Guru Penjaskes Sebagai Penyemai Bibit Atlet – Oleh Amir Arifin, S.Pd

By: On: Dibaca: 255,357x
Guru Penjaskes Sebagai Penyemai Bibit Atlet – Oleh Amir Arifin, S.Pd
ilustrasi

Pemerintah propinsidi Jawa Tengah setiap tahun menyelenggarakan Pekan Olahraga (POR) di tingkat pendidikan dasar dan menengah untuk mencari bibit atlet belia. Melalui even POR yang diikuti oleh siswa  SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/SMK sesuai jenjang masing-masing diharapkanmelahirkan atlet yang berprestasi, baik di tingkat provinsi maupun  nasional. Hal ini seperti yang diungkapkan Gubernur Jawa Tengah pada setiap pembukaan POR tingkat Propinsi, bahwa POR merupakan media mencari bibit-bibir atlet yang mempunyai prestasi. Kegiatan itu merupakan salah satu format yang tepat berkaitan dengan pembinaan atlet.

POR di tingkat kabupaten/kota juga sebagai persiapan menghadapi pertandingan tingkat provinsi di samping mengadakan pusat pelatihan (training centre) pasca POR digelar. Dengan demikian diharapkan dukungan semua pihak untuk menyukseskan program pencarian bibit atlet, utamanya atlet di cabang olahraga unggulan seperti pencak silat, atletik, panahan, senam, dan renang.

 

Sekolah Sebagai Penghasil Bibit Atlet

Tujuan Pendidikan Jasmani di sekolah SD/MI, SMP/MTs,dan SMA/SMK memang berbeda dengan olahraga prestasi. Ada 4 Aspek yang membedakan Pendidikan Jasmani dengan Olahraga, antara lain :

  1. Tujuan Pendidikan Jasmani menyangkut pengembangan seluruh pribadi anak didik, sedangkan Olahraga bertujuan prestasi setinggi tingginya dan memenangkan setiap pertandingan
  2. Pembelajaran Pendidikan Jasmani di sesuaikan dengan tingkat kemampuan anak didik, sedang pada Olahraga,belajaran/latihan merupakan target yang harus di capai
  3. Orientasi pembelajaran pada Pendidikan Jasmani berpusat pada anak didik, artinya anak didik yang belum mampu mencapai tujuan di beri kesempatan lagi, sedang pada Olahraga prestasi atlet yang tidak mencapai tujuan di ganti atlet lain.
  4. Sifat Pendidikan Jasmani pada pemandu bakat di pakai untuk mengetahui entry behavior, sedang pada Olahraga bertujuan memilih atlet berbakat.

 

Sebenarnya Pendidikan Jasmani dan Olahraga tak dapat di pisah, meskipun berbeda istilah dan arti tetapi mempunyai tujuan yang saling melengkapi. Hal ini dapat dilihat pada latar belakang peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan (permendikbud) no. 22 tahun 2006, yaitu : PJOK merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan.

Sekolah sebagai penyelenggara pendidikan formal memiliki fasilitas dan program pendidikan yang berkait dengan keolahragaan. Sekolah memberikan ruang dan kesempatan yang seluas luasnya bagi siswanya yang berprestasi untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya dengan kegiatan ekstrakurikuler. Guru Pendidikan Jasmani dan Kesehatan di samping sebagai pendidik juga di harapkan menjadi pemandu bakat dan pelatih yang handal dalam rangka menemukan bibit atlet potensial sekaligus membina atlet menjadi atlet profesional.

Seorang pelatih Olahraga profesional di tuntut untuk dapat mamahami teori dan metodologi latihan serta ilmu pendukung diantaranya : kesehatan olahraga, anatomi, fisiologi, statistik, biomekanika, tes pengukuran, psikologi, sosiologi, belajar gerak dan ilmu gizi. Sedangkan ilmu tersebut semua di dapatkan oleh seluruh guru Penjaskes semasa kuliah. Jadi tak ada lagi yang meragukan “Guru Penjaskes sebagaiPenyemai Bibit atlet”

Yang terbaru adalah Lalu Muhammad Zohri, salah satu atlet kebanggaan bangsa ini yang baru saja menjadi juara dunia lari cepat 100 meter U20 di Tampere Finlandia. Dia adalah salah satu contoh dari ribuan atlet yang bakatnya di temukan oleh guru Penjaskes di sekolahnya. Dengan keterbatasan sarana dan prasarana di sekolah bukan menjadi alasan untuk tetap berprestasi, sampai akhirnya masuk Pusat Pembinaan dan Pelatihan Pelajar (PPLP) Mataram dan menjadi seperti sekarang ini.

Pendidikan Jasmani termasuk satu diantaranya  dalam usaha menyiapkan sumber daya manusia yang mandiri dan cerdas dalam memecahkan dan menyelesaikan problema kehidupan, di masa kini dan di masa yang akan datang.Pendidikan dalam makna yang luas juga dapat berarti segala sesuatu yang berlangsung sepanjang hidup yang dialami, dilihat, dan diapresiasi oleh seseorang yang memiliki dampak atau pengaruh terhadap individu dan lingkungan. Pendidikan mampu menjadi investasi sosial bagi seseorang. Menjadi investasi besar bagi sebuah kemajuan bangsa.

Pendidikan sebagai investasi besar memiliki nilai strategis. Apabila pendidikan  sebuah bangsa berhasil, maka masa depan bangsa akan bagus.Sebaliknya, bila pendidikan gagal, maka suatu bangsa akan mengalami kemunduran dan tertinggal dari bangsa lain. Agar keberhasilan pendidikan dapat tercapai maka perlu adanya totalitas dalam komitmen untuk mempersembahkan sebuah layanan pendidikan bermutu. Pendidikan bermutu lahir dari adanya sistem perencanaan dan strategi yang baik (good planning and strategic system), adanya kinerja tata kelola yang sehat, baik, dan benar (good governance system), dan tentu saja didukung unsur yang tak kalah penting, yakni pendidikan digerakkan oleh guru-guru yang baik, guru yang penuh semangat, etos pengabdian unggul, berdedikasi, dan loyal pada nilai-nilai pendidikan (good teacher).

Nilai pendidikan yang memiliki pengaruh luas dalam kehidupan di antaranya kesehatan, kemandirian, berdaya saing, berprestasi dan kejujuran. Nilai-nilai pendidikan ini terkandung dalam pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes) di tingkat Pendidikan Dasar dan di tingkat Pendidikan Menengah.Nilai-nilai tersebut ditanamkan pada siswa melalui berbagai cabang Olahraga diantaranya atletik, renang, bola voli, sepak bola dan lain sebagainya.

Dengan Pendidikan Jasmani siswa diharapkan memiliki kemampuan berolahraga, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kejujuran dari nilai sportivitas olahraga. Melalui pelajaran olahraga sangat mungkin, subjek didik memiliki potensi besar untuk menjadi atlet dan berkarir di bidang olahraga. Untuk hal ini, gurulah yang sangat mengatahui karena yang terjun langsung dan berinteraksi secara intens.

Oleh karena itu, guru Penjaskes memiliki peran penting dalam menemukan, mendidik, dan menjadikan siswa yang memiliki potensi di bidang keolahragaan untuk menjadi atlet atau berkarier di bidang olahraga. Melalui tulisan ini, diharapkan akan membuka wawasan bagi guru-guru Penjaskestidak hanya mengajar sesuai kurikulum tetapi hendaknya bisa memberikan nilai lebih, yaitu membimbing siswa berkarier dan berprestasi di bidang Olahraga. Bukan tak mungkin ketika guru-guru Penjaskes bergerak untuk menyiapkan bibit-bibit atlet, olahraga di negeri ini akan lebih maju dan dapat bersaing di tingkat internasional.

 

Amir Arifin, S.Pd

Guru PJOK SMP Negeri 2 Kaligondang Kabupaten Purbalinga

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!