Gardu Belanda, Warisan Era Tanam Paksa di Kaki Gunung Slamet

By: On: Dibaca: 15,517x
Gardu Belanda, Warisan Era Tanam Paksa di Kaki Gunung Slamet
Gardu Belanda di tepi Jalan Desa Siwarak menuju Obyek wisata Goa Lawa, (foto : cyber media_ganda kurniawan)

Wilayah Kecamatan Karangreja menyimpan jejak sejarah dari zaman Cultuurstelsel atau yang biasa disebut dengan Tanam Paksa. Terdapat dua buah bangunan atau yang lebih tepat disebut dengan gardu berdiri di tepian jalan raya di kaki Gunung Slamet ini. Satu gardu berdiri di Jl Goa Lawa, Desa Siwarak dan satunya lagi berdiri di Desa Tlahab Lor tepatnya di tepi jalan provinsi penghubung Purbalingga – Pemalang.

Menurut salah satu sesepuh di Desa Siwarak, Sunaryo (71) pada salah satu sisi gardu tersebut terdapat angka tahun 1838, namun karena aus, tulisan tersebut lambat laun pudar. Dengan demikian, gardu tersebut kini telah berusia 180 tahun.

Mengutip cerita dari ayah dari Sunaryo yakni Dana Wikarta yang juga seorang Kepala Desa Siwarak tahun 1893-1946, bahwa bangunan tersebut merupakan gardu jaga yang dibagun oleh Belanda.“Gardu tersebut merupakan gardu jaga perkebunan kopi. Dulu memang di wilayah ini banyak ditanami kopi, tidak seperti sekarang ini,” katanya kepada Tabloid Elemen.

Bahkan dulu juga sempat di salah satu wilayah Desa Siwarak tengah disediakan lagi lahan khusus kebun kopi yang dinamakan dengan Koffie Centraal atau Sentra Kopi sekira tahun 1940-an atau satu setengah dekade setelah era Tanam Paksa. Kawasan perkebunan kopi tersebut batal terealisasi dengan sempurna.

“Saat itu Jepang datang, sehingga Koffie Centraal atau yang orang sini menyebutnya sebagai Kopi Santri yang digagas orang Belanda itu batal terwujud,” jelasnya.

Sementara itu menurut Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Purbalingga Sri Kuncoro, Gardu Belanda baik yang ada di Siwarak maupun Tlahab Lor tengah dalam kajian TACB untuk kemudian direkomendasikan ke bupati untuk dibuatkan Surat Keputusan (SK). Sejauh ini kedua gardu tersebut telah didaftarkan sebagai cagar budaya dengan No 11-03/Pub/34/TB/09 untuk gardu di Siwarak dan 11-03/Pub/33/TB/09 untuk gardu di Tlahab Lor.

“Sehingga kedua gardu tersebut sudah dilindungi oleh Undang Undang No 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Bagi yang merusaknya dengan sengaja bisa dikenakan sanksi hukum,” tegasnya.


Kasi Cagar Budaya, Dindikbud Purbalingga, Rien Anggraeni sedang meninjau Gardu Belanda di Tlahab Lor. (foto : cyber media_ganda kurniawan)

Mengenai sejarah gardu tersebut, Sri Kuncoro dalam kajiannya bersama TACB membenarkan bahwa bangunan tersebut merupakan gardu perkebunan kopi di Karangreja. Mengenai fungsinya, pada yakni digunakan sebagai shelter atau juga tempat penimbangan hasil panen.

“Mencermati angka tahun 1838 pada gardu tersebut, sudah dipastikan dibangun pada masa pemerintahan gubernur Jenderal Van Den Bosch dalam kebijakan Cultuurstelsel (1830-1870). Sehingga papan keterangan yang ada disitu tidak tepat lagi dengan tertulis ‘Gardu VOC’ sebab tahun tersebut sudah masuk ke pemerintahan Hindia-Belanda,” kata bapak yang juga menjabat sebagai Plt Skretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Purbalingga ini.

Ia menjelaskan, ciri khas zaman Cultuurstelsel  atau tanam paksa ini adalah agar desa-desa wajib menanam sebagian lahannya dengan tanaman yang diperlukan oleh pasar dunia, yakni kopi, gula (tebu), indigo (nila), tembakau, teh, lada dan kayumanis. Komoditas tersebut harus disetorkan kepada pemerintah sebagai pembayaran pajak atas tanah (landrent).

“Sementara itu wilayah Karangreja secara topografis yang dekat dengan gunung dan suplai air tidak banyak sangat cocok untuk ditanami kopi. Berbeda dengan dataran rendah yang memiliki banyak suplai air cenderung ditanami komoditas tebu,” paparnya.

Kondisi gardu tersebut cukup memprihatinkan, terutama untuk gardu di Tlahab Lor. Pondasi  bangunannya sudah terbenam tanah karena faktor peninggian jalan serta coretan vandalisme. Sementara itu, Kepala Seksi Cagar Budaya, Museum dan Kepurbakalaan Dindikbud Purbalingga, Rien Anggraeni mengatakan tahun 2018 ini gardu Tlahab Lor ini akan  dilakukan revitalisasi.

“Sebenarnya kami sudah menunjuk juru pelihara untuk gardu-gardu tersebut dan diberi honor, seharusnya itu menjadi tanggungjawab mereka untuk memelihara. Khusus gardu di Tlahab Lor, tahun ini akan direvitalisasi dengan pembersihan agar tidak terurug tanah lagi serta pengecatan ulang,” katanya. (Ganda Kurniawan)

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!