by

Hadirkan 5 Saksi, Lanjutan Sidang PK Ba’asyir Dijaga Ketat 1.600 Aparat Polri dan TNI

-kriminal-dibaca 106.99Rb kali | Dibagikan 18 Kali

Lanjutan Sidang PK Baasyir

CILACAP – Lanjutan sidang peninjauan kembali (PK) yang diajukan terpidana kasus terorisme Abu Bakar Ba’asyir di Pengadilan Negeri (PN) Cilacap, Selasa (26/1), dijaga ketat aparat. Bahkan, Polres Cilacap meningkatkan pengamanan sidang.

Pengamanan sidang sudah terlihat sejak pukul 05.30 WIB di PN Cilacap, ratusan aparat kepolisian dan TNI sudah bersiap melakukan apel pengamanan.

Di sepanjang Jalan Letjen Soeprapto atau depan PN Cilacap sudan disterilkan sejak malam, tiga kendaraan water canon juga sudah bersiaga di ujung jalan tersebut. Sedangkan satu kendaraan barracuda yang akan digunakan untuk menjemput dan mengantar Abu Bakar Ba’asyir dan para saksi dari LP Nusakambangan juga sudah disiapkan di halaman PN Cilacap.

Semua orang yang akan memasuki halaman PN Cilacap harus melalui pemeriksaan yang sangat ketat, mulai dari alat metal detector hingga pemeriksaan badan dan tas. Di halaman terlihat dua tenda untuk para simpatisan Abu Bakar Ba’asyir serta disiapkan pula tenda untuk tempat salat, karena pada sidang kali ini akan berlangsung hingga sore hari.

Setelah melalui halaman PN, pemeriksaan kembali dilakukan saat memasuki PN Cilacap, kembali semua orang melalui pemeriksaan badan dan metal detector.

Tidak hanya sampai di situ, semua orang yang akan memasuki ruang sidang pengadilan untuk mengikuti jalannya sidang juga harus melalui tahapan yang sama. Pengamanan berlapis ini dilakukan untuk kenyamanan jalannya sidang.

Pada sidang PK kali ini, pihak kepolisian menerjunkan sebanyak 1.600 personel Polri dari Polda Jateng dibantu TNI.

Agenda sidang yakni mendengarkan keterangan 5 orang saksi, di antaranya Rizieq Shihab dari FPI dan anggota Presidium MER-C Joserizal Jurnalis. Selain keduanya, juga akan dihadirkan tiga terpidana teroris yang kini masih berada di Lapas Nusakambangan, yakni Abdullah Sonata, Komarudin alias Abu Yusuf alias Mustakim, dan Joko Sulistyo.

Di sejumlah ruas jalan maupun gang di sekitar PN Cilacap bahkan dijaga anggota Polri dan TNI menjelang pelaksanaan sidang.

Puluhan anggota Polri yang berjaga di ujung timur dan barat Jalan Letjen Soeprapto, beberapa di antaranya menyandang senjata laras panjang.

Hal ini berbeda dengan saat pelaksanaan sidang sebelumnya yang digelar pada Selasa, 12 Januari 2016 lalu.

Selain itu, pemeriksaan terhadap pengunjung sidang, khususnya yang datang dari arah timur dilakukan hingga empat lapis, yakni di dekat perlintasan kereta api sebelah timur PN Cilacap, di depan PN Cilacap, pintu gerbang halaman PN Cilacap, dan pintu masuk gedung PN Cilacap.

Pemeriksaan tersebut tidak hanya dilakukan terhadap pengunjung sidang, tetapi juga pegawai PN Cilacap dan wartawan yang meliput jalanannya sidang PK tersebut.

Pada sidang sebelumnya, pemeriksaan terhadap pengunjung beserta barang bawaannya hanya dilakukan di pintu masuk halaman PN Cilacap dan pintu masuk gedung PN Cilacap.

Sementara di sepanjang pagar depan PN Cilacap pada sidang kali ini juga dijaga oleh puluhan personel Polres Cilacap.

Kapolres Cilacap AKBP Ulung Sampurna Jaya mengatakan, pihaknya mendapat tambahan personel dari Sat Brimob Polda Jateng, Direktorat Pengamanan Objek Vital Polda Jateng, dan Dalmas Polda Jateng, serta TNI. Sehingga secara keseluruhan, jumlah personel yang teribat dalam pengamanan sidang mencapai 1.600 orang.

“Kita tidak main-main dalam pengamanan kali ini. Ada yang berani coba-coba, langsung kami

ambil tindakan. Kita tidak mau ambil risiko sekecil apapun,” katanya, seraya menjelaskan bahwa pengamanan yang dilakukan tetap sesuai dengan standar operasional prosedur Kepolisian Republik Indonesia.

Pihaknya juga telah melakukan sterilisasi di seluruh bagian gedung PN Cilacap pada Senin (25/1) malam, yang dilanjutkan dengan penjagaan oleh satu peleton Brimob.

Tiga saksi beserta Abu Bakar Ba”syir telah tiba di PN Cilacap pada pukul 08.00 WIB dan langsung dibawa menuju ruang tahanan untuk menunggu persidangan yang dijadwalkan digelar mulai pukul 09.00 WIB.

Sementara dua orang saksi lainnya. yakni Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab dan Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia dr. Joserizal Jurnalis hingga pukul 08.55 WIB belum terlihat memasuki gedung PN Cilacap meski mereka telah berada di Cilacap.

Dalam persidangan, tim jaksa penuntut umum dari Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan keberatan atas peninjauan kembali (PK) yang diajukan Abu Bakar Ba’asyir dan disidangkan di Pengadilan Negeri Cilacap.

Keberatan tersebut disampaikan tim jaksa yang diketuai Anita Dewayana kepada majelis hakim yang diketuai Nyoto Hindaryanto serta beranggotakan Zulkarnaen dan Akhmad Budiman saat membacakan tanggapan atas memori PK Ba’asyir dalam sidang lanjutan di Ruang Wijayakusuma, PN Cilacap.

“Pengajuan PK harus dilakukan sendiri oleh pemohon. Pengajuan PK oleh penasihat hukum pemohon tidak bisa dilanjutkan ke MA (Mahkamah Agung),” kata Anita.

Dikatakan, PK diajukan oleh penasihat hukum di PN Jakarta Selatan tanpa dihadiri pemohon, yakni Ba’asyir.

Menurut dia, alasan penasihat hukum yang tidak bisa menghadirkan pemohon saat pengajuan PK karena sakit-sakitan dan sudah sepuh merupakan alasan subjektif tanpa disertai keterangan kepala lembaga pemasyarakatan atau tim medis.

Untuk itu, PK tidak harus diteruskan oleh PN Jakarta Selatan selaku pengadilan tingkat pertama.

Selain itu, jaksa juga mempertanyakan pendelegasian sidang atau pemeriksaan atas memori PK Ba’asyir dari PN Jakarta Selatan kepada PN Cilacap.

Jaksa juga menilai kuitansi sumbangan dari Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) ke Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dan Habib Rizieq (Front Pembela Islam) yang diajukan penasihat hukum bukan suatu yang baru.

Ketua Tim Penasihat Hukum Ba’asyir, Mahendradatta pun mengatakan, mempertanyakan sebutan Kejari Jakarta Selatan selaku termohon PK yang berulang kali disebutkan jaksa.

Menurut dia, dalam hukum acara pidana tidak ada istilah termohon PK, hanya ada pemohon PK.

“Kami tidak pernah mengajukan PK ke Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan,” katanya.

Terkait pertanyaan tersebut, jaksa Anita mengatakan bahwa sebutan termohon PK berawal dari perintah majelis hakim PN Jakarta Selatan yang memerintahkan Kejari Jakarta Selatan selaku termohon PK untuk menghadirkan pemohon PK.

Selain mendengarkan tanggapan jaksa atas memori PK Ba’asyir, dalam sidang lanjutan tersebut juga diisi dengan pemeriksaan saksi.

Penasihat hukum Ba’asyir mengajukan lima orang saksi, tiga orang di antaranya merupakan terpidana kasus terorisme yang menghuni sejumlah lapas di Pulau Nusakambangan, Cilacap, yakni Abdullah Sonata alias Arman Kristianto, Komaruddin alias Abu Musa alias Mustakim alias Abu Yusuf alias Hafshoh, dan Joko Sulistyo alias Mahfud alias Zainudin.

Sementara dua orang saksi lainnya terdiri atas Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab dan Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia dr. Joserizal Jurnalis.

Sementara itu, tiga terpidana kasus terorisme yang diajukan sebagai saksi dalam sidang peninjauan kembali (PK) kasus Abu Bakar Ba’asyir menyatakan bahwa pemimpin Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) itu tidak terlibat dalam pelatihan militer di Aceh.

“Tidak pernah dikaitkan dengan beliau (Ba’asyir),” kata saksi Komaruddin alias Abu Musa alias Mustakim alias Abu Yusuf alias Hafshoh saat memberi kesaksian.

Lebih lanjut, Komaruddin mengaku ditunjuk sebagai koordinator latihan militer di Pegunungan Janto, Aceh oleh almarhum Dulmatin.

Bahkan, kata dia, Dulmatin sama sekali tidak pernah menyebut nama Abu Bakar Ba’asyir terlibat dalam pelatihan militer itu.

Sehingga yang memerintah atau perencana latihan militer adalah Dulmatin, bukan Ba’asyir.

“Setahu saya, status beliau (Ba’asyir) dimintai sumbangan, bukan sengaja menyumbang. Setahu saya, beliau selalu menyumbang untuk kegiatan kemanusiaan dan pesantren,” kata terpidana kasus pelatihan militer di Aceh yang divonis 10 tahun penjara itu.

Dia mengakui pernah diajukan sebagai saksi saat sidang Ba’asyir di PN Jakarta Selatan, namun saat itu kesaksian tersebut disampaikan melalui teleconference dari Markas Polda Metro Jaya.

Menurut dia, pelatihan militer di Aceh sama sekali tidak ditujukan untuk menyerang kepolisian ataupun menggulingkan negara, melainkan untuk menjaga diri terhadap kemungkinan adanya serangan, seperti pembantaian terhadap umat Islam di Poso dan Maluku.

“Warga sekitar juga tidak merasa terteror. Bahkan, saat kami dikepung aparat, kami diberi makan oleh warga,” katanya.

Namun, dia mengaku pernah berkirim surat untuk minta dukungan doa kepada Ba’asyir pascapengepungan lokasi latihan militer oleh Densus 88 Antiteror.

Surat tersebut dititipkan kepada salah seorang peserta latihan yang hendak pulang ke Solo, Jateng.

Akan tetapi, dia mengaku tidak tahu apakah surat tersebut sampai atau tidak ke tangan Ba’asyir.

“Saya tulis surat kepada beliau karena beliau sudah sepuh dengan harapan doanya di-ijabah oleh Allah SWT,” ungkapnya.

Saksi lainnya, Abdullah Sonata alias Arman Kristianto juga mengatakan bahwa Ba’asyir tidak terlibat dalam latihan militer di Aceh.

Bahkan saat bertemu dengan pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Aceh, nama Ba’asyir juga tidak pernah disebut-sebut terkait dengan pelatihan tersebut.

“Tidak pernah disebut-sebut,” kata dia yang divonis 10 tahun penjara karena terbukti sebagai pemasok senjata untuk pelatihan militer di Aceh itu.

Sementara saksi Joko Sulistyo alias Mahfud mengaku sebagai orang kedua setelah Komaruddin alias Abu Yusuf dalam pelatihan militer di Aceh.

Menurut dia, kegiatan di Aceh tidak direncanakan untuk menggulingkan negara.

“Orientasinya lebih ke Palestina,” kata dia yang divonis 14 tahun penjara itu.

Sama seperti dua saksi lainnya, Joko juga mengatakan bahwa Ba’asyir tidak terlibat dalam latihan militer di Aceh.

Jaksa penuntut umum dari Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan langsung menolak keterangan yang disampaikan tiga saksi tersebut, dan mengatakan bahwa keterangan saksi tidak bisa dijadikan bukti baru atau novum.

“Keterangan saksi tidak bisa memberikan fakta baru karena telah disampaikan di pengadilan tingkat pertama, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan,” katanya.

Usai mendengarkan keterangan dari tiga saksi itu, sidang diskors untuk salat Dhuhur dan makan siang.

Hingga berita ini ditulis pukul 16.30, sidang PK Ba’asyir sedang mendengarkan keterangan saksi dari Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia, dr. Joserizal Jurnalis. (estanto)

Comment

Berita Lainnya