Harapan ”Anak Pelosok” – Oleh: Wiwik Dwi Handayani, S.Pd

By: On: Dibaca: 22,960x
Harapan ”Anak Pelosok” – Oleh: Wiwik Dwi Handayani, S.Pd

Perjalanan tak pernah berhenti untuk mewujudkan suatu impian yang ada di angan-angan. Impian itu mungkin kurang berarti bagi sebagian orang tapi sangat berarti bagi sebagian yang lain. Mewujudkan mimpi untuk menjadikan anak-anak desa terpencil dan terpelosok agar terangkat derajatnya lewat pendidikan formal yang lebih baik. Angan-angan terhadap pendidikan yang mereka harapkan tidaklah terlalu tinggi atau berlebihan, karena mereka hanya berharap dapat membaca, menulis dan bersekolah. Cita-cita sederhana tapi sangat berharga bagi mereka jika kita dapat ikut diwujudkan.

Kesederhanaan mereka dapat dilihat dari kehidupan sehari-hari yang dijalaninya. Sekilas kehidupan mereka di setiap pagi terbangun untuk beribadah, anak-anak usia sekolah sudah harus ikut membantu orang tua mengerjakan pekerjaan yang mereka bisa dan secara tidak langsung dipaksakan untuk bisa karena keadaan. Berangkat sekolah dilakukan setelah membantu orang tua selesai dikerjakan dan dari rutinitas itu mereka belajar mengatur waktu agar tidak terlambat ke sekolah. Usia anak-anak yang biasanya digunakan untuk bermain, bersenang-senang bersama teman sebaya harus mereka ikhlaskan untuk menjadi dewasa di atas usianya.

Anak-anak usia dini sangat memerlukan pendidikan dasar yaitu pendidikan akhlak dan pendidikan secara langsung yang di contohkan oleh orang tua serta lingkungan mereka. Pendidikan dasar ini akan membentuk karakter anak-anak yang mempunyai kesantunan, saling menghargai dan menghormati satu sama lain andaikan lingkungan sekitarnya mendukung untuk mewujudkannya. Kuatnya akhlak yang terbentuk akan menjadikan anak lebih tanggap terhadap keadaan, mandiri menghadapi berbagai kondisi kehidupan yang harus mereka jalani kelak. Terwujudnya harapan mereka sebagai anak-anak desa terpencil dan terpelosok ini tentunya membutuhkan waktu yang tidak singkat, persiapan yang tidak mudah serta tidak sesederhana seperti yang mereka bayangkan.

Kesederhanaan cara berpikir membuat anak-anak ini hampir tidak pernah mengeluh, karena pendidikan yang didapat dari orang tua tidak mengajarkan banyak tuntutan. Harapan mereka hanya ingin menuntut ilmu dengan baik dan dapat melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi andai dapat diwujudkan. Kesadaran akan pentingnya pendidikan sudah dibentuk oleh orang tua dengan nasihat-nasihat sederhana yang setiap hari dan setiap waktu mereka dapatkan. Nasihat-nasihat inilah yang merasuk ke jiwa dan terpatri di alam bawah sadar mereka, bahwasanya pendidikan sangat penting untuk memperbaiki keadaan dan kehidupan.

Sekolah yang diharapkan oleh anak-anak daerah terpencil dan terpelosok tidaklah seperti sekolah-sekolah modern yang tentunya jauh dari bayangan mereka. Pembangunan dan kemajuan sekolah di luar daerah terpencil dan terpelosok sangat memungkinkan untuk berkembang dengan pesat karena adanya dukungan sarana dan prasarana yang memadai. Tehnologi-tehnologi canggih yang mendukung dalam metode pembelajarannya sungguh tidak pernah anak-anak pelosok bayangkan. Fasilitas-fasilitas tersebut masih terlalu tinggi dan belum ada di angan-angan mereka.

Fasilitas sekolah yang apa adanya membuat anak-anak desa terpelosok terpaksa harus bermain dan membaca dengan fasilitas buku, alat-alat olah raga, dan perpustakaan seadanya. Fasilitas ini mereka manfaatkan untuk menambah pengetahuan tentang hal-hal yang tidak diajarkan dalam materi pembelajaran. Kesederhanaan fasilitas ini tidak membuat mereka mengendorkan niatnya untuk tetap semangat belajar demi meraih masa depan yang lebih baik. Semangat yang luar biasa muncul dari dalam hati mereka meskipun jarak yang harus ditempuh tidaklah dekat. Jalan kaki ketika berangkat maupun pulang sekolah sudah menjadi kebiasaan, bahkan ada yang harus menyeberang sungai karena mencari jalan pintas agar cepat sampai di sekolah. Uang saku tidak didapatkan, hanya bekal makanan dan minuman seadanya yang disiapkan sendiri itu sudah lebih dari cukup bagi mereka untuk dibawa ke sekolah.

Semangat anak-anak daerah terpencil dan terpelosok tidak terlepas dari semangat berjuang tenaga pengajarnya. Pengajar atau guru yang mengajar disana tidaklah banyak karena hanya yang ikhlas berjuang untuk kemajuan anak-anak pelosok saja yang akan bertahan untuk memberikan ilmunya. Setiap tahun memang pemerintah mengadakan pemerataan tenaga pengajar hingga daerah-daerah pelosok, namun kenyataannya masih banyak sekolah-sekolah pelosok yang kekurangan tenaga pengajar. Kekurangan tenaga pengajar ini tidak lepas dari minimnya fasilitas sarana dan prasarana menuju sekolah, itulah salah satu alasan kenapa tidak banyak tenaga pengajar yang mau bertahan.

Tenaga pengajar di sekolah pelosok belum tentu berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS), tidak jarang mereka masih berstatus Guru Tidak Tetap (GTT). Keikhlasan yang sangat luar biasa mereka berikan kepada anak-anak didik mereka di daerah pelosok negeri, meskipun jalan yang mereka tempuh tidak dapat dikatakan layak untuk dilalui. Jarak jauh dengan akses jalan yang buruk mereka tempuh untuk mengabdikan diri menjadi tenaga pengajar di sekolah pelosok ini. Belajar dari keadaan dan semangat anak-anak inilah yang seringkali membuat hati mereka tersentuh sehingga ikhlas untuk tetap bertahan menjadi tenaga pengajar di sekolah-sekolah tersebut.

Tenaga pengajar atau guru didaerah terpencil dan terpelosok tidak hanya menghadapi kesulitan dalam hal akses jalan, akan tetapi kreatifitas dalam mengajar juga menjadi tuntutan lain bagi mereka. Ketika ada rekan guru yang tidak hadir, guru yang ada dengan sendirinya akan menggantikan mengajar beberapa kelas dengan tingkatan berbeda (kelas 1-6) dalam waktu yang sama. Kreatifitas mengajar inilah yang mau tidak mau harus siap dimiliki tenaga pengajar di daerah pelosok. Perjuangan tanpa tanda jasa yang benar-benar mereka contohkan tidaklah dapat dihitung dengan hitungan angka. Penulis adalah guru SMP Negeri 1 Kutasari, mengampu mata pelajaran Prakarya, pernah menempuh program S1-Tata Busana di UNNES Semarang

 

 

 

 

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!