Desember 1830 itu adalah masa kepemimpinan bupati ketiga, Raden Tumenggung Brotosudiro, ini unik menurut saya,” ujarnya..

Berikutnya, Gunanto menambahkan dasar penetapan Hari Jadi Purbalingga yang tertuang dalam Peraturan Daerah (Perda) No. 15 Tahun 1996 juga dinilai kurang sesuai. Dasar penetapannya adalah Besluit Gouverneur General Pemerintah Kolonial Hindia Belanda No. 1 tanggal 18 Desember 1830 tentang pengambilalihan kekuasaan atas wilayah-wilayah vorsetenlanden ( bekas kasunanan Surakarta dan kesultanan Yogyakarta) kepada Belanda, salah satunya Kabupaten Purbalingga, pasca berakhirnya Perang Diponegoro.

Baca Juga:  Budi Setiawan Ketua KONI 2018-2022

“Secara tidak langsung, hal itu merupakan tanda dimulainya penguasaan kolonial terhadap Kabupaten Purbalingga. Jadi, selama ini secara tidak langsung kita merayakan resminya Kabupaten Purbalingga dibawah penguasaan kolonial Belanda,” ujarnya.

Padahal, lanjut Gunanto, kalau merujuk kepada catatan sejarah, Purbalingga bisa saja menetapkan hari jadi yang lebih pas. Misal, babad-babad Purbalingga menjelaskan dengan gamblang Purbalingga didirikan oleh ayah – anak, Ki Arsantaka dan Ki Arsayuda yang memisahkan diri dari Banyumas dan mendirikan Purbalingga.

“Menurut catatan Babad Purbalingga dan tercatat di Kantor Kesantanan Sidikoro, Baluwerti, Keraton Surakarta, peristiwa itu terjadi pada Hari Senin Legi, 26 Selo, Tahun Ehe 1684 (tahun jawa) atau 23 Juli 1759. Saat itu dibangunlah alun-alun dan rumah kadipaten serta segala sesuatunya yang berkaitan dengan pusat pemerintahan,” ujarnya.

Saat itu lahirlah Purbalingga dengan adipati / bupati pertama adalah Ki Arsayuda, putera Ki Arsantaka. Ia bergelar Raden Tumenggung Dipayuda III, memerintah tahun 1759-1787. Dipayuda III kemudian dilanjutkan oleh anaknya, Dipakusuma I sebagai adipati kedua (1792-1811) didampingi adiknya Raden Kertosono sebagai Patih Purbalingga. Dipakusuma I kemudian digantikan anak sulungnya Danakusuma yang kemudian bergelar Raden Mas Tumenggung Bratasudira sebagai bupati ketiga yang memerintah tahun 1811-1831.

“Susunan para pemimpin Purbalingga dari Tumenggung Dipayuda III sebagai bupati pertama itu ada di situs pemkab, ada di buku babad Purbalingga, ada di wikipedia, di pendopo kabupaten ada silsilah dan gambar-gambarnya,” katanya.

Dengan demikian, ujar Gunanto, Hari Jadi Purbalingga perlu ditimbang ulang.

“Menurut saya, 23 Juli 1759, saat Ki Arsantaka dan puteranya babat alas mendirikan Purbalingga lebih tepat dijadikan sebagai Hari Jadi Kabupaten Purbalingga. Kota kita seharusnya, 71 tahun lebih tua. Jadi, tahun 2020 lalu, Bumi Perwira seharusnya merayakan hari jadi yang ke 261 bukan ke 190,” ujarnya.

Baca Juga:  Pasar dan Toko di Karawang Dibatasi Waktu Buka Hingga Pukul Lima Sore  

Lebih lanjut, jika menggunakan referensi sejarah lain, yaitu Babad Wirasaba, Kabupaten Purbalingga bisa jauh lebih tua. Sumber ini menjelaskan adanya Peristiwa ‘Mrapat’ Kadipaten Wirasaba yang dijadikan dasar hari jadi kabupaten tetangga, Banyumas dan Banjarnegara.

“Jika Banyumas dan Banjarnegara menjadikan Peristiwa Mrapat sebagai dasar hari jadi, rasanya Purbalingga juga sangat berhak karena Wirasaba sekarang ada di kabupaten kita,” ujarnya.

Sebagai informasi, Banyumas dan Banjarnegara menetapkan hari jadinya hampir bersamaan, hanya terpaut 4 hari. Banyumas pada 22 Februari 1571, sementara Banjarnegara pada 26 Februari 1571. Tahun 2021, kedua kabupaten itu akan sama-sama berusia 450 tahun yang mendasarkan pada peristiwa ‘mrapat’-nya Kadipaten Wirasaba.

Uniknya, kedua kabupaten itu juga pernah merevisi hari jadinya. Kabupaten Banyumas, mengubah hari jadinya dari 6 April 1582 menjadi 22 Februari 1571 setelah melakukan kajian sejarah yang kemudian dituangkan dalam Perda Nomor 10 Tahun 2015 tentang Hari Jadi Kabupaten Banyumas. Sementara, Kabupaten Banjarnegara malah baru tahun 2019 lalu mengubah hari jadinya dari 22 Agustus 1831 menjadi 26 Februari 1571. Sebelumnya, kabupaten yang dikenal dengan dawet ayunya itu sama dengan Purbalingga, mendasarkan ulang tahun pada Besluit Gouverneur General Pemerintah Kolonial Belanda.

Sebagai langkah awal untuk menakar ulang hari jadi Kabupaten Purbalingga, Agus Sukoco menambahkan harus dibentuk tim kajian.

“Ibu Bupati Dyah Hayuning Pratiwi sudah memberikan lampu hijau akan hal ini. Semoga segera ada kajian menyeluruh dan komprehensif untuk meluruskan hari jadi kabupaten kita,” katanya.

 

 

 

Comment

Berita Lainnya