Menu
Media Online Terpercaya

Hanya Dua SMA di Jawa Tengah yang Boleh Lakukan Sekolah Virtual

  • Share
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo

SMA Negeri 3 Brebes dan SMA Ngeri 1 Kemusu Boyolali telah melaksanakan Program Sekolah Virtual (PSV) yang diiniasi Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.  Teknisnya, pembelajaran virtual sebanyak 70 persen, dan sisanya  pembelajaran tatap muka.

Kepala Bidang Pembinaan SMA Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Syamsudin Isnaini menuturkan, sementara ini sekolah virtual masih sebatas dilakukan di Brebes dan Boyolali sampai pada penghabisan tahun ajaran 2020/2021. Dengan demikian, sekolah virtual belum bisa dibuka di sekolah lain lagi sampai pada tahun ajaran baru berikutnya.

“Di tengah jalan buka sekolah lagi, kan enggak bisa. Nanti bila ada PPDB lagi, kebijakannya mau berapa, kan. Nanti akan dikaji, sekolah virtual telah diikuti 72 siswa. Atau masing-masing sekolah diikuti 36 siswa. Sejauh ini, siswa dari keluarga kurang mampu merasa terbantu dengan sekolah virtual,” katanya.

Ia menjelaskan, sekolah virtual diutamakan untuk anak didik dari keluarga kurang mampu. Program ini akan sangat bermanfaat. Jadi memang anak-anak yang kemarin tidak ada harapan untuk masuk sekolah dan di sekolah negeri.

“Angka anak tidak sekolah karena permasalahan biaya, tercatat di Jawa Tengah mencapai sekitar 45 ribu. Dengan adanya kelas virtual itu sama saja sudah membantu anak-anak tersebut tetap bisa meneruskan sekolahnya,” tuturnya.

Meski demikian lanjutnya, tidak hanya sekolah virtual yang menjadi satu-satunya program mengurangi angka putus sekolah. Tapi juga ada peran sekolah swasta.

“Sekolah swasta mau memfasilitasi meringankan beban anak sekolah,” tuturnya.

Ia menambahkan, pembelajaran tatap muka dilakukan untuk mengumpulkan siswa kelas virtual. Seperti halnya saat pertemuan awal, siswa kelas virtual dikumpulkan dulu agar mendapatkan penjelasan. Misalnya, soal penjelasan buku modul dan hal terkait lain pada kelas virtual.

Maksimal nanti hanya 30 persen saja yang tatap muka. Lainnya, dengan cara sekolah virtual. Nanti pada saat akan kenaikan kelas atau ujian, juga akan ketemu lagi,”ungkapnya.

Soal pembelajaran lanjunya, menggunakan metode tatap muka yang dapat dilakukan 30 persen di kelas virtual, kata dia, diarahkan untuk pengenalan lingkungan, metode pembelajaran,  bimbingan konseling, tugas laboratorium, dan lainnya.

“Karena sifatnya memang harus dilaksanakan secara tatap muka. Dalam artian, kelas virtual tetap pada konsep awal dengan pembelajaran berbasis IT,”ungkapnya.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *